Jenewa, ElrolumNews – Wabah Ebola yang disebabkan oleh virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda terus meluas dan menjadi perhatian dunia. Hingga 1 Juli 2026, berdasarkan data update WHO dan Kementerian Kesehatan DRC, total kasus terkonfirmasi telah mencapai 1.307 kasus dengan 377 kematian . Angka ini terus bertambah seiring masih adanya penularan di komunitas dan keterbatasan akses ke wilayah terdampak.
Berbeda dengan wabah Ebola sebelumnya yang disebabkan oleh virus Zaire, wabah kali ini disebabkan oleh virus Bundibugyo (Bundibugyo virus disease/BVD). Hingga saat ini, belum ada vaksin atau obat spesifik yang disetujui untuk jenis virus ini .
Tingkat kematian (CFR) untuk BVD berkisar antara 30 hingga 50 persen, lebih rendah dari virus Zaire yang bisa mencapai 90 persen, tetapi tetap sangat mematikan . Dua wabah BVD sebelumnya terjadi di Uganda (2007) dan DRC (2012) .
Situasi darurat kesehatan global (PHEIC) telah dideklarasikan oleh WHO pada 17 Mei 2026 karena beberapa faktor kritis:
Jumlah kasus dan kematian yang tinggi – termasuk kematian di kalangan tenaga kesehatan yang mengindikasikan penularan di fasilitas kesehatan .
Penyebaran geografis yang luas – kasus telah dilaporkan di beberapa zona kesehatan di DRC (Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan) dan Uganda .
Tidak adanya vaksin dan terapi spesifik untuk virus Bundibugyo .
Ketidakamanan dan konflik di Provinsi Ituri, DRC, yang menghambat upaya respons dan memicu perpindahan penduduk .
WHO menyatakan bahwa wabah ini “terus melampaui upaya respons” . Pelacakan kontak (contact tracing) masih di bawah tingkat yang dibutuhkan, kapasitas perawatan dan isolasi tidak mencukupi, dan masih ada laporan kematian di masyarakat yang belum terdeteksi .
Para pekerja kesehatan berada di garis depan yang sangat berisiko. Hingga 24 Juni 2026, tercatat 82 tenaga kesehatan telah terinfeksi selama respons wabah ini, termasuk 78 di DRC dan 4 di Uganda . Selain itu, dilaporkan 7 insiden keamanan yang menargetkan personel respons Ebola, semakin menyulitkan upaya penanganan .
Untuk menghadapi krisis ini, WHO dan Africa CDC telah meluncurkan rencana respons kontinental yang membutuhkan pendanaan hingga 518 juta dolar AS (sekitar Rp8,4 triliun) .
Uji coba klinis untuk kandidat vaksin dan terapi, seperti antivirus (remdesivir, obeldesivir) dan antibodi monoklonal, dijadwalkan akan dimulai segera . Beberapa kandidat vaksin yang paling menjanjikan adalah rVSV Bundibugyo vaccine dan ChAdOx1 Bundibugyo vaccine, namun ketersediaannya untuk uji klinis masih beberapa bulan lagi.
(*/fvs)






