Payung yang Menyelamatkan Nyawa Martin Luther King Jr.: Saat Selembar Kain Mengubah Sejarah Amerika

History, ElrolumNews20 September 1958. Sebuah toko serba ada di 230 West 125th Street, Harlem, New York. Di lantai dasar, seorang pendeta muda berusia 29 tahun duduk di balik meja, dikelilingi oleh tumpukan buku terbarunya, Stride Toward Freedom: The Montgomery Story . Dua puluh orang mengantre untuk mendapatkan tanda tangannya . Tapi di antara kerumunan itu, seorang wanita berusia 42 tahun menatapnya dengan tatapan kosong.

Izola Ware Curry, seorang wanita kulit hitam dari lingkungan sekitar, mengamati dari kejauhan . Ia tidak mengantre. Ia menunggu momen yang tepat. Ketika celah terbuka, ia melangkah mendekati meja. “Are you Mr. King?” tanyanya. King mengangguk .

Curry lalu mengeluarkan sebuah pembuka surat baja sepanjang 7 inci dari tasnya dan menusukkannya ke dada kiri King dengan kekuatan penuh.

a dramatic close-up of a hand clutching a steel letter opener

Ketika pisau itu menancap di dadanya, King tetap duduk diam. Ia tidak berteriak. Ia tidak bergerak. Di sekelilingnya, kekacauan terjadi. Seorang petugas keamanan toko menangkap Curry, seorang eksekutif iklan dari Amsterdam News menahannya.

Tapi bahaya terbesar justru datang dari niat baik. Seorang wanita yang melihat lukanya berteriak dan berusaha mencabut pembuka surat itu dari dada King. Jika ia berhasil, King akan mati seketika—pisau itu menempel tepat di aorta, pembuluh darah utama yang menyalurkan darah dari jantung.

Untungnya, dua petugas polisi bernama Al Howard dan Phil Romano tiba tepat pada saat itu. Howard, yang berkulit hitam, dan Romano, yang berkulit putih, langsung bertindak. Mereka menghentikan wanita itu, lalu Howard berbisik kepada King: “Don’t sneeze. Don’t even speak” (Jangan bersin. Jangan bicara).

Howard kemudian melakukan tindakan cerdik: ia memanggil ambulans, tapi meminta kru medis untuk datang ke pintu belakang toko . Kemudian, dengan hati-hati, para petugas mengangkat kursi tempat King duduk—dengan pisau masih menancap di dadanya—dan membawanya turun dari lantai dua. Tindakan ini mencegah pisau bergerak dan memperparah luka.

illustration of a 1950s police officer carefully carrying a man in a chair down a staircase

Setibanya di Harlem Hospital, tim dokter terbaik dipanggil. Dr. John W.V. Cordice Jr. —seorang ahli bedah dada dan pembuluh darah yang sebelumnya menjadi dokter untuk para pilot Tuskegee Airmen—sedang berada di kantornya di Brooklyn ketika telepon berdering .

Dr. Emil Naclerio, seorang ahli bedah toraks terkenal, datang langsung dari sebuah pernikahan—masih mengenakan tuksedo . Dan Dr. Aubré de Lambert Maynard, kepala ahli bedah rumah sakit, memimpin operasi.

Mereka membuka dada King, dan apa yang mereka temukan membuat mereka terdiam. Ujung pisau itu menempel pada aorta King—hanya terhalang oleh tulang dada yang menahannya . Jika King bersin, jika ia batuk, jika pisau bergerak sedikit saja, aorta akan tertusuk dan ia akan tenggelam dalam darahnya sendiri.

Dr. Maynard kemudian berkata kepada King setelah operasi:

“If you had sneezed during all those hours of waiting, your aorta would have been punctured and you would have drowned in your own blood.” 

illustration of a 1950s operating room, surgeons in scrubs performing a delicate chest surgery

Operasi berlangsung selama dua jam lebih . Ketika King terbangun, ia masih hidup. Tapi peristiwa itu meninggalkan bekas yang dalam. Dalam pidato terakhirnya di Memphis, pada 3 April 1968—sehari sebelum ia dibunuh—King merujuk pada peristiwa itu:

“I was stabbed by a mentally disturbed woman… And the X-rays revealed that the tip of the knife was on the edge of my aorta, the main artery. If I had sneezed, I would have died.”

