Seoul, ElrolumNews — Para diplomat top Korea Selatan dan Amerika Serikat sepakat untuk terus menjaga komunikasi dan kerja sama yang erat terkait isu nuklir Korea Utara dan perdamaian di Semenanjung Korea. Kesepakatan ini dicapai dalam pembicaraan telepon antara Menteri Luar Negeri Korsel Cho Hyun dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Senin (24/8).
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya spekulasi mengenai potensi pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Trump baru-baru ini menyatakan harapannya untuk bertemu dengan Kim akhir tahun ini, dengan rencana pertemuan diperkirakan pada bulan November . Sebelumnya, ia juga memerintahkan pengurangan latihan militer gabungan AS-Korsel, yang dianggap sebagai sinyal perdamaian kepada Pyongyang.
Langkah diplomasi ini dipicu oleh keputusan mendadak Trump pada 16 Agustus untuk memerintahkan pengurangan skala latihan militer gabungan tahunan “Ulchi Freedom Shield” (UFS) . Latihan yang semula dijadwalkan berlangsung selama 11 hari (17-27 Agustus) itu dihentikan lebih cepat pada 21 Agustus, hanya berjalan 5 hari . Trump mengeluhkan biaya latihan yang besar dan menyebut latihan tersebut “tidak pantas” dan “bermusuhan” terhadap Korea Utara.
Yang menarik, langkah Trump yang awalnya bertujuan “menekan” Korea Selatan justru dibalas dengan cerdik oleh Presiden Korsel Lee Myung-bak . Alih-alih memprotes, Lee justru menyatakan dukungannya dan memanfaatkan momen ini untuk memperkuat posisi “pertahanan Korea sentris”. Lee menyatakan bahwa keamanan Semenanjung Korea harus menjadi tanggung jawab Korea Selatan sendiri, dan mengungkapkan ambisinya untuk menyelesaikan transfer wewenang komando perang masa perang dari AS ke Korsel selama masa jabatannya.
Sementara itu, Korea Utara merespons dengan hati-hati. Kim Yo-jong, adik Kim Jong-un, menyatakan bahwa mereka “tidak tahu apa-apa” tentang komunikasi atau rencana pertemuan dengan Trump, tetapi menegaskan bahwa hubungan pribadi kedua pemimpin masih “sangat baik” . Pyongyang menekankan bahwa meskipun ada pengurangan latihan, kebijakan AS yang dianggap bermusuhan masih belum berubah.
Keputusan sepihak Trump ini telah menimbulkan kekhawatiran mengenai stabilitas aliansi dan keandalan komitmen keamanan AS . Korea Selatan mengaku tidak diberitahu sebelumnya tentang keputusan tersebut, yang mengejutkan pejabat di Seoul . Analis memperingatkan bahwa langkah ini dapat melemahkan kepercayaan dan membuat sistem pertahanan gabungan menjadi kurang dapat diprediksi.
(*/fvs)





