Rupiah Melemah ke Rp17.725, Ancaman Tarif Impor Trump Ancam Ekspor Manufaktur RI hingga 18 Persen!

Jakarta, ELrolumNews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan pada perdagangan Selasa (16/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 19 poin ke level Rp17.725 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.708 .

Padahal sebelumnya, rupiah sempat menguat 5 poin di tengah optimisme menyusul kesepakatan awal antara AS dan Iran yang membuka peluang pembukaan kembali Selat Hormuz . Namun, sentimen positif itu tak bertahan lama karena kekhawatiran baru muncul.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah kali ini dipicu oleh eskalasi kecemasan pelaku pasar global atas dinamika hubungan dagang bilateral .

Pemerintah AS tengah merancang kebijakan proteksionisme ekonomi berupa tarif impor tambahan terhadap sejumlah produk asal Indonesia . Kebijakan tersebut berpotensi menekan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar AS .

“Bagi Indonesia, pasar AS memiliki arti penting. AS merupakan pasar nonmigas terbesar kedua bagi Indonesia,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (16/6/2026) .

Rencana tarif tambahan ini mengacu pada Pasal 301 Trade Act 1974 dan dijadwalkan mulai berlaku secara bertahap pada 24 Juli 2026 .

Sebelumnya, Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) telah menetapkan forced labor tariff sebesar 10 persen terhadap Indonesia dan lima negara lainnya . Pemerintah memperkirakan tarif untuk produk Indonesia dapat meningkat hingga 18 persen setelah investigasi terkait kapasitas berlebih (excess capacity) selesai dilakukan .

Jika kebijakan ini diterapkan, sektor-sektor tertentu diperkirakan akan paling terdampak:

  • Mesin dan peralatan listrik

  • Alas kaki

  • Pakaian jadi

  • Berbagai aksesori 

Kebijakan ini tidak hanya berisiko mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar AS, tetapi juga dapat mempengaruhi tingkat utilisasi pabrik, investasi, hingga penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur .

Nilai ekspor nonmigas Indonesia ke AS pada periode Januari-Juni 2025 mencapai 14,79 miliar dolar AS atau sekitar 11,52 persen dari total ekspor nonmigas nasional .

Saat ini, ekspor Indonesia ke AS masih dikenai tarif global sebesar 10 persen berdasarkan Pasal 122 Trade Act AS yang berlaku sejak Februari 2026 .

Selain ancaman tarif, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada keputusan sejumlah bank sentral dunia, termasuk Federal Reserve (The Fed), Bank Sentral Jepang (BOJ), dan Bank of England .

“Pasar akan mengamati dengan cermat komentar dari Ketua Fed Kevin Warsh untuk mendapatkan petunjuk tentang arah suku bunga AS di masa mendatang,” tegas Ibrahim .

Meskipun dibayangi sentimen negatif, Ibrahim memproyeksikan rupiah masih memiliki peluang penguatan pada perdagangan Rabu (17/6/2026).

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.690 hingga Rp17.728 per dolar AS,” jelasnya

(*/dbs)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Dijual Rumah - Nego langsung dengan pemilik-Tanpa Perantara

Rumah di Mountain view residen blok c1 no 9 paniki bawah kota manado - Asri, lokasi strategis dekat bandara, dekat pusat bisnis -Nego langsung dengan pemilik - tanpa perantara - SHM - Luas bangunan 125m2, luas tanah 330 m2, 4 kamar, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga, air perumahan, listrik 5500 watt, carport, security 24/7 - yang berminat bisa menghubungi:
Pemilik: wa: 0811439028

More like this

Respon Pasar Positif! Rupiah Menguat Drastis 129 Poin ke...

Jakarta, KomentarNews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat cukup signifikan pada perdagangan Selasa (9/6/2026)...

Rupiah Ambruk ke Level Terendah Sepanjang Sejarah Rp18.261 per...

Jakarta, ElrolumNews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mencatatkan rekor terendah sepanjang masa pada perdagangan...

More

Recomended

Read More