History, ElrolumNews – Ketika Perang Dunia II berkecamuk di Pasifik, Jenderal Douglas MacArthur menghadapi musuh yang lebih mengerikan dari tentara Jepang. Bukan meriam, bukan pesawat tempur, bukan juga kapal perang. Tapi serangga kecil bersayap yang beratnya tak sampai 3 miligram. Nyamuk.
Pada 1943, MacArthur menyampaikan kekhawatirannya kepada Dr. Howard F. Smith: “Ini akan menjadi perang yang panjang jika untuk setiap divisi yang saya hadapkan ke musuh, saya harus memperhitungkan satu divisi di rumah sakit karena malaria dan satu divisi lagi dalam masa pemulihan dari penyakit yang melemahkan ini.” .
Kata-katanya bukan hiperbola. Di medan Perang Pasifik, malaria menewaskan lebih banyak tentara daripada peluru musuh. Di Kepulauan Solomon dan Nugini, tingkat infeksi mencapai 250 per 1.000 orang per tahun . Di Efate, pada bulan kedua pendudukan, tingkat malaria mencapai 2.700 per 1.000 tentara—artinya setiap prajurit rata-rata terserang malaria lebih dari dua kali.
Yang menentukan pemenang di Pasifik bukanlah siapa yang lebih kuat, tapi siapa yang lebih mampu bertahan melawan gigitan nyamuk.
Sepanjang sejarah, lebih banyak nyawa prajurit melayang akibat penyakit daripada akibat pertempuran. Di Perang Dunia II, malaria menjadi “pembunuh senyap” yang melumpuhkan pasukan Sekutu di Pasifik.
Pada 1942 saja, Angkatan Darat AS melaporkan 48.000 kasus malaria di Area Pasifik Barat Daya—sebagian besar terjadi selama pertahanan awal Filipina dan Perjalanan Maut Bataan . Tahun yang sama, wabah demam berdarah di pangkalan Amerika di Australia menginfeksi 24.000 tentara, membuat mereka dirawat di rumah sakit selama berbulan-bulan menjelang Pertempuran Buna dan Gona yang krusial.
Secara total, lebih dari 60 persen dari seluruh tentara yang bertempur di Pasifik tertular malaria, dan sekitar 5 persen lainnya terkena demam berdarah—artinya sekitar 1,2 juta prajurit menderita salah satu atau kedua penyakit ini pada suatu waktu.
Yang lebih mengerikan: infeksi ini tidak berakhir setelah satu serangan. Plasmodium vivax—parasit penyebab malaria—dapat bersembunyi di hati manusia dalam bentuk hipnozoit dan aktif kembali berbulan-bulan kemudian. Banyak prajurit di Guadalcanal atau Nugini menderita lebih dari 10 kali kambuh . Sebuah divisi infanteri yang ditarik dari Kepulauan Solomon atau Nugini menjadi tidak berguna untuk penempatan lebih lanjut selama setidaknya 6 bulan.
Pada September 1943, selama kampanye Sisilia yang sengit, terjadi perbandingan yang mencengangkan: 21.482 rawat inap karena malaria dibandingkan dengan 17.375 korban pertempuran . Di medan perang, nyamuk secara statistik lebih mematikan daripada musuh bersenjata.
Guadalcanal menjadi contoh paling gamblang. Pada November 1943, tingkat malaria mencapai 1.781 per 1.000 tentara . Di Nugini, tingkat malaria pada akhir 1942 mencapai 4.000 per 1.000 . Angka-angka ini berarti hampir setiap prajurit terserang malaria berkali-kali—dan mereka yang kambuh akan menjadi beban medis yang tak kunjung habis.
Seorang prajurit yang menderita malaria kronis tidak hanya kehilangan pertempuran, tapi juga kehilangan semangat. Studi medis pada 1943-1944 terhadap 3.358 pasien malaria di Australia menemukan bahwa banyak prajurit melaporkan kelelahan kronis, sakit kepala, pusing, gelisah, insomnia, dan tremor . Yang paling nyata: kebanyakan prajurit kehilangan 10-20 pon berat badan setelah terkena malaria.
Sekutu menyadari bahwa kemenangan tidak akan datang hanya dari peluru. Mereka meluncurkan perang dua front—melawan Jepang dan melawan nyamuk.
Pertama, mereka mengerahkan DDT—bahan kimia yang kemudian dilarang, tapi pada masa itu menjadi “senjata ajaib” melawan serangga. Pesawat menyemprot DDT ke lokasi berkembang biak nyamuk di seluruh Pasifik.
Kedua, mereka mengembangkan obat anti-malaria. Sebelum perang, kina dari pohon Cinchona adalah satu-satunya pengobatan yang efektif. Tapi pada 1942, Jepang menginvasi Jawa—tempat 95 persen pohon Cinchona di dunia tumbuh—memotong akses Sekutu ke bahan baku kina.
