Ekonomi Makro & Kebijakan, ELrolumNews – Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,8% (year-on-year), mendekati batas atas target Bank Indonesia (BI) sebesar 4%. Kenaikan ini didorong oleh harga pangan, energi, dan transportasi yang terus meningkat.
Lantas, apa penyebab inflasi 2026 dan bagaimana strategi menghadapinya?
Penyebab Inflasi 2026
Menurut Dr. Hendri Saparini, Ekonom dari Core Economics Indonesia, ada tiga faktor utama:
Harga Pangan – Cabai, bawang, dan beras naik 15–25% akibat cuaca ekstrem (El Niño) dan gangguan distribusi.
Energi – Harga BBM non-subsidi naik 10% seiring kenaikan minyak dunia ke USD 95/barrel.
Nilai Tukar – Rupiah melemah ke Rp15.800/USD, impor barang modal dan bahan baku lebih mahal.
“Inflasi 2026 bersifat cost-push (biaya produksi naik) dan imported inflation (rupiah lemah),” jelas Dr. Hendri.
Dampak terhadap Masyarakat
Daya beli turun – Kelas menengah rasakan tekanan, terutama untuk makanan dan transportasi.
Tabungan tergerus – Deposito 5% kalah inflasi 3,8%, return riil hanya 1,2%.
Kredit konsumtif naik – Bunga KPR dan kredit kendaraan meningkat seiring BI Rate.
Dampak terhadap Bisnis
Margin tertekan – UMKM sulit naik harga karena daya beli lemah.
Biaya operasional naik – Listrik, BBM, dan logistik lebih mahal.
Investasi tertunda – Ketidakpastian inflasi buat pelaku usaha wait and see.
Kebijakan BI Menghadapi Inflasi
Bank Indonesia menaikkan BI Rate ke 6,25% untuk:
Menjaga stabilitas rupiah
Meredam permintaan agregat
Anchor ekspektasi inflasi
“BI Rate 6,25% adalah level tepat untuk balance antara tekan inflasi dan jaga pertumbuhan,” kata Dr. Hendri.
Strategi untuk Masyarakat
Belanja bijak – Prioritaskan kebutuhan pokok, hindari impulsif.
Investasi anti-inflasi – Emas, reksadana saham, properti.
Tingkatkan income – Side hustle, investasi skill, bisnis sampingan.
Strategi untuk Pelaku Bisnis
Efisiensi biaya – Otomatisasi, negosiasi supplier, kurangi waste.
Harga dinamis – Sesuaikan harga bertahap, jangan sekaligus.
Diversifikasi produk – Tawarkan varian lebih murah untuk segmen sensitif harga.
Proyeksi Inflasi Akhir 2026
BI memproyeksikan inflasi 2026 di kisaran 3,5–4,0%, masih dalam target. “Jika harga pangan stabil dan rupiah menguat, inflasi bisa turun ke 3,2% di Q4,” tutup Dr. Hendri.
Inflasi 2026 adalah tantangan nyata bagi masyarakat dan bisnis. Namun dengan strategi tepat (belanja bijak, investasi anti-inflasi, efisiensi), dampaknya bisa diminimalkan.
(fvs)





