Jakarta, ElrolumNews – Di tahun 2026, definisi “kemewahan” dan “status sosial” mengalami pergeseran yang cukup menarik. Jika dulu simbol status diukur dari tas bermerek, jam tangan mewah, atau mobil sport, kini para anak muda urban mulai beralih pada sesuatu yang tidak bisa dibeli begitu saja: tubuh yang kuat, bugar, dan berotot. Tren ini dikenal dengan sebutan “Muscle is The New Luxury”.
Fenomena ini menandakan pergeseran paradigma yang signifikan. Di kalangan Gen Z dan Milenial, memiliki otot yang terbentuk dengan baik bukan lagi sekadar soal penampilan, tetapi dianggap sebagai bukti nyata dari disiplin, komitmen, dan “investasi” kesehatan jangka panjang .
“Konsep ini menjadikan otot sebagai aset berharga yang harus diinvestasikan, bukan hanya untuk penampilan tetapi juga untuk mencegah penyakit degeneratif di masa tua,” demikian kutipan dari analisis tren gaya hidup di Female Daily .
Pergeseran ini didorong oleh beberapa faktor. Pertama, “kelelahan bermerek” (luxury fatigue) mulai dirasakan oleh banyak orang ketika barang-barang branded menjadi terlalu umum dan mudah ditiru. Sebagai gantinya, penampilan fisik yang prima—yang membutuhkan waktu, uang, dan dedikasi untuk mencapainya—menjadi cara baru untuk menunjukkan status sosial .
Seperti yang diulas oleh Grazia India, “lengan kencang” kini dianggap sebagai “aksesori orang kaya baru” (new rich girl accessory) karena hanya mereka yang memiliki waktu luang dan akses ke pelatih pribadi, nutrisi yang baik, serta fasilitas gym premium yang bisa mendapatkannya . Seorang pakar nutrisi menjelaskan, “Anda tidak bisa membentuk bahu yang indah hanya dengan makan salad. Untuk mencapai bentuk ini, Anda harus makan untuk pertumbuhan.” .
Tren ini semakin populer karena didukung oleh para selebritas dunia. Miley Cyrus, yang tampil dengan lengan berotot di ajang Grammy Awards, dan Dua Lipa yang dikenal dengan stamina dan otot panggungnya, menjadi ikon baru yang menunjukkan bahwa “feminin” dan “berotot” bukanlah hal yang bertentangan . Bahkan di Indonesia, tren lari dan gym juga semakin digemari, dengan survei Populix yang menyebutkan 94% Gen Z dan Milenial aktif berolahraga, dengan lari (44%) dan gym (26%) sebagai favorit .
Meski trend ini mengarah pada gaya hidup yang lebih sehat, para ahli mengingatkan agar tidak sampai menjadi obsesi. Ada risiko yang mengintai jika tren ini disalahartikan, seperti tekanan untuk mencapai bentuk tubuh tertentu yang dapat memicu gangguan makan dan dismorfia tubuh . Kuncinya adalah menjalani tren ini sebagai bagian dari gaya hidup yang seimbang dan berkelanjutan, bukan sebagai standar kecantikan baru yang mengikat.
(*/fvs)






