Brussels, ELrolumNews – Kabar penting datang dari Eropa menyusul maraknya keluhan konsumen yang kehilangan akses ke game digital yang sudah mereka beli. Komisi Eropa menyatakan bahwa mereka tidak bisa memaksa pengembang game untuk membuat produknya tetap bisa dimainkan setelah ditarik dari peredaran .
Namun, sebagai kompromi, Komisi Eropa berjanji akan bekerja sama dengan industri video game dan kelompok konsumen untuk menyusun kode etik sukarela mengenai pengelolaan “akhir hayat” (end of life) sebuah game .
Langkah ini merupakan respons atas gugatan yang diajukan oleh kelompok konsumen Prancis, UFC-Que Choisir, terhadap raksasa game Ubisoft. Gugatan dilayangkan pada bulan Maret lalu setelah Ubisoft menutup server untuk game balap online mereka, “The Crew”.
Penutupan server tersebut membuat game yang sudah dibeli oleh para konsumen menjadi tidak bisa dimainkan sama sekali secara permanen.
Kasus ini mendapat dukungan luas dari kampanye “Stop Killing Games” yang muncul setelah kontroversi tersebut. Kampanye ini menuntut agar konsumen tidak kehilangan akses ke produk digital yang sudah mereka beli.
Ubisoft membela diri dengan menyatakan bahwa pemain hanya membeli “akses terbatas”, bukan kepemilikan penuh atas game tersebut.
Sementara itu, UFC-Que Choisir menuduh Ubisoft menyesatkan konsumen mengenai berapa lama game tersebut akan tersedia, serta menerapkan klausul kontrak tidak adil yang merampas hak kepemilikan konsumen.
Komisi Eropa mengakui bahwa aturan hak cipta dan kekayaan intelektual menjadi penghalang utama untuk mewajibkan game tetap bisa dimainkan selamanya.
Oleh karena itu, mereka memilih pendekatan yang lebih realistis: bekerja sama dengan organisasi konsumen dan otoritas terkait untuk meningkatkan kesadaran tentang hak-hak yang sudah ada.
“Penegakan aktif atas hak-hak konsumen yang sudah ada ini juga dapat mendorong penyedia untuk menawarkan video game dengan umur lebih panjang dan mengeksplorasi solusi untuk memenuhi harapan konsumen,” demikian pernyataan resmi Komisi Eropa, Selasa (16/6/2026).
Hingga berita ini diturunkan, UFC-Que Choisir dan kampanye Stop Killing Games belum memberikan tanggapan resmi atas langkah Komisi Eropa tersebut.
Keputusan ini menjadi perhatian global, mengingat semakin banyaknya konsumen yang mengeluhkan hilangnya akses ke game digital yang sudah mereka beli. Di Indonesia sendiri, isu serupa kerap muncul terutama terkait game online yang server-nya ditutup oleh pengembang.
(*/dbs)






