Kucing yang Menyelamatkan Kota dari Wabah: Ketika Takhyul Hampir Memusnahkan Penyelamat Manusia

History, ElrolumNews  – Pada abad ke-14, Eropa dilanda mimpi buruk. Wabah Hitam merenggut lebih dari sepertiga populasi benua itu—sekitar 25 juta jiwa . Tapi di balik tragedi besar itu, ada ironi yang jarang diketahui: manusia sendiri yang mempercepat kehancuran mereka. Dengan membantai jutaan kucing karena takhyul, mereka membuka pintu bagi tikus pembawa wabah untuk berkembang biak tanpa kendali . Kucing—yang seharusnya menjadi benteng pertahanan pertama melawan wabah—justru dimusnahkan karena dianggap sebagai “peliharaan iblis”.

illustration of a medieval European city street during the Black Death, rats swarming everywhere

Pada 13 Juni 1233, Paus Gregorius IX mengeluarkan dekrit kepausan bernama Vox in Rama. Dokumen ini secara resmi mengaitkan kucing hitam dengan okultisme dan penyembahan setan . Dalam dokumen itu, disebutkan bahwa dalam ritual pemujaan setan, iblis muncul di hadapan pengikutnya dalam wujud kucing hitam.

Dampaknya luar biasa. Kucing, terutama yang berbulu hitam, dicap sebagai makhluk supernatural yang membantu penyihir menjalankan sihir hitam . Mereka dianggap sebagai familiar—pendamping setan yang harus dimusnahkan.

Di seluruh Eropa, kucing dibantai secara massal. Mereka ditangkap, dimasukkan ke dalam karung atau keranjang, dan dibakar hidup-hidup di atas api unggun dalam acara-acara publik yang justru dianggap sebagai hiburan rakyat . Di beberapa wilayah, aksi sadis ini bahkan menjadi tradisi tahunan.

Di Ypres, Belgia, misalnya, ada festival tahunan Kattenstoet—Festival Kucing. Pada masa itu, festival ini melibatkan melemparkan kucing dari puncak menara lonceng Cloth Hall ke jalan berbatu di bawah, lalu membakarnya . Tradisi ini berlanjut hingga 1817.

illustration of a medieval town square, a bonfire with cats being thrown into it

Dengan populasi kucing yang hampir punah, tikus berkembang biak tanpa kendali. Tikus-tikus ini membawa kutu yang terinfeksi Yersinia pestis—bakteri penyebab wabah pes . Tanpa kucing sebagai predator alami, tikus menyebar melalui pelabuhan dagang, kapal-kapal, dan jalan-jalan kota . Dalam waktu singkat, wabah meledak .

Pada 1347–1351, Wabah Hitam melanda Eropa. Diperkirakan 25 juta orang—atau sekitar sepertiga populasi Eropa saat itu—tewas . Kota-kota porak-poranda. Keluarga kehilangan orang yang dicintai. Seluruh desa musnah.

Ironisnya, beberapa kelompok justru tampak lebih kebal terhadap wabah. Para janda dan wanita tua sering selamat dari wabah yang merenggut tetangga mereka. Penduduk desa yang ketakutan menuduh mereka sebagai penyihir dan membunuh mereka . Padahal, jika mereka menggunakan akal sehat, mereka akan melihat bahwa para wanita itu selamat karena mereka memelihara kucing. Kucing-kucing mereka menjaga tikus tetap menjauh—dan menjaga mereka dari wabah.

Haunting illustration of a medieval city during the Black Death

Kisah kucing sebagai penyelamat kota tidak hanya terjadi di Eropa abad pertengahan. Pada Perang Dunia II, cerita yang hampir sama terulang di Leningrad (kini St. Petersburg), Rusia.

Selama pengepungan Nazi yang berlangsung 872 hari, kelaparan memaksa penduduk memakan hampir semua kucing di kota . Akibatnya, tikus berkembang biak dengan liar. Mereka memakan sisa persediaan makanan, menyebarkan penyakit, dan bahkan menyerang manusia yang kelaparan dan tidak berdaya .

Seorang penyintas pengepungan, Zoya Kornilievna, mengenang:

“Pada musim semi 1942, saya dan adik saya pergi ke kebun sayur yang ditanam di stadion. Tiba-tiba, kami melihat massa abu-abu mendekat. Tikus! Saat kami mencapai kebun sayur, semua sayurannya sudah habis dimakan hewan pengerat.”

Pada September 1942, ketua Dewan Kota Leningrad menulis surat tentang “keluhan melimpahnya hewan pengerat” dan “hampir tidak adanya kucing di kota” .

