John Calvin Sang Arsitek Teologi Reformasi: Dari Pengasingan Menuju Pembentukan Dunia Modern

Bab 3: Panggilan yang Tak Terduga di Jenewa (1536)

3.1. Guillaume Farel: “Semoga Allah Mengutuk Ketenanganmu!”

Pada akhir 1536, ketika Calvin hanya bermaksud singgah semalam di Jenewa dalam perjalanan menuju Basel, ia bertemu dengan Guillaume Farel, seorang pengkhotbah reformasi yang berusia 47 tahun. Farel sedang berjuang keras untuk menanamkan Protestanisme di kota yang baru saja menggulingkan otoritas Uskup dan Adipati Savoy pada 1534.

Ketika Calvin menyatakan niatnya untuk melanjutkan perjalanan ke Basel dan menjalani kehidupan sebagai cendekiawan yang tenang, Farel tidak menerima penolakannya. Dengan amarah yang saleh, ia mengutuk Calvin:

“Semoga Allah mengutuk ketenanganmu dan kedamaian studi yang kau cari, jika dalam kebutuhan sebesar ini engkau mundur dan menolak memberikan bantuan dan pertolongan!”

Dengan kata-kata yang terasa seperti dari Allah sendiri bagi Calvin, ia akhirnya setuju untuk tinggal. Jenewa menjadi medan pelayanannya untuk 28 tahun ke depan, kecuali masa pengasingan singkat di Strasbourg.

3.2. Upaya Pertama yang Berakhir dengan Pengusiran (1536–1538)

Masa jabatan pertama Calvin di Jenewa (1536-1538) berlangsung singkat dan penuh gejolak. Bersama Farel, ia mencoba memberlakukan reformasi yang ketat, termasuk mewajibkan semua warga untuk secara terbuka bersumpah setia pada Pengakuan Iman Jenewa, sebuah pernyataan iman Reformed.

Namun, kelompok oposisi—yang disebut “kaum libertin”—memandang tindakan ini sebagai tirani. Ketika mereka memenangkan pemilihan dewan kota pada 1538, Calvin dan Farel diperintahkan untuk meninggalkan Jenewa dalam waktu tiga hari.

3.3. Strasbourg: “Tahun-tahun Paling Menyenangkan”

Calvin pergi ke Strasbourg, kota di wilayah Jerman yang saat itu dipimpin oleh reformator Martin Bucer. Di sini, ia menjalani tiga tahun yang disebutnya sebagai “tahun-tahun paling menyenangkan dalam hidupku”.

Ia melayani jemaat pengungsi Prancis, menikahi Idelette de Bure (seorang janda dengan dua anak), dan terus merevisi Institutes-nya. Strasbourg memberinya pengalaman praktis dalam menggembalakan jemaat—pengalaman yang akan ia gunakan ketika kembali ke Jenewa.

3.4. Kembali dengan Otoritas Penuh (1541–1564)

Jenewa memanggilnya kembali pada 1541. Namun kali ini, Calvin datang dengan persyaratan. Dewan kota menyetujui rencananya untuk mereformasi struktur gereja. Mereka menyetujui pendirian konsistori (pengadilan gereja) yang terdiri dari para pendeta dan penatua awam, yang bertugas untuk memantau ortodoksi keagamaan dan perilaku moral di Jenewa.

Bab 4: Jenewa Sebagai “Kota Bukit” (1541–1564)

4.1. Ordonansi Gerejawi 1541

Sekembalinya ke Jenewa pada 1541, Dewan Kota menyetujui rencana Calvin untuk mereformasi struktur gereja Jenewa. Ia menyusun Ecclesiastical Ordinances yang mendefinisikan empat jabatan dalam gereja:

· Pastor: berkhotbah dan melayani sakramen
· Doktor: mengajar teologi di akademi
· Penatua (Elder/Presbyter): awam yang duduk dalam konsistori
· Diaken: melayani kebutuhan sosial dan medis

Struktur ini dikenal sebagai pemerintahan gereja Presbiterian—pemerintahan oleh para penatua—yang membedakannya dari sistem episkopal (uskoppusat) Katolik dan sistem negara-gereja Lutheran. Namun, Calvin juga dengan tegas menolak kendali negara atas gereja, tidak seperti Zwingli di Zurich yang menggabungkan keduanya.

