History, ElrolumNews – Siapa yang tak mengenal Joan of Arc? Namanya abadi sebagai pahlawan nasional Prancis dan santa pelindung. Namun, sedikit yang tahu bahwa di balik gemilangnya kemenangan militer, ia hanyalah seorang gadis petani buta huruf dari desa kecil di pinggiran Prancis yang mengubah jalannya sejarah Eropa dalam waktu singkat—hanya 15 bulan.
Pada awal abad ke-15, Prancis berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Perang Seratus Tahun (1337-1453) telah berlangsung selama hampir 90 tahun dan hampir seluruh pertempuran terjadi di tanah Prancis. Tentara Inggris menggunakan taktik bumi hangus yang menghancurkan perekonomian Prancis.
Situasi politik yang kacau:
Raja Charles VI menderita gangguan kejiwaan dan sering tidak mampu memerintah
Perebutan kekuasaan antara Duke of Orléans dan Duke of Burgundy memecah belah kerajaan
Henry V dari Inggris memanfaatkan kekacauan ini untuk menyerbu Prancis dan meraih kemenangan gemilang di Agincourt (1415)
Pada 1420, Ratu Isabeau dari Bayern menandatangani Perjanjian Troyes yang menyerahkan takhta Prancis kepada Henry V dan ahli warisnya, bukan kepada putranya Charles
Henry V dan Charles VI meninggal dalam selang waktu dua bulan pada 1422, meninggalkan bayi Henry VI dari Inggris sebagai penguasa nominal kedua kerajaan
Pada awal 1429, hampir seluruh Prancis utara dan sebagian barat daya berada di bawah kendali Inggris. Paris dikuasai Inggris, sementara Reims—tempat tradisional penobatan raja Prancis—dikuasai Burgundia yang bersekutu dengan Inggris. Kota Orléans dikepung dan menjadi benteng terakhir Prancis sebelum serangan ke jantung kerajaan.
Joan lahir sekitar tahun 1412 di desa Domrémy, di perbatasan antara Lorraine dan Champagne. Ayahnya, Jacques d’Arc, adalah seorang petani penyewa yang cukup makmur—memiliki sekitar 20 hektar tanah dan menjabat sebagai pejabat desa yang mengumpulkan pajak dan memimpin penjagaan setempat. Ibunya, Isabelle Romée, adalah wanita yang sangat saleh yang mengajarkan Joan doa-doa dasar seperti Pater Noster, Ave Maria, dan Credo. Meskipun tidak bisa membaca atau menulis, Isabelle berhasil menanamkan iman yang kuat pada putrinya.
Masa kecil Joan:
Sebagai anak petani, Joan bekerja membantu ibunya di rumah: memintal wol, menjahit, dan mengurus rumah tangga
Ia juga membantu di ladang saat musim panen, menggunakan sabit dan garpu seperti orang lain
Ia rajin berdoa dan sering mengunjungi gereja; teman-temannya bahkan mengomentari kebiasaannya ini
Joan sering memberi tempat tidurnya kepada pengemis miskin dan tidur di perapian sendiri
Ayahnya sangat keras dalam hal moral: “Jika dia pernah ingin melakukan hal seperti itu (mengikuti tentara sebagai pengiring), kamu harus menenggelamkannya dulu,” katanya kepada putra-putranya. “Jika kamu tidak melakukannya, aku akan menenggelamkannya sendiri, dengan tanganku sendiri”.
Wahyu Pertama: Suara-Suara dari Surga
Pada suatu musim panas, ketika Joan berusia sekitar 13 tahun, ia sedang bekerja di kebun ayahnya pada siang hari. Tiba-tiba ia melihat cahaya terang dan mendengar suara yang memanggilnya “Joan the Maid” dan menyuruhnya menjalani kehidupan yang saleh.
