PEK LIONG PO KIAM: Mata Ketiga dan Konspirasi di Kota Giok

Dengan bimbingan Pauw Lian, mereka menghindari jebakan dan mengambil jalan memutar menuju Gunung Naga Hitam. Namun semakin dekat mereka dengan gunung, semakin sering Pauw Lian melihat kilasan masa depan — dan semakin sering ia melihat bayangan perempuan misterius dengan jubah hitam. “Siapa dia?” tanya Han Liong. Pauw Lian menggeleng, “Aku tidak tahu. Aku hanya bisa melihat matanya… matanya seperti… seperti aku melihat cermin.” Han Liong merasakan keanehan dalam kata-kata itu. “Apa maksudmu?” Pauw Lian menatapnya dengan ekspresi bingung, “Matanya… sama dengan mataku. Seperti aku sedang melihat diriku sendiri.”

Ketika mereka akhirnya tiba di kaki Gunung Naga Hitam, mereka disambut oleh sebuah pemandangan yang mengerikan: sebuah kumpulan besar prajurit persekutuan iblis yang berkumpul di sekitar sebuah altar hitam. Di atas altar itu, berdiri seorang perempuan dengan jubah hitam yang anggun dan wajah yang tertutup kerudung. Namun yang paling mengerikan adalah… Pauw Lian merasakan getaran yang aneh di dadanya. Ia merasakan kedekatan yang tidak bisa dijelaskan dengan perempuan itu. “Selamat datang, adikku,” suara perempuan itu bergema di seluruh lembah. Pauw Lian terkesiap, “A-apa?” Perempuan itu menurunkan kerudungnya, dan semua orang terkejut — wajahnya identik dengan Pauw Lian. “Aku adalah kakak kembarmu, Pauw Lian. Aku adalah pewaris sejati Pedang Hitam. Dan aku di sini untuk mengambil kembali apa yang menjadi hakku.”

Pauw Lian tidak percaya dengan apa yang ia lihat. “Aku… aku tidak pernah tahu aku memiliki saudara kembar. Ibuku tidak pernah memberitahuku!” Perempuan itu tertawa pahit, “Tentu saja tidak. Karena ibumu membawaku pergi saat kami masih bayi. Ia memilihmu sebagai pewaris Pedang Hitam, dan membuangku ke dalam kegelapan. Aku tumbuh besar di antara para iblis, dan aku belajar bahwa cinta adalah kelemahan. Sekarang, aku di sini untuk mengambil pedang yang seharusnya menjadi milikku.” Han Liong melangkah maju, “Kau tidak akan mengambil apa pun dari Pauw Lian. Ia telah melalui banyak hal untuk mendapatkan pedang itu.” Perempuan itu menatap Han Liong dengan mata tajam, “Ah, Han Liong. Pewaris Pedang Putih. Aku sudah mendengar banyak tentangmu. Sayangnya, kau akan mati hari ini.”

Pauw Lian menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. “Kau… kau adalah saudaraku. Aku tidak mau melawanmu.” Perempuan itu tertawa sinis, “Kau tidak punya pilihan, Pauw Lian. Ini adalah pertarungan antara kita. Antara cahaya dan kegelapan. Antara cinta dan kebencian. Hanya satu dari kita yang bisa bertahan.” Han Liong berbisik pada Pauw Lian, “Aku di sini untukmu. Apapun yang terjadi.” Pauw Lian mengangguk, mengusap air matanya. “Kau benar,” katanya pada saudara kembarnya. “Ini adalah pertarungan antara kita. Tetapi bukan antara cahaya dan kegelapan. Ini adalah pertarungan antara memilih kebencian atau memilih cinta. Dan aku memilih cinta.”

Mereka bertarung dengan sengit. Kakak kembar Pauw Lian adalah pendekar yang sangat kuat, mungkin sama kuatnya dengan Pauw Lian — atau bahkan lebih. Namun Pauw Lian memiliki keuntungan: ia memiliki Han Liong di sisinya, dan ia memiliki kemampuan melihat masa depan. Ia bisa mengantisipasi setiap gerakan kakaknya. “Kau tidak bisa mengalahkanku, Pauw Lian!” teriak kakaknya dengan amarah. “Aku lebih kuat darimu! Aku lebih pantas memiliki pedang ini!” Namun Pauw Lian hanya tersenyum, “Kekuatan sejati bukanlah tentang siapa yang lebih kuat. Ini tentang siapa yang memiliki hati yang lebih besar. Dan hatiku penuh dengan cinta, sementara hatimu penuh dengan kebencian. Itu perbedaan kita.”

