Kertas Toilet yang Mengubah Peradaban: Ketika Lembaran Tipis Menjadi Kebutuhan Tak Terbantahkan

History, ElrolumNews – Bayangkan dunia tanpa kertas toilet. Sulit, bukan? Tapi selama ribuan tahun, manusia hidup tanpa benda yang sekarang kita anggap tak terpisahkan ini. Dari daun dan batu hingga tongkat dan spons bersama, perjalanan menuju kertas toilet modern adalah kisah tentang inovasi, kebersihan, dan—ironisnya—ketakutan akan kehabisan stok .

Bangsa Tiongkok adalah pelopor sejati dalam hal kertas toilet. Setelah mereka menemukan kertas pada sekitar tahun 100 M, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyadari potensi lainnya . Penggunaan kertas untuk kebersihan pribadi pertama kali tercatat pada abad ke-6 Masehi selama Dinasti Tang .

Pada tahun 851 M, seorang musafir Arab mencatat dengan heran bahwa orang Tiongkok menggunakan kertas—bukan air atau batu—untuk membersihkan diri setelah buang air . Praktik ini masih asing bagi dunia luar, tapi di Tiongkok, itu sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Puncak kemewahan terjadi pada Dinasti Ming (1368-1644) , ketika Kaisar Hongwu memerintahkan produksi 15.000 lembar kertas toilet ekstra lembut dan beraroma khusus untuk keluarganya . Lembaran-lembaran ini berukuran sekitar 2 kaki x 3 kaki—besar dan nyaman. Inilah kertas toilet “kelas atas” pertama dalam sejarah.

illustration of an ancient Chinese imperial court during the Ming Dynasty, servants carrying delicate paper sheets
illustration of an ancient Chinese imperial court during the Ming Dynasty, servants carrying delicate paper sheets

Sementara Tiongkok sudah menikmati kenyamanan kertas toilet, dunia lain masih menggunakan berbagai benda yang—dari sudut pandang modern—terlihat aneh dan bahkan mengerikan.

Di Romawi kuno, orang menggunakan tersorium—sepotong spons laut yang diikat ke ujung tongkat dan ditinggalkan di kamar mandi umum untuk digunakan bersama . Setelah digunakan, spons itu dibilas dalam ember berisi air garam atau cuka. Tapi ini bukan untuk semua orang—seorang filsuf Romawi, Seneca, menceritakan tentang seorang gladiator Jerman yang bunuh diri dengan memasukkan spons itu ke tenggorokannya untuk menghindari pertarungan di arena .

Di Yunani kuno, mereka menggunakan pessoi—pecahan keramik bulat atau lonjong. Arkeolog telah menemukan pecahan keramik kuno dengan jejak kotoran di atasnya—bukti nyata bahwa ini bukan sekadar teori .

Di Jepang abad ke-8, orang menggunakan chuugi—tongkat kayu untuk membersihkan diri . Sementara itu, di Eropa abad pertengahan, rakyat jelata menggunakan dedaunan (tapi jangan daun holly, kata lelucon abad pertengahan—karena daunnya berduri!), sementara bangsawan menggunakan potongan kain atau linen, dibantu oleh pelayan yang disebut “groom of the stool” .

Di Amerika, tongkol jagung adalah pilihan populer sampai abad ke-19. Buku-buku bekas dan halaman koran juga digunakan—sebuah praktik yang memunculkan istilah “bum fodder” (makanan pantat) untuk tulisan sampah .

Roman sponge sticks, Greek ceramic pieces, medieval leaves, and corn cobs
Roman sponge sticks, Greek ceramic pieces, medieval leaves, and corn cobs

Meskipun Tiongkok sudah memproduksi kertas toilet sejak abad ke-6, dibutuhkan waktu lebih dari 1.200 tahun bagi kertas toilet untuk menjadi produk komersial yang kita kenal.

Pada 1857, seorang pengusaha Amerika bernama Joseph Gayetty memperkenalkan “Gayetty’s Medicated Paper” di Amerika Serikat—kertas toilet kemasan pertama di dunia . Setiap paket berisi 500 lembar yang diresapi lidah buaya dan dijual seharga 50 sen . Namun, perjalanan Gayetty tidak mudah. Klaimnya bahwa kertasnya bisa menyembuhkan wasir memicu ejekan dari jurnal medis terkemuka seperti The Lancet . Majalah Medical and Surgical Reporter bahkan menulis sindiran pedas: “Tuan Gayetty bermaksud menyerang publik dari belakang dan menangkap mereka dengan celana terbuka” . Meski demikian, usahanya menjadi tonggak penting.

Tonggak penting berikutnya datang pada 1890 ketika Scott Paper Company memperkenalkan kertas toilet dalam gulungan—yang kita kenal sekarang . Pada 1887, kertas toilet mulai diproduksi dengan perforasi (garis putus-putus) . Pada 1942, kertas toilet dua lapis (2-ply) diperkenalkan oleh St. Andrews Paper Mill di Inggris .

illustration of Joseph Gayetty's Medicated Paper packaging and an early Scott Paper Company roll
illustration of Joseph Gayetty’s Medicated Paper packaging and an early Scott Paper Company roll

Kertas toilet telah menjadi komoditas yang begitu penting sehingga kelangkaannya bisa memicu kepanikan. Pada awal pandemi COVID-19 pada 2020, pembelian kertas toilet di seluruh dunia melonjak drastis, menyebabkan kekosongan rak di supermarket di berbagai negara .

