Jakarta, ElrolumNews — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tertekan hingga pertengahan sesi I perdagangan Rabu (29/7). Hingga pukul 10.15 WIB, IHSG turun 92,78 poin atau 1,51% ke level 6.037,81. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di rentang 6.029,32 hingga 6.174,41.
Pelemahan terjadi di tengah dominasi saham yang berada di zona merah. Sebanyak 573 saham melemah, 124 saham menguat, dan 268 saham bergerak stagnan . IHSG sempat dibuka di level 6.141,16 dan menguat ke level tertinggi harian 6.174,41, namun tekanan jual yang muncul setelah pembukaan membuat indeks berbalik arah dan terus memperlebar pelemahannya.
Tim Analis Phintraco Sekuritas menyatakan secara teknikal IHSG masih akan melemah, menguji level 6.050-6.100 . Pelemahan ini salah satunya disebabkan oleh dampak pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level terendah sepanjang masa.
Nilai tukar rupiah pada Rabu pagi bergerak melemah 16 poin atau 0,09 persen menjadi Rp18.099 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.083 per dolar AS . Posisi tersebut mendekati level terendah sepanjang masa yaitu Rp18.190 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah melemah seiring laporan terkait serangan Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah yang mendorong harga minyak kembali melonjak . Mengutip Anadolu, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan pada Selasa (28/7) bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan beberapa rudal balistik ke arah pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah.
Dari sisi domestik, investor masih bersikap wait and see di tengah meningkatnya ketidakpastian, terutama terkait penunjukkan Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif yang dinilai dapat berpengaruh pada kebijakan bank sentral ke depannya.
Pelaku pasar juga mencermati Perwakilan Perdagangan AS (USTR) yang mengisyaratkan potensi pengenaan tarif impor tambahan terhadap sejumlah negara di Asia seperti Tiongkok, Vietnam dan Korea Selatan . Pemerintah Indonesia perlu mewaspadai hal tersebut karena AS sebelumnya sudah mengenakan tarif tambahan 10 persen terhadap Indonesia.
Tim Analis Phillip Sekuritas Indonesia mengungkapkan bursa efek Indonesia mengalami net sell pada Selasa (28/7) dengan aksi jual saham oleh investor asing membukukan jual bersih senilai Rp788,57 miliar . Lima saham yang paling banyak dijual adalah BMRI, BBRI, TPIA, ANTM dan BUMI . Secara kumulatif, pasar saham Indonesia masih mengalami aliran modal keluar sebesar Rp94,87 triliun.
Pelemahan dipimpin oleh sektor properti yang terkoreksi paling dalam, sementara sektor consumer non-cyclical menjadi satu-satunya sektor yang mampu mencatatkan penguatan tipis.
Pelaku pasar juga menantikan hasil pertemuan The Fed yang diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 3,5 persen hingga 3,75 persen . Mayoritas pasar memperkirakan The Fed akan kembali menahan suku bunga acuannya, menyusul pandangan Ketua The Fed Kevin Warsh bahwa kenaikan harga energi saat ini lebih dipicu oleh gangguan pasokan jangka pendek ketimbang tekanan inflasi struktural.
(*/fvs)





