Panji Yosua GMIM: Perjalanan Organisasi Pria Kaum Bapa, Pelayanan, Dinamika Politik, dan Prospeknya di Masa Depan

History, ElrolumNews – 

Di tengah dinamika pelayanan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), tepatnya di lingkup Komisi Pria/Kaum Bapa (P/KB), hadirlah sebuah organisasi yang cukup fenomenal bernama Panji Yosua. Kehadirannya bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan internal gereja, melainkan juga merespon berbagai tantangan sosial, keamanan, dan bahkan politik yang dihadapi oleh jemaat dan masyarakat luas. Organisasi ini menjadi perbincangan hangat, tidak hanya di kalangan internal GMIM, tetapi juga di publik Sulawesi Utara, karena peran, atribut, serta kedekatannya dengan para pemimpin politik dan birokrasi.

Artikel ini akan mengupas tuntas perjalanan panjang Panji Yosua GMIM, mulai dari gagasan awal yang sempat kontroversial, proses kelahiran, perkembangan organisasi di bawah komando berbagai panglima, hingga kontroversi dan tantangan yang membayangi eksistensinya di masa depan.

Kelahiran Sebuah Gagasan: Darurat Peran Aktif Pria Kaum Bapa

Kisah Panji Yosua bermula dari keprihatinan mendalam atas rendahnya tingkat partisipasi kaum bapak dalam kegiatan ibadah dan persekutuan di lingkungan GMIM. Kondisi ini kemudian memantik gagasan untuk menciptakan suatu wadah atau perangkat pelayanan yang dapat menggerakkan kembali peran strategis para suami dan ayah dalam keluarga dan gereja. Stefanus BAN Liow, Ketua Komisi P/KB Sinode GMIM periode 2014-2018, menjadi salah satu motor penggerak utamanya bersama Brian Waleleng, yang didaulat sebagai panglima pertama Panji Yosua.

Pada tahun 2014, cikal bakal organisasi ini mulai dirumuskan melalui diskusi dan kajian yang melibatkan sejumlah pihak di Radio Sion Tomohon. Stefanus Liow menegaskan bahwa Panji Yosua didirikan untuk mengoptimalkan tugas kepala keluarga sekaligus sebagai imam, nabi, dan raja di tengah keluarga, mendayagunakan karunia untuk pemberdayaan ekonomi, menjaga kelestarian lingkungan, serta mencegah penyakit sosial kemasyarakatan.

Kontroversi Nama: Ketika “Laskar Yosua” Dinilai Terlalu Ekstrim

Dalam perjalanannya, nama “Panji Yosua” bukanlah nama pertama yang digunakan. Awalnya, gagasan ini menggunakan istilah “Laskar Yosua” yang pertama kali dilantik di Wilayah Manado Timur VI, tepatnya di GMIM Betlehem Winuangan Paal Dua oleh Pdt. James Jocom. Nama ini sempat menjadi headline di Manado Post dan menyedot perhatian publik.

Namun, nama “Laskar” dinilai terlalu ekstrim oleh pihak Sinode GMIM karena kesannya seolah hendak mengajak perang atau bentrok dengan organisasi radikal. Respon cepat pun datang dan nama tersebut kemudian diubah menjadi “Panji Yosua” yang dinilai lebih netral dan teologis melalui landasan dan kajian yang matang.

Peresmian dan Peletakan Landasan Teologis (2014–2015)

Pasca perubahan nama, Panji Yosua kemudian melalui proses panjang hingga akhirnya ditetapkan dalam Sidang Majelis Sinode Tahunan (SMST) GMIM Tahun Pelayanan 2014-2015. Beberapa elemen penting yang ikut dirumuskan pada masa ini antara lain:

· Kajian teologis: disusun oleh Pdt. Dr. Antonius Dan Sompe, M.Th.
· Desain dan makna logo: dirancang oleh Franky Noldy Lontaan.
· Moto organisasi: diambil dari Yosua 4:24 oleh Pdt. Karly W. Karundeng, M.Th.
· Mars dan Hymne Panji Yosua: diciptakan oleh Dr. Maikel Sanger melalui sayembara dan semiloka di Jemaat Pniel Manembo-Nembo, Bitung.
· Yel-yel ikonik “Kibarkan, Kobarkan, Kabarkan”: diusulkan oleh Marlon Sumaraw dan Novi Kaligis di GMIM Efata Tompaso.

Melalui proses yang panjang ini, Panji Yosua resmi menjadi perangkat pelayanan P/KB GMIM. Landasan teologis yang kuat menjadi fondasi penting bagi legitimasi organisasi di mata gereja.

