Surabaya, ElrolumNews – Aksi demonstrasi yang digelar di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, pada Jumat (26/6/2026) malam berakhir ricuh. Polisi mengamankan puluhan pendemo dan menetapkan empat orang sebagai tersangka .
Aksi yang diikuti sekitar 100 orang ini menolak kebijakan pemerintah, terutama kenaikan harga BBM nonsubsidi sekitar 30 persen dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai bermasalah .
Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan mengatakan pihaknya mengambil “tindakan tegas” setelah massa mulai melempari aparat dengan batu dan membakar sampah di tengah jalan .
“Kami melakukan penangkapan terhadap puluhan orang yang terlibat dalam aksi anarkis,” ujar Luthfie dalam konferensi pers di Mapolrestabes Surabaya, Sabtu (27/6/2026).
Total 24 pendemo yang diamankan. Empat di antaranya ditetapkan sebagai tersangka karena diduga terlibat dalam perusakan pagar Gedung Grahadi dan pelemparan terhadap aparat .
Dari 24 orang yang diamankan:
| Kategori | Jumlah | Keterangan |
|---|---|---|
| Tersangka | 4 orang | Terlibat perusakan dan pelemparan |
| Dipulangkan | 14 orang | Tidak ditemukan unsur pidana |
| Positif Narkoba | 6 orang | Diamankan ke BNN Kota Surabaya |
Keempat tersangka saat ini ditahan di Mapolrestabes Surabaya untuk pemeriksaan lebih lanjut .
Sementara enam orang yang positif narkoba langsung dilimpahkan ke Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Surabaya untuk menjalani rehabilitasi .
Demonstrasi terjadi di tengah gelombang protes di sejumlah kota di Indonesia akibat kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi sekitar 30 persen. Ribuan mahasiswa juga turun ke jalan di Jakarta menolak kenaikan harga BBM dan meminta penghentian program MBG yang dinilai boros .
Sebagian massa yang awalnya damai berubah menjadi anarkis, melempar batu ke arah polisi dan membakar sampah di tengah jalan .
Koordinator KontraS Surabaya, Fatkul Khoir, mengonfirmasi 24 pendemo yang ditahan. Mereka diperiksa hingga pukul 03.30 WIB dini hari Sabtu, namun belum didakwa .
“Kami akan memberikan pendampingan hukum bagi para pendemo yang ditahan,” ujar Fatkul .
Protes ini muncul setelah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menaikkan harga BBM nonsubsidi sekitar 30 persen untuk mengurangi tekanan anggaran di tengah perang Timur Tengah yang memengaruhi pasokan minyak global .
Program MBG yang menjadi agenda utama Prabowo juga mendapat kritik luas karena dianggap boros dan dikaitkan dengan kasus keracunan makanan massal, sehingga pelaksanaannya sebagian dihentikan sementara .
Ini merupakan gelombang protes terbesar di Indonesia sejak Prabowo menjabat pada 2024. Sebelumnya, pada Agustus dan September 2025, terjadi demonstrasi besar-besaran yang awalnya dipicu fasilitas mewah anggota parlemen, kemudian meluas menjadi kemarahan terhadap aparat keamanan setelah mobil polisi menabrak dan menewaskan seorang kurir. Kelompok hak asasi menyebut protes tersebut menewaskan 10 orang dan ribuan penangkapan.
(*/dbs)






