Jakarta, ELrolumNews – Ia bisa tumbuh sepanjang 3 meter, berbobot hingga 200 kilogram, memiliki sisik keras seperti baja, dan mampu bernapas di udara. Dialah Arapaima gigas, ikan air tawar terbesar di dunia yang menyimpan paradoks konservasi paling unik di abad ini.
Di habitat aslinya, Sungai Amazon, Brasil, ikan purba ini nyaris punah akibat perburuan liar. Namun di sisi lain planet, tepatnya di perairan Indonesia, ia menjelma menjadi monster invasif yang mengancam kelestarian ikan-ikan lokal.
Arapaima, yang oleh penduduk asli Amazon disebut “pirarucu” (pira = ikan, rucu = merah) karena warna ekornya yang kemerahan, adalah makhluk yang telah ada sejak era dinosaurus . Ikan ini memegang rekor sebagai ikan bersisik terbesar di dunia.
Karakteristik Fisik:
| Karakteristik | Deskripsi |
|---|---|
| Panjang Maksimal | Hingga 3-4,5 meter |
| Berat Maksimal | Hingga 200-250 kg (setara 2-3 orang dewasa) |
| Habitat Asli | Sungai Amazon, Brasil, Amerika Selatan |
| Makanan | Karnivora (ikan, burung, hewan kecil) |
| Umur | 15-20 tahun di alam liar |
| Nama Lokal | Pirarucu (Brasil), Paiche (Peru) |
Berbeda dengan ikan biasa, Arapaima memiliki kantung renang yang termodifikasi menyerupai paru-paru. Ini memungkinkannya untuk menghirup udara langsung dari permukaan. Ia hanya bisa terendam selama 10 hingga 20 menit sebelum harus naik ke permukaan untuk mengambil napas .
Suara napasnya yang keras terdengar seperti batuk, menjadi “musik” bagi para nelayan Amazon yang memburunya. Saat musim kemarau, ikan ini menjadi sangat mudah ditangkap karena ia terkungkung di perairan dangkal dan harus sering muncul ke permukaan .
Arapaima adalah contoh klasik “kekayaan alam yang dieksploitasi secara berlebihan”. Dagingnya yang lezat dan telurnya yang bernilai tinggi menjadikannya target utama para nelayan di Amazon selama lebih dari satu abad . Pada puncaknya, ikan ini nyaris punah di habitat aslinya.
Data Kelangkaan Arapaima:
Penurunan drastis: 19 persen dari 81 komunitas yang disurvei di Brasil melaporkan Arapaima berada di ambang kepunahan .
Berkurang populasi: Jumlahnya menurun drastis di 57 persen komunitas lainnya .
Eksploitasi berlebihan: Nelayan terus memburu Arapaima meskipun mereka tahu jumlahnya semakin sedikit .
Sebuah ironi terjadi dalam rantai industri kulit Arapaima. Kulitnya yang tebal dan berpola kini menjadi bahan buruan industri mode internasional. Sebuah tas tangan berbahan kulit Arapaima bisa dijual hingga Rp15 juta di Rio de Janeiro .
Namun, nelayan yang menangkap ikan ini hanya menerima sekitar Rp33 ribu per kilogram. Butuh tangkapan lebih dari 450 kg bagi seorang nelayan untuk mendapat pendapatan setara dengan satu tas mewah tersebut .
“Ini bukan untuk menjadi kaya. Orang-orang di sini hidup sehari-hari, hanya untuk bertahan. Tidak ada yang kaya,” ujar Pedro Canízio, nelayan Amazon, kepada BBC News Brasil .
Hingga akhir 1990-an, pemerintah Brasil melarang penangkapan Arapaima. Larangan itu kemudian dicabut pada 1999 dengan syarat super ketat: hanya 30 persen populasi ikan dewasa yang boleh ditangkap per tahun di area tertentu .
Masyarakat lokal kemudian mengambil alih peran konservasi. Mereka berpatroli di danau-danau, melaporkan penangkapan ikan ilegal, dan menerapkan kuota tangkap berkelanjutan .
Hasilnya mencengangkan. Berdasarkan penelitian oleh João Campos-Silva, seorang ahli ekologi Brasil dan National Geographic Explorer, populasi Arapaima meningkat 425 persen dalam 11 tahun di area yang menerapkan praktik penangkapan berkelanjutan . Jumlah itu bahkan terus tumbuh hingga 600 persen di beberapa wilayah.