Struktur Organisasi dan Pengurus Awal

Panglima Pertama (2015-2018)

Pada pelaksanaan Konsultasi Pria Kaum Bapa Sinode GMIM di Jemaat GMIM Efata Tompaso, Sabtu 12 September 2015, turut dilantik Brian Janny Waleleng sebagai panglima pertama Panji Yosua. Ia didampingi oleh Novi Kaligis sebagai Wakil Panglima dan Marlon Sumaraw sebagai Kepala Staf.

Fungsi Panji Yosua saat itu diarahkan untuk menghadapi permasalahan di dalam maupun luar PK/B, termasuk ancaman radikalisme dan membantu tugas kepolisian dalam pencegahan dini terhadap aksi anarki dan kriminal. Menurut Brian Waleleng, organisasi ini akan menjadi “palang pintu utama” untuk menghadapi fitnah terhadap GMIM sekaligus menangani masalah sosial seperti kemiskinan dan ketidakberdayaan ekonomi.

Kepengurusan Periode 2018-2022

Memasuki periode 2018-2022, terjadi pergantian kepemimpinan. Komisi Pelayanan Pria/Kaum Bapa Sinode GMIM mengeluarkan Surat Keputusan Nomor: 01/Tahun 2018 tertanggal 10 Mei 2018 yang mengangkat James Karinda, SH, MH sebagai Panglima Panji Yosua yang baru. SK ini ditandatangani oleh Ketua P/KB Sinode GMIM Pnt. DR. G. S. Vicky Lumentut, SH, MSi, DEA dan Sekretaris Pnt. Rommy Pondaag, SH, MH.

Adapun susunan pengurus periode 2018-2022 adalah sebagai berikut:

· Panglima Panji Yosua: James Karinda, SH, MH
· Wakil Panglima: Drs. Edison Masengi, ME
· Kepala Staf: Alfrits Josef Lontoh
· Sembilan Deputi yang mencakup bidang Bela Negara, Anti Teror dan Narkoba, Mobilisasi Massa, Retorika dan Propaganda, Politik Hukum dan HAM, Finansial dan Perbekalan, Analisa dan Strategi, Bina Mental dan Spiritual, serta Pendidikan dan Latihan.

Penasehat Panji Yosua pada periode ini antara lain adalah Gubernur Sulut Olly Dondokambey, Wakil Gubernur Steven Kandouw, serta Stevanus B. A. N. Liow. Pelantikan resmi dilaksanakan dalam ibadah pembukaan Hapsa dan Pekan Olahraga dan Seni (POR) di Wilayah Kakas Kabupaten Minahasa, Jumat 25 Mei 2018.

Peran Kunci Vicky Lumentut dan James Karinda

Vicky Lumentut: Panglima Tertinggi yang Melantik

Dalam pemberitaan, Pnt. DR. Ir GS Vicky Lumentut, SH, MSi, DEA disebut sebagai “Panglima Tertinggi Panji Yosua” dan menjabat sebagai Ketua Komisi P/KB Sinode GMIM. Ia secara resmi melantik berbagai jajaran pengurus Panji Yosua, termasuk pengurus Panji Yosua Rayon Manado yang dipimpin oleh Rojer Mamesa. Dalam sambutannya, Vicky Lumentut mengatakan kehadiran Panji Yosua diharapkan menjadi teladan di tengah masyarakat dan mampu menciptakan suasana gerejawi sehingga mendapat simpati publik.

Sebagai Wali Kota Manado yang juga menjabat Panglima Tertinggi, Vicky Lumentut memiliki posisi yang cukup unik karena menggabungkan peran politik dan gerejawi. Ia sering bertindak sebagai khadim dalam ibadah sekaligus melantik langsung Panji Yosua di berbagai jemaat, seperti di GMIM Immanuel Passo dan GMIM Imanuel Tolok-Tumompaso. Pesan yang kerap ia sampaikan adalah ajakan untuk menjadi teladan dalam beribadah, berdoa, rajin membaca Alkitab, dan menjadi berkat bagi banyak orang.

