History, ElrolumNews – Jika Anda bertanya pada pelaut abad ke-16 apa yang paling mereka takuti, jawabannya mungkin bukan badai atau perang. Penyakit kudis (scurvy) —yang disebabkan oleh kekurangan vitamin C, adalah pembunuh terbesar di lautan.
Antara tahun 1500 hingga 1800, penyakit ini merenggut lebih banyak nyawa pelaut daripada semua penyakit, bencana, dan pertempuran laut digabungkan.
Dua juta pelaut dilaporkan tewas akibat penyakit ini .
Seorang pelaut anonim yang selamat dari kudis menuliskan kesaksian mengerikannya:
“Penyakit ini membusukkan seluruh gusiku, yang mengeluarkan darah hitam dan busuk… Aku harus menggunakan pisau setiap hari untuk mengiris dagingku dan melepaskan darah hitam dan busuk ini… Banyak orang kami yang mati karena penyakit ini setiap hari, dan kami melihat mayat-mayat dilempar ke laut terus-menerus.”
Tapi di balik tragedi ini, ada sebuah jeruk—buah sederhana yang menyimpan kekuatan untuk mengakhiri momok mengerikan ini.

Penyakit kudis bukanlah sekadar kekurangan vitamin. Gejalanya mengerikan: gusi membusuk hingga gigi tanggal, bintik-bintik biru kehitaman di kulit, luka yang tak kunjung sembuh, kelelahan ekstrem, dan kematian yang lambat serta menyakitkan.
Dalam pelayaran panjang, penyakit ini bisa menewaskan lebih dari separuh awak kapal.
Salah satu ekspedisi Inggris pada 1740-an untuk menyerang kepemilikan Spanyol di Pasifik kehilangan 1.300 dari 2.000 awaknya akibat penyakit.
Komandan George Anson melaporkan bahwa “hampir seluruh kru” menderita gejala termasuk “gusi busuk dan ketakutan yang paling mengerikan” .
Jacques Cartier, penjelajah Prancis, juga mengalami nasib serupa. Dari 110 awaknya, hanya 10 yang tersisa sehat. Dalam keputusasaan, ia mengotopsi salah satu jenazah dan menemukan jantung “layu dan putih” dikelilingi “lebih dari segelas penuh air berwarna merah kehitaman” . Tapi di sinilah momen penting terjadi…
Sebenarnya, para pelaut sudah mengetahui bahwa buah jeruk bisa mencegah penyakit ini berabad-abad sebelum James Lind. Vasco da Gama memperhatikan efek penyembuhan dari buah jeruk .
Penjelajah Sir Richard Hawkins mencatat pada 1622 bahwa “lemon dan jeruk yang asam” adalah “yang paling bermanfaat… Saya berharap ada orang terpelajar yang mau menulis tentang hal ini” .
Bahkan para pelaut Portugis, Spanyol, Arab, dan Belanda menanam jeruk di sepanjang rute pelayaran mereka sekitar tiga abad lalu untuk memudahkan akses ke buah yang dikenal manjur menangkal dan menyembuhkan kudis. Pengetahuan ini telah ada, tapi belum diakui secara resmi oleh otoritas medis.

Pada 1747, seorang dokter bedah angkatan laut bernama James Lind melakukan sesuatu yang revolusioner. Di atas kapal HMS Salisbury, ia mengambil 12 pelaut yang menderita kudis dengan tingkat keparahan yang sama, membagi mereka menjadi enam pasangan, dan memberi mereka perlakuan berbeda :
Satu liter sari apel per hari
25 tetes eliksir vitriol (asam sulfat encer) tiga kali sehari
Setengah pint air laut per hari
Pasta sebesar biji pala dari bawang putih, biji sawi, lobak pedas, balsam Peru, dan getah mur tiga kali sehari
Dua sendok makan cuka tiga kali sehari
Dua jeruk dan satu lemon per hari
Hasilnya sangat jelas: pasangan yang menerima jeruk dan lemon pulih dengan cepat—dalam waktu seminggu, mereka sudah cukup sehat untuk merawat pelaut lainnya . Ini adalah uji klinis terkontrol pertama yang tercatat dalam sejarah kedokteran .

Eksperimen Lind pada 1747 adalah terobosan besar. Tapi butuh 42 tahun bagi Angkatan Laut Inggris untuk benar-benar menerapkan temuannya . Mengapa?
Beberapa alasan:
Lind sendiri kurang meyakinkan: Uraian tentang eksperimennya hanya memakan 4 halaman dari bukunya yang setebal 450 halaman, sisanya membahas pengobatan lain seperti udara segar dan olahraga .
Saingan pengobatan alternatif: Kapten James Cook, yang lebih pandai mempublikasikan diri, justru mempopulerkan malt dan asinan kubis (sauerkraut) sebagai obat kudis .
Birokrasi dan keengganan berubah: Para elit medis kerajaan lebih mempercayai teori-teori medis yang spekulatif daripada pengamatan klinis sederhana .
Akibat penundaan ini, puluhan ribu pelaut meninggal sia-sia. Baru pada 1795, Angkatan Laut Inggris akhirnya mewajibkan pasokan jus lemon di semua kapal.
Pada 1800, sistem ini diterapkan sepenuhnya dan kesehatan pelaut meningkat pesat.