“Untuk waktu yang sangat lama, orang mencari solusi di luar untuk masalah Amazon, tetapi kisah Arapaima menunjukkan bahwa jawabannya sering kali ada di tangan masyarakat lokal yang tinggal di hutan. Merekalah penjaga pengetahuan,” kata Campos-Silva kepada National Geographic .
Sementara di Brasil ia berjuang untuk bertahan hidup, di Indonesia Arapaima justru menjelma menjadi ancaman serius. Ikan yang populer sebagai koleksi akuarium mewah ini telah terlepas atau sengaja dilepasliarkan ke perairan umum.
Dosen Departemen Manajemen Sumberdaya Perikanan IPB, Dr. Mukhlis Kamal, memberikan peringatan keras pada 2018 saat pertama kali Arapaima ditemukan di Sungai Brantas, Sidoarjo .
“Karena habitat aslinya adalah perairan tropis sehingga akan sangat adaptif di perairan Indonesia yang juga beriklim tropis. Mulutnya yang besar serta gigi yang besar dan tajam dapat dipastikan ikan ini termasuk predator yang akan memakan semua jenis ikan,” tegas Mukhlis .
Beberapa fakta mengerikan tentang Arapaima di perairan Indonesia:
Ukuran Raksasa: Ikan yang ditemukan di Sungai Brantas pada 2018 mencapai panjang 1,5-2 meter dengan berat 40 kg, jauh dari ukuran maksimalnya .
Memakan Segala yang Bisa Dimakan: Sebagai predator puncak, Arapaima memakan semua jenis ikan yang ada di sekitarnya. Ia bahkan bisa memakan hewan kecil yang terjatuh ke air .
Tidak Memiliki Musuh Alami: Dengan ukuran tubuhnya yang sangat besar dan sisik yang keras, tidak ada predator alami yang mampu mengancam Arapaima dewasa di perairan Indonesia.
Suhu Ideal: Arapaima dapat hidup dengan baik pada suhu 25-31 derajat Celcius, yang sangat sesuai dengan iklim tropis Indonesia .
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Knowledge and Management of Aquatic Ecosystems (2020) mengonfirmasi kekhawatiran ini. Para peneliti dari berbagai institusi, termasuk IPB dan FAO, menemukan bahwa berdasarkan kecocokan iklim (climate matching) , sebagian besar wilayah Indonesia sangat sesuai untuk menjadi habitat Arapaima .
“Keeping in mind the size and predatory behaviour of A. gigas, we discussed possible consequences of its spread and impacts on native biota in Indonesia.” (Mengingat ukuran dan perilaku predator A. gigas, kami membahas kemungkinan konsekuensi penyebarannya dan dampaknya terhadap biota asli Indonesia) .
Temuan ini menjadi alarm bagi otoritas perikanan Indonesia untuk mengawasi ketat peredaran dan pelepasan ikan ini ke alam liar.
Selain Sungai Brantas, kemunculan Arapaima juga dilaporkan di sejumlah daerah, meskipun tak selalu menjadi ancaman. Di Sumber Polaman, Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Arapaima telah hidup berdampingan dengan ikan lain selama puluhan tahun.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring, mengakui bahwa ikan tersebut sudah ada di kolam sejak 30 tahun lalu dan tidak mengganggu ikan-ikan di sekitarnya. Namun, ia tetap memperingatkan potensi bahaya .
“Bisa saja ikan itu tidak mengganggu karena tidak ada yang mengganggu. Jangan sampai nanti ketika ada orang terjatuh, malah diserang,” ujarnya .
Arapaima juga menjadi primadona di kalangan kolektor ikan hias karena ukuran dan keunikannya. Seekor Arapaima berukuran kecil bisa dihargai Rp800 ribu, sementara yang berukuran besar bisa mencapai lebih dari Rp4 juta .
Ia masuk dalam jajaran ikan termahal dunia, bersama Platinum Arowana (hingga Rp5 miliar) dan Koi Kohaku (Rp23 miliar) .
Arapaima saat ini menghadapi dua nasib yang bertolak belakang. Di Amazon, ia menjadi simbol keberhasilan konservasi berbasis masyarakat yang berhasil menyelamatkannya dari kepunahan. Di Indonesia, ia menjadi momok yang mengancam keseimbangan ekosistem perairan tawar.
Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 19 Tahun 2020 telah memasukkan Arapaima ke dalam daftar jenis ikan yang dilarang untuk dimasukkan, dibudidayakan, dan diedarkan karena sifat invasifnya .
“Konservasi paradox of giant arapaima: endangered in its native range in Brazil and invasive in Indonesia,” demikian judul penelitian para ahli yang merangkum dilema spesies purba ini.






