PEK LIONG PO KIAM: Mata Ketiga dan Konspirasi di Kota Giok

Pauw Lian terkejut dengan kemampuannya yang baru. Ia bisa melihat gerakan pendekar bayangan itu sebelum ia melakukannya — seperti kilasan masa depan yang muncul dalam pikirannya. “Han Liong, serang sekarang! Ia akan mengayun ke arah kepalamu!” Han Liong mengikuti instruksi Pauw Lian, dan berhasil membalas serangan pendekar bayangan dengan sempurna. Pendekar bayangan itu terhuyung ke belakang, terkejut bahwa lawannya bisa membaca gerakannya. “Apa yang kau lakukan? Bagaimana kau bisa tahu gerakanku?” tanyanya dengan marah. Han Liong tersenyum, “Aku memiliki teman yang sangat istimewa.” Pauw Lian melangkah maju, matanya kini bersinar terang dengan cahaya keemasan. “Aku bisa melihat apa yang akan kau lakukan, pendekar bayangan. Kau tidak bisa menang.”

Pendekar bayangan itu menggeram marah. “Kemampuan ramalan, ya? Kalian pikir itu akan menyelamatkan kalian?” Ia melompat ke udara dan melancarkan serangan beruntun yang mematikan. Namun Pauw Lian terus membimbing Han Liong — “Kiri! Kanan! Atas! Rendah!” — setiap gerakan diantisipasi dengan sempurna. Setelah beberapa serangan, Han Liong berhasil menemukan celah dan dengan satu tebasan tepat, ia menjatuhkan pedang pendekar bayangan itu. Pendekar itu jatuh ke lututnya, menyerah. “Aku kalah,” katanya dengan suara putus asa. “Kau benar-benar… luar biasa.” Han Liong menurunkan pedangnya, “Aku tidak ingin membunuhmu. Aku hanya ingin keadilan. Sekarang, beri tahu kami semua yang kau tahu tentang Gubernur ini.”

Dengan bantuan pendekar bayangan yang kini telah mengakui kesalahannya, Han Liong dan Pauw Lian mengungkap semua kejahatan Gubernur Liem. Mereka menemukan bukti-bukti pemerasan, pembunuhan, dan konspirasi dengan sisa-sisa persekutuan iblis yang masih ingin menghidupkan kembali kekuasaan gelap mereka. Gubernur Liem akhirnya ditangkap dan diserahkan kepada rakyat Kota Giok untuk diadili. Pendekar bayangan itu, yang bernama Ken Arok, memutuskan untuk bergabung dengan mereka sebagai sekutu. “Aku telah melakukan banyak kesalahan,” katanya dengan penuh penyesalan. “Biarkan aku menebusnya dengan membantumu melawan kejahatan.”

- Advertisement -

Malam itu, Han Liong dan Pauw Lian duduk di atas atap sebuah pagoda tinggi, memandang bintang-bintang yang bertaburan di langit. “Aku masih tidak percaya dengan kemampuan barumu, Pauw Lian,” kata Han Liong sambil tersenyum. “Kau bisa melihat masa depan.” Pauw Lian menghela napas, “Aku juga tidak percaya. Aku tidak tahu dari mana kemampuan ini berasal. Mungkin ini adalah hadiah dari Jantung Pedang Hitam. Atau mungkin…” ia berhenti sejenak, “mungkin ini adalah sesuatu yang lebih besar.” Han Liong menggenggam tangannya, “Apapun itu, kita akan menghadapinya bersama. Kau tidak sendirian.” Pauw Lian tersenyum, “Aku tahu. Dan itu membuat segalanya lebih mudah.”

Keesokan paginya, Han Liong, Pauw Lian, dan Ken Arok berkumpul untuk merencanakan perjalanan selanjutnya. Ken Arok membawa kabar bahwa masih ada sisa-sisa persekutuan iblis yang berkumpul di Gunung Naga Hitam — tempat di mana Bayangan dulu berkuasa. “Mereka mencari pemimpin baru,” kata Ken Arok. “Jika mereka berhasil, semua yang sudah kita perjuangkan akan sia-sia.” Han Liong mengangguk, “Kalau begitu, kita harus menghentikan mereka sebelum mereka terlalu kuat.” Pauw Lian tersenyum tipis, “Aku setuju. Tapi kali ini, kita harus lebih pintar. Aku akan menggunakan kemampuanku untuk melihat langkah mereka sebelum mereka melakukannya.” Ken Arok terkejut, “Kau benar-benar bisa melihat masa depan?” Pauw Lian mengangguk, “Aku masih belajar. Tapi aku yakin, kemampuan ini akan sangat berguna.”

Perjalanan menuju Gunung Naga Hitam dimulai. Namun di tengah perjalanan, Pauw Lian tiba-tiba berhenti, matanya berkilauan dengan cahaya keemasan yang kuat. “Aku melihat sesuatu…” katanya dengan suara bergetar. “Ada jebakan di lembah di depan kita. Sekelompok besar prajurit bersenjata lengkap menunggu kita.” Ken Arok terkejut, “Jadi mereka tahu kita datang?” Han Liong mengerutkan kening, “Tampaknya ada pengkhianat di antara kita. Atau mungkin mereka memiliki mata-mata di Kota Giok.” Pauw Lian menutup matanya, mencoba melihat lebih jauh. “Aku melihat… seorang perempuan. Berjubah hitam. Ia adalah pemimpin mereka. Ia sangat kuat.” Ia membuka matanya, dan untuk pertama kalinya, ada rasa takut di matanya. “Kita harus berhati-hati. Ia berbeda dari yang lain.”

Explore additional categories

Explore