History, ElrolumNews – Pada abad ke-19, rumah-rumah mewah di Inggris dan Amerika Serikat dihiasi dengan kertas dinding bermotif bunga yang indah. Warna hijau zamrud yang mencolok dikenal sebagai Scheele’s Green menjadi primadona dekorasi rumah.
Tapi di balik keindahan itu, tersembunyi ancaman mematikan: arsenik. Jutaan gulung kertas dinding beracun diproduksi setiap tahunnya, dan mereka yang tinggal di dalam ruangan yang dihiasi kertas ini perlahan-lahan diracuni oleh dinding rumah mereka sendiri.

Pada 1775, seorang kimiawan Swedia bernama Carl Wilhelm Scheele menciptakan pigmen hijau cerah yang memukau dunia. Scheele’s Green dibuat dari tembaga arsenit, senyawa yang mengandung arsenik. Warnanya yang cemerlang dan tahan lama membuatnya langsung populer di kalangan desainer dan konsumen.
Pada 1814, seorang industrialis Jerman bernama Wilhelm Sattler menyempurnakan formula ini dengan menciptakan Schweinfurt Green (juga dikenal sebagai Paris Green), yang menghasilkan warna hijau yang lebih pekat dan stabil. Pigmen ini tidak hanya digunakan untuk kertas dinding, tapi juga untuk pakaian, mainan anak-anak, dan bahkan pewarna makanan.

Masyarakat Victoria tahu bahwa arsenik berbahaya jika ditelan, mereka menyebutnya sebagai “inheritance powder” atau bubuk warisan, karena sering digunakan untuk membunuh kerabat kaya demi mendapatkan harta warisan.
Tapi mereka percaya bahwa kertas dinding aman selama tidak dimakan. Dokter Thomas Orton, misalnya, merawat sebuah keluarga yang keempat anaknya meninggal karena penyakit misterius. Satu-satunya petunjuk: kamar tidur mereka memiliki kertas dinding hijau .
Pada 1862, sebuah peristiwa mengerikan terjadi di London Timur: anak-anak meninggal setelah menjilat kertas dinding hijau di rumah mereka.
Kasus ini dan banyak lainnya mendorong para dokter untuk mulai menyuarakan peringatan.
Sebuah laporan dari Selandia Baru pada 1875 menggambarkan seorang pemuda di Wellington yang jatuh sakit parah setelah menghabiskan waktu di kamar dengan kertas dinding hijau.
Analisis kimia menunjukkan bahwa sepotong kertas seukuran telapak tangan mengandung arsenik cukup untuk membunuh orang dewasa.
Yang lebih menakutkan: arsenik dari kertas dinding bisa terlepas ke udara, terutama dalam kondisi lembab. Penghuni rumah tidak perlu menjilat dinding untuk keracunan, mereka hanya perlu bernapas .
Salah satu korban paling terkenal dari arsenik adalah Napoleon Bonaparte. Setelah kekalahannya di Waterloo pada 1815, ia diasingkan ke Pulau Saint Helena di Samudra Atlantik.
Di sana, ia tinggal di sebuah ruangan dengan dinding bercat hijau. Setelah kematiannya pada 1821, analisis rambutnya menunjukkan kadar arsenik yang tinggi .
Banyak sejarawan berspekulasi bahwa arsenik dari kertas dindinglah yang perlahan-lahan meracuni kaisar Prancis yang terguling itu.
Keindahan yang membunuh, sebuah ironi tragis bagi pria yang pernah menguasai Eropa.

Pada 1874, seorang dokter dan kimiawan Amerika bernama Dr. Robert Clark Kedzie menerbitkan sebuah buku yang kemudian dikenal sebagai buku paling berbahaya di dunia. Judulnya: “Shadows from the Walls of Death: Facts and Inferences Prefacing a Book of Specimens of Arsenical Wall Papers” .
Buku ini berisi 84 sampel kertas dinding yang mengandung arsenik, dan secara paradoks, buku itu sendiri menjadi berbahaya bagi siapa pun yang membacanya. Sekitar 100 eksemplar dicetak dan didistribusikan ke perpustakaan di seluruh Amerika Serikat. Ketika bahayanya diketahui, sebagian besar buku dihancurkan.
Hanya empat eksemplar yang masih ada hingga hari ini . Salah satunya kini dapat diakses secara digital oleh Perpustakaan Nasional Kedokteran AS.
Judulnya yang mengerikan—“Bayangan dari Dinding Kematian”—menjadi peringatan nyata tentang bahaya yang tersembunyi di balik keindahan.

