PEK LIONG PO KIAM: Rahasia Desa Kuno yang Mengungkap Asal-Usul Kutukan

“Jantung Pedang?” Han Liong mengulangi kata-kata itu dengan bingung. “Apa itu?” Nyi Roro berdiri dan berjalan menuju rak kayu tua. Ia mengambil sebuah gulungan kuno yang sudah menguning dan membukanya di hadapan mereka. Di dalam gulungan itu tergambar dua pedang — satu putih dan satu hitam — dengan sebuah permata bercahaya di tengah gagang masing-masing. “Ini adalah Jantung Pedang,” kata Nyi Roro, menunjuk ke permata itu. “Ki Jaya Baya menyembunyikan inti dari pedang-pedang ini di dua tempat berbeda di desa ini. Jika kalian bisa menemukan keduanya dan menyatukannya, kutukan itu akan lenyap. Tetapi jika kalian gagal…” Ia berhenti sejenak, “kutukan itu akan menjadi lebih kuat dan akan menghancurkan kalian berdua.”

Malam itu, Han Liong dan Pauw Lian diberi tempat untuk beristirahat di sebuah rumah kosong di pinggir desa. Namun tidur tidak datang dengan mudah bagi Han Liong. Ia berbaring di atas dipan bambu, menatap langit-langit yang gelap, memikirkan semua yang telah terjadi. Ia teringat pada wajah ayah dan ibunya yang tidak pernah ia kenal. Ia teringat pada keempat gurunya yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Dan ia teringat pada Pauw Lian — gadis yang telah mengubah segalanya. “Apa pun yang terjadi,” bisiknya dalam hati, “aku akan melindungimu, Pauw Lian. Aku tidak akan membiarkan kutukan ini menghancurkan kita.”

Keesokan paginya, Nyi Roro mengantar mereka ke sebuah gua di balik air terjun di ujung desa. “Jantung Pedang Putih tersembunyi di sini,” katanya sambil menunjuk ke gua yang gelap dan lembap. “Di dalam gua ini, kau akan menghadapi ujian yang akan menguji hatimu, Han Liong. Jika kau layak, permata itu akan memberimu cahaya. Jika tidak…” Nyi Roro tidak menyelesaikan kalimatnya. Han Liong menatap Pauw Lian, lalu mengangguk. “Aku siap.” Dengan pedang di tangan dan hati yang mantap, ia melangkah masuk ke dalam gua yang gelap.

Di dalam gua, Han Liong berjalan perlahan di antara stalaktit dan stalagmit yang tajam. Udara terasa dingin dan pengap. Tiba-tiba, ia mendengar suara-suara bisikan — bisikan yang familiar. “Han Liong…” “Anakku…” “Han Liong…” Ia berbalik, dan di depannya muncul bayangan samar seorang pria dan wanita dengan jubah putih bersih. Wajah mereka kabur, tetapi ia bisa merasakan kehangatan dari mereka. “Ayah… Ibu?” gumamnya. Bayangan itu mengangguk. “Kami bangga padamu, anakku,” kata suara ibu. “Kau telah tumbuh menjadi pria yang kuat dan baik.” Han Liong menangis, “Aku merindukan kalian. Setiap hari.” Bayangan ayahnya mengulurkan tangan, menyentuh wajahnya dengan kelembutan yang tidak nyata. “Kami selalu bersamamu, Nak. Sekarang pergilah, dan hancurkan kutukan yang telah menghancurkan keluarga kita selama bertahun-tahun.”

Han Liong mengangguk, menghapus air matanya. “Aku akan membuat kalian bangga.” Bayangan itu tersenyum dan mulai memudar. Namun sebelum lenyap, ayahnya berkata, “Ingatlah, Nak… cinta adalah kekuatan terbesar di dunia. Jangan pernah melupakannya.” Han Liong berdiri di sana, dalam keheningan, merasakan kehangatan yang ditinggalkan oleh roh orang tuanya. Kemudian ia melihat sebuah cahaya kecil bersinar di ujung gua — sebuah permata putih yang berkilauan di atas sebuah altar batu. Itulah Jantung Pedang Putih. Dengan langkah mantap, ia berjalan menuju altar itu.

Han Liong mengulurkan tangannya dan mengambil permata putih itu. Begitu ia menyentuhnya, permata itu langsung menyatu dengan pedang putihnya, mengalir ke dalam bilah pedang dan membuatnya bersinar lebih terang dari sebelumnya. Han Liong merasakan kekuatan hangat mengalir ke seluruh tubuhnya. Ia tahu bahwa ini adalah langkah pertama menuju mematahkan kutukan. Dengan pedang yang lebih bersinar di tangannya, ia keluar dari gua, disambut oleh Pauw Lian dan Nyi Roro. Pauw Lian tersenyum lega melihatnya. “Kau berhasil!” Han Liong mengangguk, memegang tangan Pauw Lian. “Sekarang giliranmu, Pauw Lian. Jantung Pedang Hitam menunggumu.”

Pauw Lian kemudian pergi mencari Jantung Pedang Hitam yang tersembunyi di puncak Gunung Giok, di sebelah timur desa. Nyi Roro memperingatkannya bahwa ujian untuk Pedang Hitam akan berbeda — lebih gelap dan lebih berbahaya. “Kau harus menghadapi bayangan terdalammu sendiri, Pauw Lian,” kata Nyi Roro. “Hanya dengan menerima kegelapan dalam dirimu, kau bisa menemukan cahaya sejati.” Pauw Lian mengangguk, meskipun hatinya berdebar-debar. Dengan pedang hitam di tangannya, ia mulai mendaki gunung yang curam dan berbatu, menuju ke puncak yang diselimuti awan hitam. Han Liong ingin mengikutinya, tetapi Nyi Roro menggeleng. “Ini adalah ujiannya sendiri. Kau tidak bisa membantunya kali ini, Han Liong.”

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

More like this

Episode 5: "Guru yang Hilang dan Misteri Kota Naga"

PEK LIONG PO KIAM: Guru yang Hilang dan Misteri...

Episode 5: "Guru yang Hilang dan Misteri Kota Naga"Sastra/FIksi, ElrolumNews - Setelah pertempuran di Gunung Naga Hitam...

PEK LIONG PO KIAM: Mata Ketiga dan Konspirasi di...

Episode 4: "Mata Ketiga dan Konspirasi Kota Giok"Sastra/Fiksi, ElrolumNews - Setelah berhasil mematahkan kutukan pedang pusaka, Han...

PEK LIONG PO KIAM: Pertarungan di Kuil Bayangan yang...

Episode 2: "Pertarungan di Kuil Bayangan"Sastra/Fiksi - ElrolumNews - Pintu kuil yang berat dan besar itu terbuka...

More

Recomended

Read More