Suara-suara itu datang lebih sering dan memberikan instruksi: Joan harus menyelamatkan Prancis dan membantu dauphin (pewaris takhta Prancis) untuk dimahkotai. Joan kemudian mengidentifikasi suara-suara itu sebagai milik Malaikat Agung Michael, Santa Margareta dari Antiokhia, dan Santa Katarina dari Aleksandria.
Pada usia 16 tahun, Joan meminta bantuan sepupunya, Durand Lassois, untuk membawanya ke Vaucouleurs, di mana ia meminta izin kepada komandan garnisun, Robert de Baudricourt, untuk pergi ke istana kerajaan di Chinon. Baudricourt menolaknya dengan kasar dan bahkan menyuruh sepupunya untuk “memberinya tamparan yang keras dan membawanya kembali ke ayahnya”.
Joan tidak menyerah. Ia kembali pada Januari 1429 dan kali ini mendapat dukungan dari dua orang terpandang: Jean de Metz dan Bertrand de Poulengy. Mereka membantu Joan mendapatkan pertemuan kedua dengan Baudricourt, di mana ia membuat prediksi tentang kekalahan militer di dekat Orléans. Ketika kabar dari medan perang mengkonfirmasi prediksinya, Baudricourt akhirnya mengizinkannya pergi.
Perjalanan Menuju Chinon: Melintasi Wilayah Musuh
Joan dan enam pengawalnya menempuh perjalanan lebih dari 480 kilometer melintasi wilayah Burgundia yang dikuasai musuh, dengan menyamar sebagai laki-laki, selama 11 hari untuk mencapai istana dauphin di Chinon.
Di istana, Charles VII awalnya ragu untuk menerimanya. Namun, Joan langsung menuju ke arah dauphin yang menyamar di antara para abdi dalem dan menyapanya. Ketika Charles menyangkal, Joan berkata, “Demi Tuhan, tuan yang lembut, andalah dia”.
Ia kemudian mengungkapkan pikiran pribadi Charles yang tidak diketahui orang lain, meyakinkan sang dauphin bahwa ia bukanlah gadis biasa. Charles menyerahkannya kepada para teolog dari Universitas Poitiers untuk diperiksa. Setelah berminggu-minggu diinterogasi, para pemeriksa menemukan “hanya kerendahan hati, kemurnian, kejujuran, dan kesederhanaan” dalam dirinya.
Pengepungan Orléans: Kemenangan Spektakuler dalam 9 Hari
Pada April 1429, Joan diberi komando pasukan sekitar 4.000 tentara untuk melepaskan pengepungan Orléans yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan.
Kronologi Pertempuran:
29 April 1429: Joan tiba di Orléans. Badai sedang mengamuk dan angin bertiup kencang. Joan memerintahkan konvoi perbekalan dimuat ke perahu, berjanji angin akan berubah. Dan itu terjadi! Di bawah perlindungan hujan, ia berhasil memasukkan pasukan dan perbekalan ke kota.
4 Mei 1429: Prancis memulai pertempuran tanpa memberi tahu Joan. Awalnya berjalan buruk, tetapi begitu Joan berseragam dan mencapai garis depan, ia mengumpulkan pasukan Prancis di sekitar benderanya. Setelah tiga jam pertempuran sengit, mereka merebut sebuah benteng Inggris.
7 Mei 1429: Joan memimpin serangan ke benteng terkuat Inggris, Les Tourelles. Dalam pertempuran, sebuah panah menembus dadanya dan menembus hingga ke belakang bahunya. Joan mencabut panah, membalut lukanya, dan segera kembali ke medan perang. Kehadirannya di garis depan menginspirasi pasukan Prancis untuk terus menyerang sampai Inggris menyerah.
8 Mei 1429: Inggris terlihat mundur dari Orléans. Karena hari Minggu, Joan menolak mengizinkan pengejaran. Orléans telah berhasil dibebaskan dalam waktu hanya 9 hari.