Sekutu beralih ke Atabrine (kuinakrin), obat sintetis yang dikembangkan pada 1931. Atabrine terbukti sangat efektif mencegah malaria—tapi efek sampingnya membuat tentara enggan meminumnya: mual, sakit kepala, diare, kulit menguning, dan dalam kasus langka, psikosis . Propaganda Jepang menambahkan isu bahwa Atabrine menyebabkan kemandulan—yang semakin membuat tentara menolak dosis harian mereka . Di Papua Nugini, sebuah tanda di bawah dua tengkorak manusia memperingatkan: “Orang-orang Ini Tidak Mengambil Atabrine Mereka”.
Meskipun upaya pencegahan tidak sempurna, Sekutu berhasil menekan malaria cukup untuk memenangkan perang. Namun bukan berarti kemenangan itu mudah.
Di Filipina pada 1942, sekitar 24.000 dari 75.000 pembela Amerika dan Filipina menderita malaria pada saat invasi Jepang—hampir sepertiga pasukan dilumpuhkan oleh penyakit . Ironisnya, tentara Jepang juga menderita: beberapa unit Jepang diperkirakan 90 persen tidak efektif secara tempur karena malaria dan disentri.
Sepanjang Perang Dunia II, malaria menjadi faktor penentu dalam menentukan hasil kampanye Pasifik. Para perencana militer memperkirakan bahwa mempertahankan kontak dengan musuh oleh satu divisi membutuhkan setidaknya 3, mungkin 5 divisi hanya karena korban malaria.
Namun ketahanan Sekutu dalam mengelola malaria—dengan disiplin Atabrine yang diperketat, kelambu, penolak nyamuk, dan perang budaya melawan malaria—memungkinkan mereka memenangkan perang melawan nyamuk Anopheles . Penelitian dan pengembangan di tahun-tahun sebelum perang secara fundamental mengubah cara penelitian ilmiah dan medis skala besar dilakukan di Amerika Serikat, termasuk pendirian Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).
Sejarawan Timothy Winegard dalam bukunya The Mosquito menyebut serangga ini sebagai “penghancur dunia” (destroyer of worlds)—diperkirakan telah membunuh sekitar setengah dari semua manusia yang pernah hidup .
Tapi Winegard juga mencatat bahwa nyamuk telah membentuk kehidupan manusia serta memberikan kematian. Nyamuk menyelamatkan Roma dari Hannibal, Eropa dari Mongol, dan—sebagian besar—Pasifik dari kekuasaan Jepang . Di Pasifik, Eropa diselamatkan bukan oleh kekuatan militer, tapi oleh malaria, demam berdarah, dan serangga yang membawanya.
Saat ini, meskipun kemajuan medis, nyamuk masih membunuh lebih dari 800.000 orang setiap tahun . Dan penyakit bawaan nyamuk seperti Zika telah menyebar ke wilayah baru. Penghancur dunia belum selesai.
Dan pertanyaan kecil tetap bergema: Bagaimana jika Perang Pasifik terjadi di iklim yang lebih kering? Bagaimana jika Atabrine ditemukan lebih awal? Bagaimana jika nyamuk tidak ada?
Nyamuk telah menjadi kekuatan geopolitik sepanjang sejarah. Dalam Perang Dunia II, malaria dan demam berdarah melumpuhkan pasukan di Pasifik, mengubah strategi militer dan biaya perang. Jenderal MacArthur menyadari bahwa mengalahkan nyamuk sama pentingnya dengan mengalahkan Jepang. Penelitian medis yang dikembangkan selama perang, termasuk Atabrine dan penggunaan DDT, menjadi dasar pendirian CDC dan mengubah penelitian biomedis selamanya.
Artikel ini adalah bagian dari seri “Momen Sepele yang Mengubah Dunia”. Pantau terus rubrik sejarah kami untuk edisi-edisi berikutnya.
(red)
SUMBER DAN RUJUKAN
National Geographic Indonesia – Analisis tentang invasi Mongol yang digagalkan oleh nyamuk dan penyakit .
U.S. Army Medical Department (AMEDD) – Statistik malaria di Pasifik, termasuk pernyataan MacArthur dan tingkat infeksi di Guadalcanal dan Nugini .
National Institutes of Health (NIH) – Sejarah malaria dan demam berdarah di Perang Dunia II, serta upaya Sekutu melawan nyamuk .
Health.mil (U.S. Military Health System) – Dampak infeksi malaria pada prajurit, termasuk data kambuh dan kelemahan kronis .
Task & Purpose – Kisah tentara Amerika melawan nyamuk di Pasifik dan data malaria di Filipina .
English World (Mosquitoes Have Shaped Societies) – Analisis sejarawan Timothy Winegard tentang peran nyamuk dalam sejarah, termasuk Haiti dan Perang Dunia II .
Harian Metro – Pengaruh nyamuk dalam sejarah perang dan perbedaan kekebalan antara pasukan lokal dan penjajah .
Springer Malaria Journal – Dinamika malaria dalam perang posisi dan peran kambuhan (relaps) .
Pantau.com – Penggunaan nyamuk sebagai senjata perang oleh Jerman di Italia











