Washington / Teheran, ElrolumNews — Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam. Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat saling serang di Selat Hormuz pada akhir pekan lalu, menandai eskalasi pertama dalam sebulan terakhir .
Pada Minggu (30/8/2026), pasukan AS menyerang dua peluncur roket Iran di Pulau Larak, Selat Hormuz . Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan serangan ini merupakan tindakan terbatas dan presisi terhadap pasukan penambang ranjau Iran yang dinilai mengancam pelayaran komersial dan arus perdagangan global melalui Selat Hormuz .
Media Iran melaporkan bahwa serangan tersebut menewaskan dua orang dan melukai beberapa lainnya. Kementerian Luar Negeri Iran dengan keras mengutuk serangan ini sebagai “tindakan agresi” dan pelanggaran jelas terhadap Piagam PBB .
Menanggapi serangan itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan rudal balistik dan drone terhadap pangkalan-pangkalan AS di Yordania dan UEA . Iran mengklaim telah menyerang pangkalan udara King Hussein dan Al-Azraq di Yordania, serta Pangkalan Udara Al Minhad di Dubai, UEA, yang menjadi lokasi pasukan dan helikopter AS .
UEA mengonfirmasi bahwa mereka telah mencegat sebuah drone Iran di perairan teritorialnya dan menyebut serangan ini sebagai “eskalasi berbahaya” yang merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara . Namun, UEA membantah klaim Iran bahwa Pangkalan Udara Al Minhad berhasil menjadi sasaran .
Presiden AS Donald Trump merespons dengan ancaman balasan. Dalam wawancara dengan Fox News, ia menyatakan, “Kami akan memukul mereka dengan keras. Akan ada respons” . Trump mengklaim bahwa sistem pertahanan udara AS telah mencegat sebagian besar rudal Iran, dan ada secercah harapan untuk kemungkinan pembicaraan di masa depan .
Di tengah ketegangan yang memanas, UKMTO (United Kingdom Maritime Trade Operations) melaporkan bahwa sebuah kapal tanker terkena tiga proyektil saat berlayar keluar dari Selat Hormuz pada Senin (31/8). Tidak ada korban jiwa atau dampak lingkungan yang dilaporkan dalam insiden ini . Ini merupakan kapal ketiga yang dilaporkan diserang di kawasan tersebut dalam sepekan .
Konflik yang terus memanas dan ancaman terhadap pelayaran di Selat Hormuz mendorong harga minyak dunia melonjak. Harga minyak mentah Brent naik 0,6 persen menembus level US$91,05 per barel pada perdagangan Selasa (1/9/2026) .
Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia, masih dalam kondisi tertekan. Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa hanya sekitar lima kapal yang melintas pada Senin (31/8), jauh di bawah rata-rata . Tidak ada kapal tanker minyak yang tercatat melintasi Selat Hormuz pada hari itu. Sebuah kapal tanker minyak asal Arab Saudi juga dilaporkan dihentikan oleh Iran di koridor selatan selat tersebut .
(*/fvs)




