Jakarta, ElrolumNews – Dunia kesehatan sedang mengalami pergeseran besar. Di tahun 2026, konsep “sehat” tidak lagi sekadar bebas dari penyakit atau memiliki tubuh ideal. Generasi muda, terutama Gen Z dan Milenial, kini mulai mengadopsi pendekatan yang lebih utuh: Holistic Wellness atau kesehatan holistik.
Tren ini menekankan keseimbangan antara kesehatan fisik, mental, emosional, sosial, dan bahkan kepedulian terhadap lingkungan. Ini adalah respons terhadap gaya hidup modern yang serba cepat dan serba digital yang kerap memicu stres dan kelelahan mental.
Perusahaan wearable terkemuka, Garmin, dalam laporan tren wellness 2026, mencatat pergeseran prioritas yang signifikan. Jika dulu kesehatan lebih banyak dimaknai sebagai kebugaran fisik dan bebas dari penyakit, kini generasi muda disebut lebih mengutamakan keseimbangan mental .
“Konsep wellness sendiri dinilai semakin bertumpu pada empat pilar utama, yakni nutrisi sehat, aktivitas fisik rutin, kesehatan mental (mindfulness), serta hubungan sosial yang berkualitas,” demikian pernyataan Garmin dalam acara peluncuran tren di Jakarta, Februari 2026 .
Praktik-praktik seperti meditasi, latihan pernapasan (breathwork), yoga, dan refleksi diri kini semakin diminati. Kesehatan mental dipandang setara pentingnya dengan kesehatan fisik.
Garmin juga menyoroti meningkatnya kesadaran terhadap digital wellbeing. Banyak anak muda mulai membatasi waktu layar dan melakukan detoks digital untuk mengurangi stres akibat konektivitas berlebihan.
Tren “wellness tourism” atau wisata kesehatan juga diprediksi terus tumbuh . Liburan tidak lagi sekadar rekreasi, tetapi menjadi sarana pemulihan fisik dan mental melalui program yoga, meditasi, hingga perawatan spa di destinasi yang menawarkan ketenangan.
Indonesia sendiri menjadi salah satu pemain utama dalam tren ini. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) secara resmi menetapkan wellness tourism sebagai salah satu program prioritas untuk menarik wisatawan mancanegara, dengan lokasi utama di Bali, Solo, dan Yogyakarta .
Yang menarik, istilah “sleep tourism” (wisata tidur) juga mulai muncul sebagai bagian dari tren wellness, di mana hotel dan resor berinvestasi pada desain akustik, pencahayaan sirkadian, dan ritual tidur terpandu untuk meningkatkan kualitas istirahat tamu . Thailand menjadi salah satu negara yang paling gencar mempromosikan konsep “Sanctuary of Sleep” sebagai bagian dari ekosistem “Wellness Hub Thailand” .
Selain latihan solo, tren Social Fitness atau olahraga berkelompok juga menjadi salah satu yang terbesar di 2026 . Di tengah kelelahan digital, orang-orang merindukan interaksi sosial yang nyata.
Dari tingkat biologis, saat kita berolahraga bersama, tubuh melepaskan tidak hanya endorfin tetapi juga oksitosin—hormon yang meningkatkan ikatan sosial dan kepercayaan . Akuntabilitas dalam kelompok, dukungan dari teman latihan, dan energi kolektif di kelas kebugaran menjadi daya tarik utama tren ini.
Tren wellness juga menyentuh aspek lingkungan. Garmin mencatat meningkatnya kesadaran terhadap eco-conscious living atau gaya hidup ramah lingkungan . Generasi muda semakin memilih aktivitas seperti berjalan kaki, bersepeda, dan mengurangi jejak karbon harian sebagai bagian dari pola hidup sehat.
Meskipun tren ini positif, para ahli mengingatkan agar tidak terjebak dalam obsesi berlebihan. Risiko seperti orthosomnia (kecemasan akibat obsesi tidur sempurna) dan tekanan untuk mencapai standar wellness tertentu dapat menjadi bumerang.
Kuncinya adalah menjalani gaya hidup sehat secara seimbang, berkelanjutan, dan tidak membandingkan diri dengan orang lain.
(*/fvs)





