Jakarta, ElrolumNews – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) memulai perdagangan Senin (22/6/2026) di zona hijau, namun tekanan jual di sesi pertama membuat indeks berbalik arah ke zona merah.
IHSG dibuka menguat 35,5 poin atau 0,57 persen ke level 6.212,64 . Bahkan sempat menyentuh level tertinggi di 6.226,72 . Namun, hingga penutupan sesi pertama, IHSG anjlok 1,25 persen atau 77,21 poin ke level 6.099,92 . Pada penutupan perdagangan, IHSG ditutup melemah 60,45 poin atau 0,98 persen ke posisi 6.116,69 .
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, mengingatkan pelaku pasar mencermati sejumlah risiko. Negosiasi resmi AS-Iran di Swiss dibatalkan setelah Wakil Presiden AS JD Vance menarik diri, sementara Iran meminta bukti implementasi nota kesepahaman sebelum melanjutkan negosiasi .
“Implementasi kesepakatan damai yang masih rapuh membuat risiko terhadap pasar energi, inflasi, dan sentimen global tetap perlu dicermati,” ujar Liza .
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati data ekonomi AS, seperti indeks harga konsumsi pribadi (PCE), pemesanan barang tahan lama, dan indeks sentimen konsumen . Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan Indeks PCE inti Mei 2026 naik 0,3 persen secara bulanan .
Dari dalam negeri, investor bersikap wait and see terhadap pengumuman Annual Market Classification Review oleh MSCI pada Rabu (24/6/2026) pagi waktu Indonesia . Melalui pengumuman itu, MSCI akan menetapkan apakah status pasar saham Indonesia tetap di Emerging Market atau turun ke Frontier Market.
“Apabila turun, berpotensi memicu arus keluar modal asing dalam jumlah besar dari pasar keuangan Indonesia,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus .
PT Bursa Efek Indonesia berencana bertemu dengan MSCI untuk mengklarifikasi hasil MSCI Global Market Accessibility Review yang dirilis pekan lalu, yang memberikan penilaian negatif pada kriteria information flow terkait ketersediaan informasi pasar modal dalam bahasa Inggris .
Aktivitas perdagangan cukup ramai. Nilai transaksi mencapai Rp7,62 triliun dengan volume 13,43 miliar saham . Sebanyak 200 saham menguat, 476 saham melemah, dan 135 saham stagnan . Mayoritas sektor perdagangan melemah, dengan sektor kesehatan, barang baku dan infrastruktur mengalami koreksi paling dalam.
(*/dbs)