4.2. Konsistori dan Disiplin Kristen

Instrumen yang paling kuat—dan paling kontroversial—dari reformasi Calvin adalah konsistori: sebuah pengadilan gereja yang terdiri dari para pendeta dan 12 penatua awam yang dipilih oleh dewan kota.

Konsistori bertugas memantau “ortodoksi keagamaan dan perilaku moral” semua warga Jenewa. Pelanggaran yang diadili berkisar dari yang ringan (tidur saat khotbah, tertawa di gereja) hingga yang berat (penghujatan, perzinahan, dan bidah). Hukuman termasuk teguran publik, ekskomunikasi, hingga penyerahan kepada pengadilan sipil untuk hukuman yang lebih berat—termasuk hukuman mati.

Bagi Calvin, disiplin bukanlah tujuan akhir, melainkan tanda gereja yang benar—bersama dengan pemberitaan Firman dan pelayanan sakramen. Sebuah gereja tanpa disiplin, baginya, bukanlah gereja sejati. Ia ingin menjadikan Jenewa sebagai “kota di atas bukit,” model bagi masyarakat Kristen di seluruh Eropa.

4.3. Pendidikan dan Akademi Jenewa

Ketika ia mulai menata gereja, Calvin menyadari bahwa ia membutuhkan para pendeta yang terlatih. Ia mendirikan Akademi Jenewa pada 1559, sebuah lembaga yang kemudian disebut oleh para sejarawan sebagai “cikal bakal pendidikan publik modern”.

Akademi ini memiliki dua tingkatan: Schola Privata untuk pendidikan umum dalam bahasa Latin, Yunani, dan Ibrani, serta Schola Publica untuk pendidikan teologis tingkat lanjut. Para mahasiswa tidak hanya belajar teologi, tetapi juga mengembangkan karakter moral dan kehidupan iman mereka.

Dalam hitungan tahun, akademi ini melatih ratusan pendeta dan misionaris yang kemudian dikirim ke seluruh Eropa—khususnya ke Prancis yang sedang dilanda perang sipil agama. Calvin sendiri meninggal hanya lima tahun setelah akademi dibuka, tetapi pengaruhnya terus berlipat ganda melalui para muridnya.

4.4. Otoritas Intelektual dan Kharisma

Bagi para pengagumnya, Calvin memiliki otoritas intelektual yang tak terbantahkan ditambah energi yang tak kenal lelah, tekad yang tunggal, dan kemampuan organisasi yang luar biasa. Ia juga memiliki kharisma pribadi yang memikat.

Bagi para lawannya, ia angkuh, tidak sabar, dan siap melawan siapa pun yang tidak setuju dengan visinya tentang kehidupan gereja. Ia juga dikenal sebagai seorang polemikus yang sengit dalam membela apa yang ia yakini sebagai kebenaran.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

More like this

Dokter Anestesi: Profesi yang Lahir dari Penderitaan dan Perang...

History, ElrolumNews – Sebuah operasi di abad ke-19 digambarkan sebagai pemandangan yang mengerikan. Pasien harus diikat kuat-kuat di...

Arapaima: Monster Air Tawar Amazon yang Terancam Punah di...

Jakarta, ELrolumNews – Ia bisa tumbuh sepanjang 3 meter, berbobot hingga 200 kilogram, memiliki sisik keras seperti baja,...

Hidup dalam Kovenan: Dari Sabat, Gambar Allah, sampai Pernikahan

Theology, ElrolumNews -  Dari manusia yang lemah seperti debu, menjadi wakil Allah yang hidup dalam ritme dan rancangan...

More

Recomended

Read More