Penobatan Charles VII: Misi yang Tercapai
Setelah kemenangan di Orléans, Joan mendesak Charles untuk segera pergi ke Reims untuk dimahkotai—sesuai dengan perintah suara-suara yang ia dengar.
Perjalanan Menuju Reims:
29 Juni 1429: Charles dan tentara berangkat menuju Reims, dengan Joan di sampingnya.
17 Juli 1429: Charles VII secara resmi dimahkotai di Katedral Reims. Joan berdiri di dekat altar dengan benderanya, dan setelah upacara, ia berlutut di hadapan Charles, memanggilnya raja untuk pertama kalinya.
Joan kemudian berkata kepada raja, “Wahai Raja, kehendak Allah telah terlaksana dan misiku telah usai! Biarkan aku sekarang pulang ke rumah orang tuaku”. Namun, Charles memintanya untuk tetap tinggal, karena Prancis belum sepenuhnya bebas dari Inggris.
Penangkapan, Pengadilan, dan Kemartiran
Pada Mei 1430, Joan ditangkap oleh pasukan Burgundia di Compiègne dan dijual kepada Inggris seharga 10.000 livre. Charles VII tidak berusaha menebusnya.
Pengadilan yang Tidak Adil:
Para hakim gereja yang pro-Inggris melakukan hampir semua pelanggaran terhadap aturan sidang gereja:
Joan dipenjarakan selama hampir 5 bulan—bukan dengan pendamping wanita, tetapi dengan 5 tentara Inggris.
Lebih dari 60 tuduhan diajukan terhadapnya, termasuk sihir dan bidah.
Joan dengan teguh mempertahankan keperawanannya dan keberaniannya melalui hari-hari interogasi yang panjang.
Awalnya, Joan dihukum mati. Namun, ketika ia dibawa ke alun-alun kota Rouen untuk dieksekusi, ia menjadi takut dan menarik kembali pengakuannya. Hukumannya diubah menjadi penjara seumur hidup. Namun, tiga hari kemudian, ia mendapatkan kembali keberaniannya dan mengatakan kata-kata yang berarti kematiannya: “Jika saya harus mengatakan bahwa Tuhan mengutus saya, saya akan dihukum, tetapi Tuhan benar-benar mengutus saya”.
Eksekusi
Pada pukul 09.00 pagi, 30 Mei 1431, Joan berjalan menuju alun-alun pasar. Ia berlutut dan berdoa untuk musuh-musuhnya, kemudian naik ke tiang pancang yang telah disiapkan. Ketika api menjulang, Joan meminta sebuah salib dipegang di hadapannya. Sambil memandangnya, kata terakhirnya adalah “Yesus”. Ia baru berusia 19 tahun.
Rehabilitasi dan Kanonisasi
1456: Paus Callixtus III membuka kembali pengadilan Joan, menyatakannya tidak bersalah, dan menyebutnya sebagai martir.
1909: Joan dibeatifikasi oleh Paus Pius X di Notre Dame de Paris.
1920: Joan dikanonisasi oleh Paus Benediktus XV di Basilika Santo Petrus, Roma.
Hari perayaannya jatuh pada 30 Mei, hari kematiannya, dan ia menjadi salah satu santa pelindung Prancis bersama Santo Denis, Santo Martinus dari Tours, dan Santa Theresa dari Lisieux.
Warisan dan Pengaruh
Joan of Arc tetap menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Barat. Pengaruhnya meluas melampaui abad-abad:
Napoleon Bonaparte dan para politisi Prancis dari berbagai aliran politik telah memanggil ingatannya.
Banyak penulis dan komposer terkenal yang telah menciptakan karya tentangnya, termasuk Shakespeare (Henry VI, Part 1), Voltaire, Schiller, Verdi, Tchaikovsky, dan George Bernard Shaw.
Ia menjadi simbol kebangkitan nasional Prancis dan kesatuan bangsa.
Source: NLB eResources, Britannica, Christian History Institute, Sky HISTORY, Catholic Culture
(*/el)






