Samarinda, ElrolumNews – Kabar memilukan datang dari dunia konservasi Indonesia. Subspesies Badak Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) yang merupakan salah satu warisan alam paling berharga Nusantara, kini berada di ambang kepunahan. Hanya tersisa dua ekor individu yang diketahui masih hidup, dan keduanya adalah betina.
Kesendirian ini adalah sebuah kepunahan yang tertunda. Tanpa kehadiran pejantan, reproduksi alami tidak mungkin terjadi, mengakhiri perjalanan evolusi satwa yang telah berlangsung selama ribuan tahun di hutan Kalimantan. Badak Kalimantan adalah subspesies dari badak sumatera, dan keberadaannya kini diambang batas.
Kedua badak yang menjadi simbol kegentingan ini bernama Pahu dan Pari Mahulu.
Pahu: Seekor betina yang saat ini hidup dalam pengawasan ketat di Suaka Badak Kelian, Kalimantan Timur. Ia berada dalam lingkungan terkendali, namun ia tidak memiliki pasangan.
Pari Mahulu: Kondisinya jauh lebih kritis. Pari adalah satu-satunya badak Kalimantan yang masih hidup bebas di alam liar. Ia menghuni hutan terpencil di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), hidup dalam isolasi total tanpa pejantan, tanpa kelompok, dan tanpa harapan untuk berkembang biak secara alami.
Keberadaan Pari di alam liar bagaikan harta karun tersembunyi. Namun, ia adalah harta karun yang terus berdetak menuju kepunahan. Jika Pari mati sebelum sempat diselamatkan, maka seluruh materi genetik unik yang ia bawa akan hilang selamanya.
Penampakan terakhir badak Kalimantan di alam liar bukanlah momen yang membahagiakan. Para peneliti dari Yayasan Badak Indonesia (YABI) dan staf Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menggambarkan temuan Pari lebih sebagai pengingat yang menyedihkan akan apa yang akan segera hilang.
Tim konservasi mampu mengabadikan video Pari dari udara menggunakan helikopter drone dan kamera thermal. Namun, rekaman tersebut justru menunjukkan seorang diri. Tidak ada gerombolan. Tidak ada pejantan yang mengikuti. Hanya ada satu makhluk hidup terakhir dari garis keturunannya yang menjelajahi hutan yang semakin sempit. “Melihat Pari dari atas rasanya seperti menyaksikan kepunahan yang berjalan perlahan,” ujar seorang anggota tim yang enggan disebutkan namanya.
Menyadari waktu yang terus berjalan melawan mereka, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur menggelar Rapat Koordinasi Penyelamatan Badak Mahulu di Balikpapan pada Senin, 8 Juni 2026.
Rapat ini bukanlah agenda rutin. Suasana yang tercipta adalah antara keputusasaan dan tekad. Hasilnya, sebuah keputusan berisiko tinggi namun terpaksa diambil: Pari harus segera ditranslokasi (dipindahkan) dari habitat liarnya.
“Membiarkan Pari tetap terisolasi merupakan risiko yang terlalu besar. Jika ia mati tanpa terpantau, maka kepunahan badak Kalimantan akan menjadi kenyataan,” demikian bunyi kesimpulan rapat yang dikutip dari rilis ANTARA.
Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Ari Wibawanto, mengumumkan rencana ambisius tersebut. Rencananya, Pari akan ditangkap, dievakuasi menggunakan helikopter, dan dibawa ke Suaka Badak Kelian untuk bergabung dengan Pahu.
Setibanya di sana, karena tidak ada pejantan, kemajuan teknologi akan menjadi andalan terakhir. Para ilmuwan akan berupaya melakukan Fertilisasi In Vitro (bayi tabung) , memanfaatkan sel telur Pari dan materi genetik yang telah disimpan sebelumnya. Tim dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB University akan terlibat langsung dalam proses ini.
“Ini bukan sekadar memindahkan satwa. Ini adalah ikhtiar terakhir, sebuah perjuangan panjang agar generasi mendatang tidak hanya mengenal badak Kalimantan dari buku atau arsip sejarah, tetapi masih dapat menyaksikannya berjalan bebas di hutan,” tulis ANTARA dalam laporannya.
Kepala Sub-direktorat Pelestarian Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Budi Mulyanto, menegaskan bahwa kegagalan tidak bisa diterima.
“Jika kita gagal bertindak tegas sekarang, spesies ini mungkin hanya akan menjadi catatan sejarah dalam satu dekade ke depan,” tegas Budi.
Meskipun menjadi harapan terakhir, langkah ini bukan tanpa risiko. Proses penangkapan badak liar dewasa berukuran besar di tengah hutan belantara sangat berbahaya, baik bagi tim maupun satwa itu sendiri. Stres akibat penangkapan dan transportasi dapat menyebabkan kematian.
Selain itu, proses IVF pada badak belum terbukti berhasil secara konsisten. Ini adalah wilayah yang masih dalam tahap penelitian intensif. Namun, dengan tidak adanya pilihan lain, risiko ini harus diambil.
Kisah menyedihkan ini menjadi latar belakang bagi upaya konservasi badak sumatera yang lebih luas. Di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, Indonesia juga memiliki program Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) , sebuah pusat konservasi yang telah berhasil mengembangbiakkan beberapa ekor badak sumatera melalui program penangkaran alami.
Namun, upaya di SRS juga menghadapi tantangan. Pada 27 Maret 2025, dunia kehilangan Delilah, seekor badak sumatera betina produktif yang menjadi tulang punggung program penangkaran di SRS. Delilah mati karena infeksi setelah perjuangan panjang melawan penyakit. Kepergiannya merupakan pukulan telak bagi upaya peningkatan populasi badak sumatera yang hanya tersisa kurang dari 80 ekor di dunia.
Kini, dengan hanya tersisa dua betina di Kalimantan dan tanpa pejantan yang diketahui, fokus beralih pada teknologi untuk menjembatani kesenjangan yang fatal ini.
(*/dbs)






