LAMPUNG SELATAN, ElrolumNews — Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik signifikan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat 26 kali erupsi dalam periode pengamatan 24 jam pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 16.17 WIB dengan kolom abu teramati mencapai sekitar 250 meter di atas puncak atau 407 meter di atas permukaan laut. Abu vulkanik berwarna kelabu, cokelat, hingga hitam dengan intensitas tebal yang condong bergerak ke arah utara dan barat laut.
Aktivitas vulkanik berlanjut sepanjang malam. Hingga pukul 21.20 WIB, tercatat 13 kali erupsi sejak sore hari. Pada sejumlah erupsi malam, tinggi kolom letusan tidak teramati secara visual, namun aktivitasnya tetap terekam melalui peralatan seismograf.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung menyatakan bahwa status Gunung Anak Krakatau resmi meningkat dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga, terhitung sejak Jumat, 9 Oktober 2026, pukul 21.00 WIB.
Kepala BPBD Provinsi Lampung, Aswarodi, menyatakan kenaikan status tersebut ditetapkan berdasarkan hasil analisis dan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas vulkanik gunung.
“Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau resmi meningkat dari level II atau waspada menjadi level III atau siaga,” ujar Aswarodi.
Peningkatan status ini ditandai oleh terjadinya 14 kali erupsi sejak 6 hingga 9 Oktober 2026. Meskipun data kegempaan vulkanik tidak memperlihatkan gejala peningkatan yang signifikan, peningkatan gejala aktivitas dalam skala rendah mulai terlihat sejak awal Oktober 2026.
Seiring peningkatan status, PVMBG mengeluarkan rekomendasi keselamatan yang lebih ketat. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki dilarang memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Larangan tambahan juga berlaku dalam radius 1 kilometer dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara gunung tersebut.
Potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, serta erupsi sekunder yang dapat terjadi akibat kontak material lava panas dengan air laut atau air hujan.
Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Suwarno, mengingatkan masyarakat agar tetap waspada dan mematuhi rekomendasi pemerintah.
“Ya gimana namanya alam, yang penting kita waspada, dan selalu menaati rekomendasi dari pemerintah,” kata Suwarno.
Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 yang dilakukan BMKG, sebaran abu vulkanik teridentifikasi mengarah ke barat pada Jumat pukul 19.00 WIB. Sebaran abu mencakup sebagian wilayah Selat Sunda di sebelah barat Pandeglang, Banten, dengan ketinggian mencapai 6.000 kaki atau sekitar 1,8 kilometer dari permukaan.
Namun, pada pengamatan pukul 22.00 WIB di hari yang sama, sebaran abu tersebut tidak lagi teridentifikasi. Kondisi serupa ditemukan dalam analisis citra satelit pada Sabtu pukul 07.00 WIB.
Forecaster on Duty BMKG Lampung, Ramadhan Nurpambudi, menyatakan bahwa tidak terdeteksinya abu vulkanik pada citra satelit tidak serta-merta menandakan seluruh partikel abu di atmosfer telah hilang.
“Pada pengamatan berikutnya, sebaran abu vulkanik tidak teridentifikasi melalui analisis citra satelit. Masyarakat tetap perlu mengikuti informasi resmi karena kondisi atmosfer dan aktivitas gunung api dapat berubah,” kata Ramadhan.
BPBD Provinsi Lampung melaporkan bahwa hingga Sabtu, 10 Oktober 2026, belum terpantau adanya dampak langsung paparan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau terhadap wilayah di Provinsi Lampung.
Kesimpulan tersebut didasarkan pada pemantauan citra satelit melalui Terminal BMKG Lampung hingga pukul 07.00 WIB. Meskipun demikian, BPBD tetap mengimbau warga untuk menyiapkan alat pelindung diri, terutama masker, jika terjadi erupsi berkepanjangan.
Di tengah peningkatan aktivitas vulkanik, beredar informasi di media sosial yang menyebutkan potensi tsunami setinggi 60 meter akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan informasi tersebut tidak benar.
“Menyikapi informasi yang beredar di media sosial TikTok mengenai potensi tsunami setinggi 60 meter akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, Badan Geologi mengonfirmasi bahwa narasi tersebut adalah tidak benar,” tulis Badan Geologi dalam pernyataan resminya.
Badan Geologi menjelaskan bahwa unggahan tersebut merupakan hasil penyuntingan dari konten asli milik Badan Geologi. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada serta tidak memercayai isu atau ramalan kebencanaan yang tidak berbasis data ilmiah.




