Jakarta, ElrolumNews – Kabar baik datang dari lantai bursa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu (10/6/2026) ditutup menguat signifikan. Para investor memberikan apresiasi atas kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menghadapi gejolak pasar keuangan domestik .
IHSG ditutup menguat 155,73 poin atau 2,71 persen ke posisi 5.902,38. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 20,16 poin atau 3,54 persen ke posisi 589,48 .
Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 571 saham naik, 148 saham menurun, dan 96 saham tidak bergerak nilainya. Artinya, hampir 70 persen saham yang diperdagangkan berada di zona hijau .
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.105.109 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 46,67 miliar lembar saham senilai Rp31,72 triliun .
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menjelaskan bahwa rebound IHSG berlanjut antara lain didukung oleh koreksi harga minyak mentah dunia serta penguatan nilai tukar rupiah.
“Selain itu, investor domestik mengapresiasi mulai adanya respons pemerintah menghadapi gejolak pasar modal Indonesia,” ujar Ratna dalam analisisnya di Jakarta .
Pada Selasa (9/6/2026), telah dilakukan pembahasan antara DPR RI, Danantara Indonesia, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), BPJS, serta asuransi BUMN soal rencana program buyback (pembelian kembali) saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big caps) BUMN .
Program buyback ini diharapkan dapat menstabilkan harga saham-saham unggulan yang selama beberapa pekan terakhir mengalami tekanan berat akibat aksi jual investor asing .
Pada hari yang sama, Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga acuannya sebesar 25 bps ke level 5,50 persen, melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan. Kenaikan BI-Rate memberikan dampak terhadap kurs rupiah yang menguat 114,00 poin atau 0,63 persen ke posisi 17.944 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (10/6/2026) .
Meskipun pemerintah resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi Pertamax menjadi Rp16.250 per liter pada hari yang sama, pasar seolah mengabaikan kebijakan tersebut. Investor justru melihat kenaikan harga BBM nonsubsidi sebagai langkah positif bagi kesehatan fiskal pemerintah di tengah tekanan ekonomi global .
“Transmisi kebijakan kenaikan harga BBM non-subsidi dinilai baik oleh pelaku pasar terhadap fiskal pemerintah, ditambah risiko sosial politik yang masih terkendali,” ujar Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova .
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor menguat pada perdagangan hari ini. Berikut rinciannya:
Sektor Transportasi & Logistik naik 4,43 persen (penguatan tertinggi)
Sektor Teknologi naik 3,57 persen
Sektor Properti & Real Estat naik 3,17 persen
Sektor Barang Konsumen Non-Primer naik 3,03 persen
Sektor Energi naik 2,93 persen
Sektor Industri naik 2,55 persen
Sektor Infrastruktur naik 2,45 persen
Sektor Keuangan naik 2,41 persen
Sektor Bahan Baku naik 1,72 persen
Sektor Barang Konsumen Primer naik 1,64 persen
Sektor Kesehatan naik 1,35 persen
Saham-saham berkapitalisasi besar (big cap) juga kompak menghijau. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 4,12 persen, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 3,89 persen, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 2,76 persen, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) naik 2,45 persen, dan PT Astra International Tbk (ASII) naik 2,18 persen .
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai reli ini berhasil menghentikan kepanikan pasar untuk sementara. Namun, ia mengingatkan bahwa faktor-faktor yang memicu tekanan sebelumnya belum sepenuhnya hilang.
“Faktor-faktor tersebut antara lain arus keluar dana asing yang masih terjadi, meningkatnya sovereign risk premium, serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal ke depan,” ujar Liza .
Ia memproyeksikan bahwa IHSG akan menghadapi tantangan terdekat di sekitar level 5.900 (Resistance MA10) dengan support di level 5.550.
“Meskipun terjadi reli, investor tetap perlu waspada karena volatilitas pasar masih tinggi. Pasar masih akan mencari kepastian lebih lanjut mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah ke depan,” pungkasnya.
(*/dbs)






