History, ElrolumNews – 1227, awal musim panas. Seorang penguasa tertua dan paling ditakuti di dunia sedang dalam kampanye militer terakhirnya melawan Kerajaan Xi Xia, di wilayah yang kini menjadi Cina barat laut . Ia adalah Jenghis Khan—pendiri Kekaisaran Mongol yang wilayahnya membentang dari Laut Jepang hingga Laut Kaspia . Namun di usia menjelang 70 tahun, tubuhnya mulai rapuh. Dan pada awal tahun itu, seekor kuda yang ditungganginya melemparkannya ke tanah dengan keras . Cedera dalam yang dideritanya menjadi awal dari akhir.
Dari guncangan di atas pelana inilah dunia berubah. Kematian Jenghis Khan pada Agustus 1227 menghentikan laju ekspansi Mongol yang telah mengubah peta Eurasia. Namun dampak terbesarnya justru terjadi 14 tahun kemudian—ketika kematian penguasa lain kembali mengubah jalannya sejarah Eropa.

Jenghis Khan lahir dengan nama Temujin sekitar 1162 di stepa Mongolia. Ia menyatukan suku-suku Mongol yang terpecah dan mengubah mereka menjadi mesin perang paling efektif yang pernah dilihat dunia . Pasukan Mongol bergerak cepat, menyerang tanpa ampun, dan menguasai wilayah yang luas dengan kecepatan yang mencengangkan.
Pada 1225, Jenghis Khan kembali ke Mongolia setelah menaklukkan sebagian besar Asia Tengah dan Cina utara. Kekaisarannya membentang lebih dari 4.000 kilometer—lebih luas dari Kekaisaran Romawi pada puncak kejayaannya. Tapi ada satu urusan yang belum tuntas: Kerajaan Xi Xia.

Pada awal 1227, saat memimpin kampanye melawan Xi Xia, Jenghis Khan mengalami kecelakaan. Seekor kuda yang ditungganginya melemparkannya ke tanah, menyebabkan luka dalam yang serius . Beberapa sumber menyebut ia jatuh dari kuda saat berburu, yang lain mengatakan dalam pertempuran. Namun yang pasti: cedera itu memperburuk kesehatannya yang memang sudah menurun.
Sumber sejarah mencatat bahwa setelah kecelakaan itu, Jenghis Khan mulai merasakan demam dan ketidaknyamanan. Delapan hari kemudian, pada 18 Agustus 1227, ia meninggal dunia di kamp militernya.

Kematian Jenghis Khan diselimuti misteri. Sejarawan mencatat berbagai versi: ada yang mengatakan ia meninggal karena jatuh dari kuda, ada yang menyebut karena malaria, luka panah di lutut, hingga tertimpa petir . Namun versi yang paling diterima adalah bahwa ia jatuh dari kuda dan cedera yang dideritanya semakin parah.
Namun satu hal yang pasti: Jenghis Khan meminta agar kematiannya dirahasiakan. Ia memerintahkan penguburan secara rahasia di tanah kelahirannya, tanpa nisan atau penanda apa pun . Para prajurit yang membawa jenazahnya membunuh siapa pun yang mereka temui di sepanjang rute untuk menjaga kerahasiaan. Mereka lalu mengendarai kuda di atas makamnya untuk mengaburkan jejak .
Hingga hari ini, makam Jenghis Khan tidak pernah ditemukan. Berbagai ekspedisi—termasuk proyek National Geographic dengan teknologi satelit—gagal menemukannya. Warga Mongolia sendiri justru berharap makam itu tetap menjadi misteri, sebagai penghormatan pada permintaan terakhir sang penguasa.

