Jakarta, ElrolumNews – Keindahan burung cenderawasih telah dikenal dunia sejak berabad-abad lalu. Julukan “burung surga” (bird of paradise) melekat pada dirinya karena bulu-bulu indah yang dimiliki, terutama oleh burung jantan. Dari 43 spesies cenderawasih yang ada di dunia, 30 spesies di antaranya dapat ditemukan di Indonesia, dengan 28 spesies berasal dari Papua dan 2 spesies dari Maluku dan Halmahera.

Namun, di balik kemolekan bulunya, cenderawasih kini menghadapi ancaman serius. Perburuan liar, perdagangan ilegal, dan kerusakan habitat mengancam kelestariannya.
Keanekaragaman Cenderawasih di Papua dan Maluku
Papua menjadi rumah bagi mayoritas spesies cenderawasih. Hutan-hutan di Papua, mulai dari Pegunungan Arfak, Raja Ampat, Mamberamo, Yapen, hingga Wasur di Merauke, menjadi habitat alami mereka .
Beberapa spesies cenderawasih yang dikenal antara lain:
Cenderawasih kuning-kecil (Paradisaea minor): Tersebar di sepanjang Pulau Papua bagian utara, termasuk Kepulauan Yapen .
Cenderawasih merah (Paradisaea rubra): Endemik Indonesia, hanya ditemukan di Raja Ampat, Papua Barat .
Cenderawasih raja (Cicinnurus regius): Berukuran sekitar 16 cm dengan warna merah tua dan putih .
Cenderawasih goldi (Parotia berlepschi): Spesies paling langka dengan wilayah persebaran terbatas di Pegunungan Foja, Papua .
Cenderawasih gagak Halmahera (Lycocorax pyrrhopterus): Endemik di hutan dataran rendah Maluku .
Ancaman Serius: Perburuan dan Deforestasi
Perburuan liar menjadi ancaman terbesar bagi kelestarian cenderawasih. Sejarah mencatat, antara 1904 hingga 1908 saja, sebanyak 155.000 ekor cenderawasih dikirim ke London dan sekitar 1,2 juta ekor ke Prancis .
Pada masa itu, bulu cenderawasih menjadi primadona di Eropa, dijadikan hiasan kepala para perempuan bangsawan. Permintaan tinggi terus berlanjut hingga kini, meskipun statusnya telah dilindungi .
Deforestasi juga menjadi ancaman serius. Di Cagar Alam Pegunungan Fakfak, Papua Barat, aktivitas penebangan pohon menggunakan alat berat mengancam habitat cenderawasih. Kawasan ini menjadi rumah bagi tujuh spesies cenderawasih, termasuk cenderawasih kuning kecil, cenderawasih belah rotan, dan cenderawasih raja .
Penebangan pohon akan mempersempit ruang gerak burung cenderawasih serta mengurangi sumber pakan alaminya. Jika penebangan dilakukan secara masif, hal ini berpotensi menyebabkan penurunan populasi hingga kepunahan .

Status Perlindungan dan Upaya Konservasi
Cenderawasih dilindungi oleh Undang-Undang dan masuk dalam daftar CITES Appendix II, yang berarti perdagangan internasionalnya diatur ketat . Namun, penegakan hukum masih menjadi tantangan.
Ekowisata berbasis masyarakat menjadi salah satu solusi yang diharapkan dapat melindungi cenderawasih sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
Di Rhepang Muaif, Nimbokrang, Jayapura, ekowisata birdwatching berhasil mengubah pandangan masyarakat. Alih-alih berburu, warga kini menjaga hutan dan cenderawasih sebagai aset wisata. Pengunjung dapat menyaksikan empat spesies cenderawasih: Paradisaea minor, Seleucidis melanoleuca, Cicinnurus regius, dan Cicinnurus magnificus .
Peneliti cenderawasih Edoward Krisson Raunsay menekankan pentingnya penguatan kapasitas masyarakat lokal sebagai pelaku utama ekowisata melalui pelatihan, penyuluhan, dan pemberdayaan ekonomi .
“Dengan pendekatan yang tepat, ekowisata ini dapat menjadi pilar pembangunan berkelanjutan yang menghormati budaya lokal, menjaga warisan alam Papua, serta memperkuat posisi Indonesia dalam konservasi global,” ujar Edoward .
Cenderawasih Merah di Raja Ampat: Ikon Wisata yang Dilindungi
Di Desa Sawinggrai, Raja Ampat, cenderawasih merah (Paradisaea rubra) menjadi ikon wisata andalan. Pengunjung dapat menyaksikan atraksi tarian burung cenderawasih jantan di habitat aslinya pada pagi hari pukul 06.30-07.30 WIT atau sore hari pukul 16.30-18.30 WIT .
Masyarakat Desa Sawinggrai tidak memburu cenderawasih di hutan mereka, menjadikannya contoh sukses konservasi berbasis masyarakat.
(*/fvs)






