Labuan Bajo, ElrolumNews — Dampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 masih terasa hingga kini. Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat sebanyak 509 rumah ibadah rusak akibat bencana tersebut .
Kepala Kanwil Kemenag NTT, Fransiskus Kariyanto, menyampaikan data tersebut saat menyambut kedatangan Menteri Agama Nasaruddin Umar di MAN Manggarai Barat, Labuan Bajo, Kamis (3/9/2026) .
Berdasarkan data pendataan sementara, rincian rumah ibadah yang terdampak adalah sebagai berikut :
| Agama | Jumlah Rusak |
|---|---|
| Katolik | 422 unit |
| Islam | 51 unit |
| Kristen | 33 unit |
| Hindu | 1 unit |
| Buddha | 2 unit |
Total: 509 unit rumah ibadah
Selain rumah ibadah, gempa juga berdampak pada sejumlah fasilitas di lingkungan Kementerian Agama :
94 satuan pendidikan keagamaan (madrasah dan lainnya)
7 kantor Kemenag
12 Kantor Urusan Agama (KUA)
1 kantor Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)
343 rumah Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag
Fransiskus menegaskan bahwa data kebencanaan terus bergerak dan masih diverifikasi karena gempa susulan masih terjadi. “Ada dinamika perkembangan. Bisa jadi rumahnya yang hanya retak, ada gempa susulan jadi ambruk, akhirnya rusak berat,” ujarnya .
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyalurkan bantuan tanggap darurat senilai Rp3 miliar kepada masyarakat terdampak gempa di lingkungan Kemenag di Flores . Bantuan tersebut bukan untuk pembangunan bangunan rusak, melainkan untuk tanggap darurat lembaga keagamaan, rumah ibadah lintas agama, dan ASN Kemenag yang rumahnya rusak .
Selain itu, Menag juga menyerahkan 16 tenda darurat untuk kegiatan belajar dan 100 paket perlengkapan sekolah .
Kemenag NTT mencatat lima korban meninggal dunia dari keluarga besar Kemenag, terdiri atas satu kepala madrasah swasta dan empat siswi madrasah. Santunan telah diberikan kepada keluarga korban .
“Gempa boleh mengguncang Flores, tetapi jangan sampai mengguncang persaudaraan kita. Rumah boleh rusak, kita boleh berbeda agama dan budaya, tetapi dalam kemanusiaan, kita adalah satu keluarga,” ungkap Fransiskus .
(*/fvs)