Pada sekitar 1860, Angkatan Laut Inggris secara tidak sengaja mengganti jus lemon dengan jus jeruk nipis (lime juice) dari koloni-koloni Inggris . Masalahnya: jeruk nipis mengandung vitamin C jauh lebih sedikit dibandingkan lemon. Akibatnya, penyakit kudis kembali muncul, terutama pada ekspedisi ke Kutub Utara .
Ironisnya, julukan “limey” untuk pelaut Inggris lahir dari kesalahan ini.

Baru pada awal abad ke-20, ilmu pengetahuan akhirnya mengungkap mengapa jeruk bekerja. Pada 1928, ilmuwan Hungaria Albert Szent-Györgyi mengisolasi zat dari kelenjar adrenal yang ia sebut “asam heksuronat” . Pada 1932, ia dan Joseph Svirbely menyimpulkan bahwa ini adalah vitamin C—tepat beberapa minggu sebelum Charles Glen King di AS mengonfirmasi temuan yang sama .
Nama “asam askorbat” (ascorbic acid) berasal dari bahasa Latin “a” (tidak) dan “scorbutus” (kudis) . Pada 1933, struktur kimianya ditemukan dan produksi sintetis dimulai . Szent-Györgyi dan Norman Haworth menerima Hadiah Nobel pada 1937 untuk penemuan ini.
Sejarah penyembuhan kudis adalah kisah tentang bagaimana “pengetahuan tradisional” sering diabaikan oleh otoritas medis. Para pelaut sudah tahu tentang jeruk selama berabad-abad, tapi butuh uji klinis sederhana, 42 tahun penundaan birokrasi, dan satu abad lagi untuk memahami “mengapa” jeruk bekerja.
Jeruk yang tampak sepele, buah yang kita konsumsi setiap hari telah menyelamatkan jutaan nyawa di lautan dan memungkinkan ekspansi maritim Eropa yang mengubah peta dunia.
Dan pertanyaan kecil tetap bergema: Berapa banyak nyawa yang bisa diselamatkan jika Angkatan Laut bertindak lebih cepat?
Meskipun James Lind sering dianggap sebagai “penemu” obat kudis, pengetahuan tentang khasiat jeruk sebenarnya sudah ada berabad-abad sebelumnya. Penemuan Lind adalah uji klinis terkontrol pertama yang membuktikan secara ilmiah apa yang sudah diketahui para pelaut secara empiris. Butuh waktu 42 tahun bagi birokrasi untuk mengakui kebenaran sederhana ini, sebuah pengingat bahwa sains dan birokrasi sering berjalan dengan kecepatan yang berbeda.
Artikel ini adalah bagian dari seri “Momen Sepele yang Mengubah Dunia”. Pantau terus rubrik sejarah kami untuk edisi-edisi berikutnya.
(el)
SUMBER DAN RUJUKAN
BBC News (2016) – Kisah James Lind dan eksperimennya pada 1747 yang menunjukkan jeruk dan lemon menyembuhkan kudis, serta penundaan 42 tahun Angkatan Laut Inggris dalam menerapkan temuannya .
Science Museum Group (UK) – James Lind sebagai ahli bedah angkatan laut yang melakukan uji klinis terkontrol pertama dan menemukan bahwa buah jeruk menyembuhkan kudis .
Europe PMC (2012) – Sejarah penyakit kudis, 2 juta pelaut tewas, eksperimen Lind 1747, dan penemuan vitamin C oleh Szent-Györgyi dan King .
Harvard DASH (2025) – Kesaksian pelaut abad ke-16 tentang kengerian kudis, data kematian 1500-1800, dan ekspedisi Jacques Cartier .
Royal College of Surgeons of England (2024) – Eksperimen Lind dan penggantian lemon dengan jeruk nipis pada 1860 yang membuat kudis kembali muncul .
Taylor & Francis Online (2023) – Penemuan vitamin C oleh Szent-Györgyi (1928) dan King (1932), serta produksi sintetis .
Metrohm International (2023) – Sejarah lengkap vitamin C, dari Vasco da Gama hingga Hadiah Nobel 1937 .
Science | AAAS (2008) – Analisis eksperimen Lind sebagai uji klinis pertama .
Google Books – “Scurvy” by Stephen R. Bown (2005) – Buku tentang perjuangan James Lind, James Cook, dan Gilbert Blane melawan kudis .
KASKUS (2014) – Pelaut Portugis, Spanyol, Arab, dan Belanda menanam jeruk di sepanjang rute pelayaran untuk mengatasi kudis .





