Mempawah, ELrolumNews — Menteri Pertahanan (Menhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin mengapresiasi kinerja militer Jepang yang telah membantu menangani bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan .
Sjafrie menyampaikannya saat mengunjungi kapal Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) JS Kunisaki beserta tiga helikopter CH-47 Chinook di Mempawah, Kalimantan Barat, Selasa (15/9/2026) .
Dikutip dari siaran pers Kemhan RI diterima di Jakarta, Sjafrie menerima laporan langsung dari personel militer Jepang terkait perkembangan penanganan karhutla .
Ia pun mengapresiasi seluruh kontribusi yang telah diberikan Jepang dalam menangani karhutla di Indonesia. Bahkan dalam kesempatan itu, Sjafrie menyempatkan diri untuk menelepon Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi untuk mengucapkan terima kasih secara langsung .
“Sebagai Menteri Pertahanan, saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi atas respons cepat dalam memberikan bantuan helikopter CH-47 yang dilengkapi kemampuan pemadaman kebakaran,” kata Sjafrie .
Ia mengharapkan kerja sama itu dapat meringankan beban Pemerintah Indonesia dalam menangani karhutla, sekaligus semakin mempererat hubungan Indonesia dengan Jepang .
“Yang paling penting adalah bagaimana seluruh kemampuan yang ada dapat digunakan untuk melindungi masyarakat, mempercepat pemadaman, dan mengurangi dampak karhutla. Itulah manfaat nyata dari hubungan baik dan diplomasi pertahanan Indonesia dan Jepang,” ucap Sjafrie .
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Letjen TNI Tri Budi Utomo dalam siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI menjelaskan tiga helikopter Jepang beroperasi menangani karhutla mulai 12 September sampai 19 September 2026 .
Dia menjelaskan kedatangan bantuan dari Jepang ini tidak menggeser Pemerintah Indonesia sebagai leading sector penanganan karhutla .
Menurut Tri Budi, bantuan tersebut merupakan bagian dari kerja sama pertahanan komprehensif atau Defence Cooperation Arrangement (DCA) antara Indonesia dan Jepang yang ditandatangani pada 4 Mei 2026 .
Dalam kerja sama tersebut, salah satu ruang lingkup utamanya mencakup pengelolaan bencana, termasuk Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR). Karena itu, menurutnya, kerja sama tersebut bersifat kemanusiaan dan perlu dipandang dalam kerangka diplomasi secara utuh .
“Jadi, seluruh kemampuan nasional tetap dikerahkan. Bantuan Jepang kemudian diintegrasikan dengan seluruh operasi penanganan karhutla yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia,” tutur dia.
(*/fvs)





