Jakarta, ElrolumNews – Jagat maya kembali dihebohkan dengan kontroversi kuliner yang melibatkan ajang bergengsi MasterChef. Seorang kontestan yang membawa nama Malaysia dalam kompetisi MasterChef: Global Gauntlet musim ke-16 menuai kritik pedas setelah video caranya membuat roti canai viral di media sosial.
Jaime Tan, kontestan berusia 27 tahun kelahiran Malaysia yang kini tinggal di Amerika Serikat, berhasil memenangkan tantangan “World Cup Cookoff” dengan hidangan roti canai yang disajikan bersama kari kelapa Malaysia (coconut curry), nasi kelapa, dan salad timun-nanas . Namun, kemenangannya justru tenggelam oleh polemik cara pembuatan dan pengucapan nama hidangan tersebut .
Dalam video yang beredar luas di media sosial, Tan terlihat menggunakan rolling pin (penggiling adonan) untuk meratakan adonan roti canai menjadi bentuk lingkaran . Metode ini langsung menuai kecaman dari warganet yang menganggapnya sebagai penyimpangan dari cara tradisional.
Seorang netizen dengan akun Smartdory, seorang food blogger, melontarkan kritik tajam. “ALL the mamak uncles in Malaysia are rolling their eyes so far back into their heads that a dense flour tortilla could be easily passed off as our beloved roti canai right now” (Semua paman mamak di Malaysia pasti memutar bola mata mereka sampai ke belakang kepala, sehingga roti canai yang padat seperti tortilla bisa dengan mudah dianggap sebagai roti canai kesayangan kita) .
“Penggunaan rolling pin adalah kejahatan kuliner total. Membuat roti canai adalah bentuk seni yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk mengistirahatkan adonan, membalik, dan meregangkannya untuk menciptakan lapisan ikonik, renyah, dan berongga. Tidak ada jalan pintas” , tulisnya .
Netizen lain menambahkan, “Menekan adonan hingga pipih dengan penggiling dan memasaknya terburu-buru selama satu jam benar-benar menghilangkan esensi hidangan tersebut, dan yang tersisa hanyalah adonan pancake gosong yang kenyal” .
Tak hanya cara pembuatan, pengucapan Tan terhadap nama hidangan tersebut juga menjadi sorotan. Ia berkali-kali menyebut “roti kanai” dengan bunyi ‘K’ yang keras, bukan “roti canai” yang benar dengan bunyi ‘CH’ yang lembut seperti yang dikenal di Asia Tenggara.
Kesalahan ini dianggap sebagai pelecehan terhadap hidangan warisan budaya karena disiarkan di televisi internasional.
Menyadari kesalahannya, Jaime Tan tampil memohon maaf secara terbuka melalui unggahan video di media sosialnya pada 9 Juni 2026. Dalam video tersebut, ia mengaku sedih telah mengecewakan banyak orang Asia Tenggara .
“Itu membuat saya sedih mengecewakan begitu banyak orang Asia Tenggara. Saya tahu betapa pentingnya hal ini bagi banyak orang, jadi saya hanya ingin meminta maaf. Itu sama sekali tidak disengaja. Saya tidak bermaksud untuk salah menggambarkan hidangan nasional di televisi” , ujarnya .
Ia juga menjelaskan latar belakang keluarganya. Meskipun ia tidak dibesarkan di Malaysia, ayahnya berasal dari Johor, dan mendiang kakek neneknya pernah memiliki kedai kopi (kopitiam) di Malaysia . Ia merasa memiliki akar yang kuat dengan Malaysia, dan mewakili negara itu di acara tersebut sangat berarti baginya .
“Merasa seperti saya membawa tanggung jawab itu dan mewakili Malaysia di acara itu sangat berarti bagi saya, jadi tentu saja saya kesal pada diri sendiri” , akunya .
Mengenai penggunaan rolling pin, Tan memberikan pembelaan dengan nada memohon. “Teman-teman, saya membuat roti canai, kari kelapa Malaysia, nasi kelapa tanpa rice cooker, salad acar, dan roti dari awal dalam waktu 60 menit. Spare me please (Lepaskan saya, tolong)” , pintanya .
Ia mengakui bahwa tekstur rotinya tidak sempurna, namun ia membela cita rasanya. “Saya akan katakan saya pikir rasanya memang ada karena Gordon sangat menyukainya. Dia sangat menyukai kari saya. Saya pikir saya membuat kari saya dengan baik” .
Menutup video permintaan maafnya, Tan mencairkan suasana dengan candaan. “Teman-teman, saya mungkin tidak bisa mengucapkan roti canai dengan benar, tapi saya bisa membuka durian dengan tangan kosong, dan saya pikir itu cukup Malaysia” .
Di tengah gelombang kritik, beberapa warganet juga memberikan dukungan. Mereka menyoroti prestasi Tan yang berhasil memenangkan tantangan di ajang sekelas MasterChef, serta apresiasinya terhadap budaya Malaysia meskipun ia tinggal jauh di Amerika Serikat.
“Setidaknya, dia menang secara adil. Prestise dan kebanggaan untuk Malaysia, kan?” komentar seorang netizen . Yang lain menambahkan, “Dia pantas dihormati, bukan direndahkan seperti itu”.
(detikfood/malaysiadateline/nst/kuali****/mothership/businesstoday)