Setelah pengepungan berakhir, pemerintah Soviet mengambil langkah drastis. Pada April 1943, mereka mengeluarkan dekrit untuk mendatangkan empat gerbong kucing dari wilayah Yaroslavl . Antrean panjang terbentuk di kota untuk mendapatkan kucing. Orang-orang rela menukarkan jatah roti mereka yang paling berharga dengan seekor kucing .

Kucing-kucing itu—yang kemudian disebut “Divisi Mengeong” (Miaowing Division)—berhasil menekan populasi tikus, melindungi persediaan makanan, dan membantu memulihkan kesehatan kota . Kucing-kucing ini menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, dan hingga kini, monumen untuk mereka berdiri di St. Petersburg sebagai pengingat akan jasa mereka.

Illustration of a snowy Russian city during World War II

Dari abad pertengahan hingga Perang Dunia II, kucing telah menjadi pahlawan yang tak diakui dalam sejarah manusia. Mereka menjaga persediaan makanan, melindungi kota dari wabah, dan menyelamatkan nyawa—tanpa pernah meminta imbalan.

Namun ironi sejarah tetap menyakitkan: manusia membantai jutaan kucing karena takhyul, dan kemudian membayar harga dengan puluhan juta nyawa. Jika saja mereka menggunakan akal sehat alih-alih ketakutan, jawaban atas wabah ada di depan mata mereka: di ujung ekor kucing.

Di Dubrovnik, Konstantinopel, dan kota-kota pelabuhan lainnya, kucing adalah garis pertahanan pertama melawan wabah. Dan di St. Petersburg hari ini, kucing bukan sekadar hewan peliharaan. Mereka adalah pengingat: bahwa dalam kehancuran, kehidupan bisa kembali—bahkan dengan cara yang paling tak terduga .

Dan pertanyaan kecil tetap bergema: Bagaimana jika kucing-kucing itu tidak pernah dimusnahkan? Berapa banyak nyawa yang bisa diselamatkan?

Meskipun sejarawan modern masih memperdebatkan seberapa besar peran pembantaian kucing dalam penyebaran Wabah Hitam , sebagian besar sepakat bahwa hubungan antara kucing, tikus, dan penyakit adalah nyata. Beberapa sumber menyebut bahwa cerita tentang kucing di Leningrad mungkin lebih merupakan legenda daripada fakta yang terdokumentasi secara resmi . Namun yang jelas: kucing telah menjadi bagian penting dari sejarah manusia—sebagai pemburu hama, pelindung persediaan makanan, dan dalam banyak kasus, penyelamat nyawa.

Artikel ini adalah bagian dari seri “Momen Sepele yang Mengubah Dunia”. Pantau terus rubrik sejarah kami untuk edisi-edisi berikutnya.

(el)

SUMBER DAN RUJUKAN
  1. Pravda.ru – Kisah kucing yang menyelamatkan Leningrad dari tikus selama pengepungan Nazi, termasuk dekrit mendatangkan kucing dari Yaroslavl.
  2. detik.com – Sejarah kucing sebagai simbol buruk di Eropa abad pertengahan, termasuk dekrit Paus Gregorius IX Vox in Rama.
  3. Radar Nganjuk – Dampak pembantaian kucing terhadap penyebaran Wabah Hitam di Eropa abad ke-14 .
  4. Condé Nast Traveller – Sejarah festival Kattenstoet di Ypres, Belgia, dan hubungannya dengan Wabah Hitam.
  5. MK.ru (Moskovsky Komsomolets) – Dokumentasi tentang “Divisi Mengeong” dan peran kucing dalam menyelamatkan Leningrad.
  6. Kompasiana – Analisis hubungan antara pembantaian kucing dan penyebaran Wabah Hitam.

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

More like this

Jarum tulang berusia 40.000 tahun—teknologi sederhana yang memungkinkan manusia bertahan di iklim ekstrem dan menaklukkan dunia

Jarum yang Memungkinkan Manusia Menaklukkan Dunia

History, ELrolumNews - Bayangkan dunia tanpa jarum. Tanpa kemampuan menjahit kulit hewan menjadi pakaian hangat. Tanpa tenda...
Cermin Archimedes—mitos atau fakta? Kisah tentang kaca pembesar raksasa yang membakar kapal Romawi dan mengubah taktik perang.

Kaca Pembesar yang Membakar Kapal Romawi: Ketika Cermin Archimedes...

History, ElrolumNews - Tahun 212 SM. Kota Syracuse di Sisilia dikepung oleh armada Romawi. Kapal-kapal perang yang...
Sandal emas Firaun Tutankhamun—alas kaki sederhana yang mengungkap jaringan perdagangan dan diplomasi Mesir kuno

Sandal yang Mengubah Sejarah Mesir Kuno: Ketika Alas Kaki...

History, ElrolumNews - Tahun 1922, di Lembah Para Raja, Mesir. Arkeolog Howard Carter menatap celah kecil di...

More

Recomended

Read More