James Karinda: Panglima yang Mengesankan

James Karinda memimpin Panji Yosua dengan gaya kepemimpinan yang cukup vokal dan proaktif. Di masa kepemimpinannya, beberapa pencapaian penting antara lain:

1. Seruan di garis depan penanggulangan bencana dan pandemi COVID-19:
· Ia mengajak anggota Panji Yosua untuk menjadi contoh dalam usaha ketahanan pangan di tengah pandemi, seperti membentuk kelompok tani, nelayan, dan ikut menjaga kesehatan lingkungan.
· Ia juga meminta Kapolda Sulut untuk menangkap oknum perusak di RSU GMIM Pancaran Kasih saat situasi pandemi.
2. Menggagas Rapat Konsultasi Perdana:
Karinda menyelenggarakan rapat konsultasi pertama Panji Yosua Sinode GMIM di Jemaat GMIM Zebaoth Paniki Bawah pada Kamis 31 Oktober 2019. Kegiatan ini membahas panduan, seragam, dan fungsi organisasi kemasyarakatan kerohanian.
3. Menginisiasi Pelatihan Dasar Panji Yosua:
Pelatihan ini digelar dengan tujuan meningkatkan kapasitas anggota Panji Yosua di berbagai wilayah.

Puncak kepemimpinan James Karinda sebagai Panglima Panji Yosua berakhir pada periode 2022. Selanjutnya, estafet kepemimpinan diteruskan oleh panglima-panglima berikutnya.

Perkembangan Organisasi dan Perluasan Jangkauan

Setelah periode James Karinda, Panji Yosua terus berkembang di bawah kepemimpinan panglima-panglima berikutnya.

James Sumendap

Panglima James Sumendap tercatat sebagai sosok yang cukup vokal. Pada 2022, ia memimpin Apel Raya Panji Yosua P/KB se-GMIM di Bitung yang dihadiri ribuan anggota. Dalam acara tersebut, Gubernur Olly Dondokambey disebut sebagai “Kaisar Panji Yosua”. Pada tahun 2023, Sumendap menegaskan pentingnya menjaga wibawa GMIM melalui berbagai kegiatan.

Panglima Tertinggi Maurits Mantiri

Memasuki periode 2022-2027, Maurits Mantiri menjabat sebagai Ketua Komisi P/KB Sinode GMIM yang juga merangkap sebagai Panglima Tertinggi Panji Yosua dengan masa kepemimpinan 2022-2027.

Maurits Mantiri dikenal dengan peringatan tegasnya agar Panji Yosua tidak keluar dari jalur organisasi gerejawi:

“Jangan coba-coba keluar dari jalur, aturan main Panji Yosua ada di BPMS dan kehendak jemaat. Bukan seperti itu caranya. Masih cara yang lebih elegan.”

Ia juga meluruskan bahwa Panglima Tertinggi yang sesungguhnya adalah Tuhan Yesus Kristus.

Peran Pelayanan di Masyarakat dan Isu Keamanan

Di luar struktur dan dinamika internal, Panji Yosua memiliki sejumlah peran praktis yang terlihat di masyarakat:

· Pengamanan Ibadah: Anggota Panji Yosua aktif mengatur parkir dan lalu lintas di sekitar gereja, terutama pada hari raya dan kegiatan besar.
· Menjaga Toleransi: Anggota Panji Yosua turut serta mengamankan ibadah umat agama lain, seperti Shalat Idul Fitri di Masjid Al Hikmah Matani dan Masjid Imam Bonjol Pineleng.
· Penanggulangan Bencana dan Kemanusiaan: James Karinda pernah menyerukan agar Panji Yosua berada di garis depan dalam penanggulangan bencana alam dan kemanusiaan.
· Menjaga Martabat GMIM: Ketika terjadi insiden pelemparan dan perusakan Gedung GMIM Silo Watuliney di Belang pada 2025, Panglima James Sumendap menginstruksikan Pasukan Khusus untuk hadir dan memantau situasi.

Dinamika dan Kontroversi

a) Isu Politik Praktis

Sejak awal, kekhawatiran akan masuknya Panji Yosua ke dalam politik praktis telah muncul. Hal ini wajar mengingat beberapa panglima dan penasehatnya adalah figur-figur politik penting, seperti Gubernur, Wakil Gubernur, hingga anggota DPD RI.

Pada tahun 2025, James Sumendap sempat menjadi sorotan karena pernyataannya yang dianggap terlalu politis: “GMIM berdosa kalau ndak pilih PDI Perjuangan”. Hal ini langsung menuai kontroversi karena seolah-olah gereja diarahkan untuk mendukung partai politik tertentu.

b) Dorongan Menyerupai Banser NU

Pada tahun 2023, Marlon Sumaraw menyatakan bahwa Panji Yosua ke depan harus seperti Banser NU, karena Banser banyak berjasa membubarkan pengajian sesat, memerangi organisasi radikal, menjaga perayaan hari besar semua agama, dan menjadi benteng Pancasila.