Dengan bimbingan visinya, Pauw Lian berhasil mengalahkan kakaknya. Namun ketika ia mengarahkan pedangnya untuk pukulan terakhir, ia berhenti. “Aku tidak bisa,” katanya pelan. “Kau adalah saudaraku.” Kakaknya terkejut, “Kau… kau tidak akan membunuhku?” Pauw Lian menggeleng, “Tidak. Aku memilih cinta. Aku memilih pengampunan.” Ia menurunkan pedangnya dan mengulurkan tangannya. “Mari kita mulai lagi. Mari kita menjadi saudara sejati.” Kakak kembarnya menatapnya lama, dan untuk pertama kalinya, air mata mengalir di matanya. “Aku… aku tidak tahu bagaimana melakukannya. Aku telah hidup dalam kebencian selama bertahun-tahun.” Pauw Lian tersenyum, “Kita akan belajar bersama. Aku akan mengajarimu.”

Perempuan itu, yang bernama Putri Lian, akhirnya menerima tangan Pauw Lian. Mereka berpelukan dan menangis bersama — dua saudara yang dipisahkan oleh takdir, akhirnya bersatu kembali. Para prajurit gelap, melihat pemimpin mereka menyerah, meletakkan senjata mereka dan menyerah. Ken Arok kemudian membantu mengumpulkan mereka dan mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Malam itu, Han Liong, Pauw Lian, Putri Lian, dan Ken Arok duduk di sekitar api unggun di kaki Gunung Naga Hitam. “Kita masih memiliki banyak hal untuk diperbaiki,” kata Putri Lian dengan suara lembut. “Tetapi aku akan berusaha.” Pauw Lian tersenyum, “Aku tahu kau bisa.” Han Liong mengangkat cangkirnya, “Untuk keluarga yang ditemukan kembali. Dan untuk masa depan yang lebih cerah.” Mereka semua tersenyum dan minum bersama, di bawah langit yang kini dipenuhi bintang-bintang.

TAMAT EPISODE 4

“Pauw Lian menemukan saudara kembarnya yang hilang dan berhasil mengubah kebencian menjadi cinta. Namun, perjalanan mereka masih panjang. Siapa lagi yang akan mereka temui di jalan? Dan bagaimana mereka akan menghadapi tantangan berikutnya? Perjalanan Han Liong, Pauw Lian, dan teman-teman baru mereka masih terus berlanjut.”

Preview Episode 5

“Han Liong dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kota Naga, tempat di mana terdapat kuil kuno yang menyimpan rahasia tentang pedang pusaka dan asal-usul kekuatan mereka. Namun di Kota Naga, mereka bertemu dengan seorang pendekar misterius yang mengaku sebagai guru Han Liong yang hilang — Guru Beng Hoat! Apa yang sebenarnya terjadi pada guru keempat Han Liong, dan mengapa ia menghilang?”..

[← Episode Sebelumnya] [📚 Daftar Episode] [Episode Berikutnya →]

 

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

More like this

Episode 5: "Guru yang Hilang dan Misteri Kota Naga"

PEK LIONG PO KIAM: Guru yang Hilang dan Misteri...

Episode 5: "Guru yang Hilang dan Misteri Kota Naga"Sastra/FIksi, ElrolumNews - Setelah pertempuran di Gunung Naga Hitam...

PEK LIONG PO KIAM: Rahasia Desa Kuno yang Mengungkap...

Episode 3: "Rahasia Desa Kuno"Sasra/Fiksi, ElrolumNews - Setelah pertarungan di Kuil Bayangan, Han Liong dan Pauw Lian...

PEK LIONG PO KIAM: Pertarungan di Kuil Bayangan yang...

Episode 2: "Pertarungan di Kuil Bayangan"Sastra/Fiksi - ElrolumNews - Pintu kuil yang berat dan besar itu terbuka...

More

Recomended

Read More