Ini adalah ironi: benda yang kita anggap tak terpisahkan ternyata memiliki sejarah panjang yang penuh dengan alternatif aneh. Dan kepanikan tentang kertas toilet menunjukkan betapa dalamnya hubungan kita dengan benda sederhana ini. Bahkan, menurut data lingkungan, produksi kertas toilet global menghabiskan sekitar 27.000 pohon setiap hari—sebuah fakta yang membuat kita bertanya-tanya apakah kemewahan ini benar-benar sepadan.

illustration of empty supermarket shelves during a panic-buying event
illustration of empty supermarket shelves during a panic-buying event

Kertas toilet adalah contoh sempurna dari “momen sepele” yang mengubah peradaban. Dimulai sebagai kemewahan istana Tiongkok kuno—digunakan oleh kaisar dan keluarganya—kini ia menjadi kebutuhan dasar yang kita perjuangkan saat kelangkaan.

Dari spons bersama Romawi hingga tongkol jagung Amerika, dari halaman buku bekas hingga produk beraroma lidah buaya, dan akhirnya menjadi gulungan yang nyaman dan lembut—perjalanan kertas toilet mencerminkan perjalanan manusia itu sendiri: selalu mencari cara yang lebih baik untuk menjadi lebih bersih, lebih nyaman, dan lebih beradab.

Dan pertanyaan kecil tetap bergema: Bagaimana jika kaisar Tiongkok tidak pernah memikirkan kertas toilet? Berapa lama lagi kita akan menggunakan tongkol jagung?

Meskipun kertas toilet sering dianggap sebagai penemuan “modern”, sejarahnya membentang lebih dari 1.400 tahun. Tiongkok adalah pelopor sejati dalam hal ini—mereka tidak hanya menemukan kertas, tetapi juga aplikasi paling praktisnya. Namun, dibutuhkan lebih dari satu milenium bagi ide ini untuk menyebar ke seluruh dunia dan menjadi produk komersial . Joseph Gayetty mungkin tidak sepenuhnya “menemukan” kertas toilet, tetapi ia adalah orang pertama yang berhasil mengubahnya menjadi produk yang dapat dipasarkan secara massal di dunia Barat. Ejekan dari jurnal medis pada 1850-an  adalah pengingat bahwa inovasi sering menghadapi perlawanan sebelum diterima.

Artikel ini adalah bagian dari seri “Momen Sepele yang Mengubah Dunia”. Pantau terus rubrik sejarah kami untuk edisi-edisi berikutnya.

(el)

Sumber & Rujukan
  1. National Geographic Indonesia – Penggunaan kertas toilet di Tiongkok tercatat pada 851 Masehi selama Dinasti Tang, dan popularitasnya meningkat pada Dinasti Ming .
  2. Kompas.com – Sejarah pemakaian tisu toilet dari Tiongkok abad ke-6 hingga produk komersial Gayetty dan Scott Paper Company .
  3. RRI.co.id – Penemuan tisu toilet pertama di Tiongkok pada abad ke-6 Masehi dan komersialisasi oleh Joseph Gayetty pada 1857 .
  4. Wikipedia Bahasa Indonesia – Tisu toilet digunakan pertama kali pada abad ke-6 di Tiongkok dan mulai diproduksi secara komersial oleh Joseph Gayetty pada 1857 .
  5. ABC News Australia – Wawancara dengan penulis Richard Smyth tentang sejarah kertas toilet, termasuk penggunaan spons Roma kuno dan tongkat .
  6. Taylor & Francis – Konfirmasi bahwa Tiongkok adalah penemu kertas toilet yang digunakan pada abad ke-6 M .
  7. New Scientist – Sejarah kertas toilet dari Kaisar Hongwu (15.000 lembar khusus) hingga komersialisasi oleh Gayetty dan ejekan dari dunia medis .

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

More like this

Illustrasi

Korek Api yang Membakar Perpustakaan Alexandria: Ketika Api Kecil...

History, ElrolumNews - Bayangkan sebuah perpustakaan yang menyimpan seluruh pengetahuan dunia kuno. Ribuan gulungan papirus berisi karya...
Ilustrasi

Kesalahan Hitung yang Menghancurkan Perusahaan: Ketika Angka Salah Mengubah...

History, ElrolumNews - Bayangkan ini: seorang pegawai di sebuah perusahaan sekuritas Korea Selatan sedang memasukkan data untuk...
Ilustrasi

Bola Lampu yang Menghabiskan Hidup Penemunya: Ketika Terang Mengalahkan...

History, ElrolumNews - 11 Februari 1847. Seorang anak lahir di Milan, Ohio, Amerika Serikat. Namanya Thomas Alva...

More

Recomended

Read More