Pernyataan ini pun menuai pro dan kontra. Ada yang menilai positif, namun ada pula yang khawatir hal ini akan membawa misi keamanan yang berlebihan, serta berpotensi mengaburkan batas antara pelayanan murni gerejawi dengan operasi paramiliter.

c) Kritik terhadap Sinode dan Kasus Internal GMIM

Panglima Panji Yosua James Sumendap (2025) secara terbuka mengecam kondisi internal GMIM yang dinilai menyimpang dari nilai-nilai kesucian gereja. Ia mengingatkan agar seluruh pelayan dan jemaat tidak menjadikan gereja sebagai ajang kepentingan segelintir pihak.

d) Rakorev dan Upaya Mitigasi

Pimpinan tertinggi seperti Maurits Mantiri secara berkala menggelar Rapat Koordinasi dan Evaluasi (Rakorev). Pada Rakorev 2025, misalnya, kembali ditegaskan bahwa Panji Yosua adalah bagian integral dari GMIM dan keputusan organisasi harus sesuai mekanisme gereja.

Prospek dan Tantangan Ke Depan

Memasuki usia yang hampir satu dekade (berdiri 2015), Panji Yosua menghadapi sejumlah tantangan serius:

1. Netralitas Politik: Bagaimana organisasi ini tetap menjadi alat pelayanan murni di tengah fakta bahwa sejumlah pengurus dan penasehatnya berasal dari partai politik yang berbeda.
2. Potensi Militerisasi: Dorongan untuk menyerupai Banser NU patut diwaspadai agar Panji Yosua tidak berubah menjadi aparat keamanan tidak resmi yang mengerikan.
3. Dana dan Atribut: Dari berbagai laporan, atribut dan peralatan anggota masih belum seragam dan masih banyak yang mengandalkan swadaya jemaat. Ini bisa menjadi kelemahan dalam membangun identitas yang kuat.
4. Keberlanjutan Kepemimpinan: Regenerasi panglima di tingkat sinode, rayon, dan jemaat harus berjalan baik agar tidak terjadi kekosongan atau konflik internal.

 Kesimpulan

Panji Yosua GMIM lahir dari keprihatinan atas rendahnya partisipasi pria/kaum bapa dalam kehidupan gereja. Awalnya sempat menggunakan nama “Laskar Yosua” yang kontroversial, namun kemudian dilegitimasi menjadi Panji Yosua melalui kajian teologis dan sidang gerejawi yang panjang.

Di bawah kepemimpinan berturut-turut Brian Waleleng (2015–2018), James Karinda (2018–2022), James Sumendap (2022–2025), dan Maurits Mantiri sebagai Panglima Tertinggi, organisasi ini bertransformasi menjadi kekuatan yang cukup disegani, baik di dalam gereja maupun di tengah masyarakat. Vicky Lumentut juga memainkan peran besar sebagai Ketua P/KB Sinode GMIM yang melantik sekaligus menjadi Panglima Tertinggi pada masanya.

Namun, dinamika politik dan dorongan untuk menjadi organisasi semi-paramiliter menjadi pekerjaan rumah yang tidak sederhana. Apakah Panji Yosua mampu tetap menjadi perangkat pelayanan yang murni, jauh dari kepentingan politik transaksional dan tetap berlandaskan kasih Kristus? Jawabannya akan sangat tergantung pada komitmen para pemimpin dan anggota Panji Yosua untuk tidak keluar dari jalur organisasi gerejawi yang telah ditetapkan.

Daftar Pustaka

(BeritaManado, 27 Mei 2018), (BeritaManado, 30 Juni 2018), (Manado Post, 3 April 2023a), (Manado Post, 3 April 2023b), (Manado Post, 15 April 2023), (Tribun Manado, 14 September 2015), (Tribun Manado, 31 Oktober 2019), (Tribun Manado, 29 November 2022), (Tribun Manado, 15 Maret 2025), (Majalah Hukum Nasional, 10 November 2025), (Cahaya Manado, 18 April 2025), (Berita Online Lokal, 5 November 2025)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

More like this

Dokter Anestesi: Profesi yang Lahir dari Penderitaan dan Perang...

History, ElrolumNews – Sebuah operasi di abad ke-19 digambarkan sebagai pemandangan yang mengerikan. Pasien harus diikat kuat-kuat di...

Arapaima: Monster Air Tawar Amazon yang Terancam Punah di...

Jakarta, ELrolumNews – Ia bisa tumbuh sepanjang 3 meter, berbobot hingga 200 kilogram, memiliki sisik keras seperti baja,...

John Calvin Sang Arsitek Teologi Reformasi: Dari Pengasingan Menuju...

History, ElrolumNews - Ketika matahari musim panas terbit di atas kota Jenewa pada 27 Mei 1564, dunia...

More

Recomended

Read More