Jenghis Khan digantikan oleh putra ketiganya, Ögedei, yang memerintah dari 1227 hingga 1241 . Di bawah Ögedei, Kekaisaran Mongol justru mencapai puncak ekspansinya. Ia melanjutkan ambisi ayahnya dan mengarahkan pandangan ke barat—ke Eropa.
Pada 1235, Ögedei memerintahkan invasi besar-besaran ke Eropa. Sebuah pasukan berkekuatan 100.000 prajurit berkuda bergerak ke barat di bawah komando Batu Khan, cucu Jenghis Khan, dan jenderal legendaris Subutai . Mereka menghancurkan pasukan Rusia, merebut Kiev pada 1240, dan menginvasi Polandia dan Hongaria .

Pada 1241, pasukan Mongol mencapai perbatasan Eropa Barat. Mereka mengalahkan tentara Eropa di Pertempuran Legnica (Polandia) dan Pertempuran Mohi (Hongaria). Tidak ada yang bisa menghentikan mereka. Jalan menuju Wina dan Eropa Barat terbuka lebar .
Namun pada Desember 1241, ketika Batu Khan dan Subutai bersiap untuk serangan lebih lanjut, kabar datang dari kejauhan: Ögedei Khan telah meninggal . Kematian penguasa memaksa para komandan Mongol untuk kembali ke Karakorum, ibu kota kekaisaran, untuk memilih penguasa baru sesuai hukum tradisi Mongolia . Pasukan Mongol mundur—dan tidak pernah kembali ke Eropa. Eropa Barat terselamatkan.

Sejarah Eropa modern mungkin sangat berbeda jika Ögedei tidak meninggal pada 1241. Dalam beberapa sumber, Batu dan Subutai telah merencanakan kampanye musim semi untuk menaklukkan Wina dan mungkin seluruh Eropa hingga Atlantik . Tidak ada kekuatan Eropa yang bisa menghentikan mereka.
Namun kematian Ögedei menghalangi semua itu. Para komandan Mongol kembali ke Mongolia. Ketika mereka akhirnya memilih pengganti pada 1246, perselisihan internal memperlemah kekaisaran. Eropa Barat tidak pernah lagi berada dalam bahaya langsung dari Mongol .
Dua kematian—Jenghis Khan pada 1227 dan Ögedei pada 1241—mengubah peta Eurasia. Yang pertama menghentikan ekspansi Mongol ke Cina selatan. Yang kedua menyelamatkan Eropa Barat dari invasi Mongol.
Dan pertanyaan kecil tetap bergema: Bagaimana jika kuda Jenghis Khan tidak tersandung? Bagaimana jika Ögedei hidup satu tahun lebih lama?
Kematian Jenghis Khan dan Ögedei adalah contoh sempurna bagaimana “momen sepele”—seekor kuda yang tersandung dan seorang penguasa yang meninggal pada waktu yang tepat—dapat mengubah jalannya sejarah. Para sejarawan sepakat bahwa jika Ögedei hidup satu tahun lebih lama, pasukan Mongol mungkin akan mencapai Samudra Atlantik dan mengubah sejarah Eropa selamanya . Eropa Barat beruntung bahwa tradisi pemilihan penerus Mongol memaksa mereka kembali ke Karakorum pada momen kritis.
Artikel ini adalah bagian dari seri “Momen Sepele yang Mengubah Dunia”. Pantau terus rubrik sejarah kami untuk edisi-edisi berikutnya.
(el)
SUMBER DAN RUJUKAN
Kompas.com – Misteri kematian Jenghis Khan, termasuk versi jatuh dari kuda dan wabah pes .
History Channel – Kronologi kematian Jenghis Khan pada 18 Agustus 1227 dan perintah penguburan rahasia .
Lumen Learning – Ekspansi Kekaisaran Mongol di bawah Ögedei dan penghentian invasi Eropa akibat kematiannya .
National Geographic – Invasi Mongol ke Eropa dan peran kematian Ögedei .
iHeart Podcast – Analisis kematian Ögedei sebagai titik balik yang menyelamatkan Eropa Barat .
BBC News Indonesia – Misteri makam Jenghis Khan yang tak pernah ditemukan .