William Morris, desainer kertas dinding paling terkenal pada era Victoria, berada di pusat kontroversi ini.
Sebagai pewaris tambang tembaga terbesar di Inggris yang juga memproduksi arsenik sebagai produk sampingan, Morris memiliki konflik kepentingan yang jelas. Ia dikenal meremehkan bahaya arsenik, menulis surat kepada temannya pada 1885: “As to the arsenic scare a greater folly it is hardly possible to imagine: the doctors were bitten as people were bitten by the witch fever” .
Pernyataan ini menginspirasi judul buku Lucinda Hawksley tahun 2016, “Bitten by Witch Fever: Wallpaper & Arsenic in the Victorian Home”.
Sikap Morris adalah contoh sempurna bagaimana orang menolak bukti yang ada di depan mata untuk melindungi kepentingan mereka.

Meskipun negara-negara Eropa lain telah mengatur penggunaan arsenik, Inggris lambat bertindak. Tekanan publik, liputan media, dan laporan medis akhirnya memaksa perubahan. Ratu Victoria bahkan memerintahkan semua kertas dinding hijau di Istana Buckingham untuk dicabut setelah seorang tamu negara jatuh sakit pada 1879.
Pada 1883 dan 1895, Parlemen Inggris memberlakukan Factory Workshop Acts, yang mulai mengatur kondisi pabrik di mana pekerja terpapar arsenik.
Pada akhir abad ke-19, konsumen mulai menuntut kertas dinding “bebas arsenik”. Industri akhirnya beralih ke pigmen yang lebih aman.
Dan pada abad ke-20, arsenik dalam kertas dinding menjadi sejarah, tapi tidak sebelum jutaan orang telah terpapar racun mematikan.
Kisah kertas dinding arsenik adalah pengingat tentang betapa bahayanya ketika estetika mengalahkan keselamatan. Dalam mengejar keindahan, masyarakat Victoria menciptakan lingkungan beracun yang secara perlahan meracuni mereka. Dan ketika peringatan datang, banyak yang menolak mendengarnya lebih memilih kenyamanan keindahan daripada kebenaran yang tidak nyaman.
Dan pertanyaan kecil tetap bergema: Berapa banyak dari kita yang masih tinggal di “kertas dinding beracun”—teknologi, kebiasaan, atau keyakinan yang perlahan-lahan meracuni kita tanpa kita sadari?
Kehadiran arsenik dalam berbagai produk sehari-hari, termasuk kertas dinding, adalah salah satu bencana kesehatan publik terbesar yang jarang dibicarakan di era Victoria. Diperkirakan jutaan orang terpapar arsenik melalui kertas dinding, pakaian, mainan, dan bahkan makanan. Buku Kedzie yang berisi sampel arsenik adalah pengingat bahwa keindahan sering menutupi bahaya.
Artikel ini adalah bagian dari seri “Momen Sepele yang Mengubah Dunia”. Pantau terus rubrik sejarah kami untuk edisi-edisi berikutnya.
(el)
SUMBER DAN RUJUKAN
Kompasiana (2024) – Ulasan tentang buku “Shadows from the Walls of Death” dan bahaya arsenik dalam kertas dinding .
Smithsonian Magazine (2017) – Analisis tentang penggunaan arsenik dalam kertas dinding era Victoria, peran William Morris, dan perdebatan publik .
BBC News Mundo (2018) – Sejarah buku Kedzie dan dampaknya terhadap kesadaran publik tentang bahaya arsenik .
The Atlantic (2016) – Wawancara dengan Lucinda Hawksley tentang buku “Bitten by Witch Fever” dan bahaya arsenik di era Victoria .
Hyperallergic (2016) – Ulasan tentang buku Hawksley dan sejarah pigmen beracun dalam kertas dinding .
The National Archives Shop – Buku “Bitten by Witch Fever” tentang arsenik dalam kertas dinding Victoria .
Papers Past (1875) – Laporan koran Selandia Baru tentang seorang pria yang keracunan arsenik dari kertas dinding hijau di kamar tidurnya .
National Geographic Indonesia (2023) – Artikel tentang warna-warna mematikan sepanjang sejarah, termasuk spekulasi arsenik yang menyebabkan kematian Napoleon.





