Mereka menyerang bersama-sama. Han Liong dan Pauw Lian menyerang dari depan, pedang putih dan hitam mereka menyatu dalam serangan gabungan yang dahsyat. Putri Lian menyerang dari samping dengan energi ungunya, dan Ken Arok muncul dari bayangan di belakang Arya Putra. Arya Putra terkejut oleh serangan terkoordinasi itu. Ia berhasil menghindari serangan Ken Arok, tetapi serangan gabungan Han Liong dan Pauw Lian mengenai zirahnya, meretakkannya. “TIDAK!” teriaknya. “Ini belum berakhir!” Ia mengumpulkan seluruh energi gelapnya dan melancarkan ledakan besar yang menghantam mereka semua. Han Liong, Pauw Lian, Putri Lian, dan Ken Arok terlempar ke berbagai arah.
Han Liong terjatuh di lantai, tubuhnya lemah dan darah mengalir dari lukanya. Ia melihat Pauw Lian tergeletak tidak jauh darinya, juga terluka. Putri Lian dan Ken Arok terlempar ke sisi lain aula. Arya Putra berdiri di tengah, tertawa terbahak-bahak. “Lihat! Inilah kekuatan sejati! Kalian semua lemah! Kalian semua tidak berguna!” Ia berjalan menuju Han Liong dengan pedang terangkat. “Selamat tinggal, adikku. Aku akan mengakhiri garis keturunan ayah kita selamanya.” Han Liong menatap pedang yang akan menebasnya, dan dalam detik-detik terakhir, ia teringat pada semua yang telah ia lalui — keempat gurunya, Pauw Lian, perjalanan mereka, cinta mereka. Dan ia tahu, ia tidak bisa menyerah.
Dalam momen kritis itu, Han Liong teringat pada kata-kata Guru Cu Kang: “Ilmu pedang bukanlah untuk balas dendam. Ilmu pedang adalah untuk melindungi.” Dan kata-kata Guru Beng Hoat: “Saat kau berada dalam kegelapan, ingatlah bahwa cahaya sejati berasal dari dalam.” Han Liong menutup matanya, dan ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir di dalam dirinya — bukan hanya kekuatan pedangnya, tetapi kekuatan dari semua orang yang mencintainya. Dari keempat gurunya. Dari Pauw Lian. Dari Putri Lian dan Ken Arok. Dari ayah dan ibunya, yang meskipun telah tiada, masih hidup dalam hatinya. Ia membuka matanya, dan pedang putihnya menyala dengan cahaya yang belum pernah ia lihat sebelumnya — cahaya yang lebih terang dari matahari.
Han Liong bangkit, dan seluruh tubuhnya bersinar dengan cahaya keemasan. Pedang putihnya bukan lagi pedang biasa — ia telah berubah menjadi sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang lebih suci. “Kau benar, kakak,” kata Han Liong dengan suara tenang namun bergema. “Aku tidak sekuat kau. Aku tidak sekeras kau. Tetapi aku memiliki sesuatu yang tidak pernah kau miliki — aku memiliki cinta. Dan cinta, kakak, adalah kekuatan terbesar di dunia.” Ia melesat ke depan, dan dalam satu gerakan yang indah, ia menebas pedang Arya Putra. Pedang itu patah menjadi dua. Arya Putra terjatuh ke lututnya, mata terbelalak, tidak percaya. “Bagaimana… bagaimana bisa?”
Arya Putra menatap Han Liong dengan mata yang kini dipenuhi air mata. “Aku… aku telah melakukan begitu banyak hal buruk. Aku telah membunuh ayahmu. Aku telah menghancurkan keluargamu. Aku telah menyebarkan kebencian ke seluruh dunia.” Han Liong menurunkan pedangnya dan berlutut di hadapan kakaknya. “Kau adalah kakakku. Dan aku tidak akan membunuhmu. Aku akan memberimu kesempatan untuk berubah.” Arya Putra terkejut, “Kau… kau memaafkanku? Setelah semua yang kulakukan?” Han Liong mengangguk, “Aku memaafkanmu. Karena itulah yang diajarkan oleh ayah kita — pengampunan. Dan karena itulah yang Pauw Lian ajarkan padaku — bahwa cinta selalu lebih kuat dari kebencian.”