Ia melanjutkan: “And I want to say tonight that I too am happy that I didn’t sneeze.”

illustration of Martin Luther King Jr. speaking at a podium

Jika King bersin pada 20 September 1958, sejarah Amerika akan berbeda. Gerakan hak sipil mungkin masih berlanjut, tapi tanpa pemimpinnya yang paling karismatik. Tanpa pidato “I Have a Dream”. Tanpa Undang-Undang Hak Sipil 1964. Tanpa Undang-Undang Hak Pilih 1965 .

Dua petugas polisi yang menyelamatkannya—seorang kulit hitam dan seorang kulit putih—bekerja bersama sebagai mitra sejati . Itulah ironi yang indah: di Harlem, pada tahun 1958, dua pria dari ras yang berbeda menunjukkan bahwa yang terpenting bukanlah warna kulit, tapi kemanusiaan yang mereka bagi.

Dan pertanyaan kecil tetap bergema: Bagaimana jika King bersin? Bagaimana jika polisi tidak tiba tepat waktu? Bagaimana jika pisau itu menembus aorta?

Meskipun cerita ini sering disebut sebagai “payung yang menyelamatkan King,” istilah ini muncul karena ada beberapa sumber yang menyebut bahwa seorang wanita membawa payung yang secara kebetulan mengalihkan perhatian pelaku. Namun berdasarkan arsip utama, peran paling krusial dimainkan oleh polisi yang mencegah pencabutan pisau dan tim dokter yang melakukan operasi rumit. Artikel ini fokus pada serangkaian “momen sepele”—kedatangan polisi tepat waktu, larangan untuk bersin, dan keputusan untuk tidak mencabut pisau—yang bersama-sama menyelamatkan nyawa King.

Artikel ini adalah bagian dari seri “Momen Sepele yang Mengubah Dunia”. Pantau terus rubrik sejarah kami untuk edisi-edisi berikutnya.

(el)

SUMBER DAN RUJUKAN
  1. The New York Times (1958) – Liputan langsung penusukan King di Blumstein’s department store, termasuk deskripsi kejadian dan peran polisi .
  2. New York Daily News (2015) – Wawancara dengan keluarga Dr. Emil Naclerio setelah kematian Izola Curry, termasuk pernyataan bahwa pisau menempel di aorta King .
  3. The Daily Beast (2014) – Kisah mendalam tentang peran polisi Al Howard dan Phil Romano serta dua dokter yang menyelamatkan King .
  4. AP News (2020) – Verifikasi foto King di rumah sakit setelah operasi dan peristiwa penusukan 1958 .
  5. Legacy.com / AP (2013) – Obituari Dr. John W.V. Cordice dan pernyataannya: “If we had lost King that day, the whole civil rights era would have been different” .
  6. Wikipedia – Izola Curry – Biografi pelaku, kronologi kejadian, dan kutipan King tentang bersin .
  7. Wikipedia – Aubré de Lambert Maynard – Peran Maynard sebagai kepala ahli bedah yang memimpin operasi.

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

More like this

Jarum tulang berusia 40.000 tahun—teknologi sederhana yang memungkinkan manusia bertahan di iklim ekstrem dan menaklukkan dunia

Jarum yang Memungkinkan Manusia Menaklukkan Dunia

History, ELrolumNews - Bayangkan dunia tanpa jarum. Tanpa kemampuan menjahit kulit hewan menjadi pakaian hangat. Tanpa tenda...
Cermin Archimedes—mitos atau fakta? Kisah tentang kaca pembesar raksasa yang membakar kapal Romawi dan mengubah taktik perang.

Kaca Pembesar yang Membakar Kapal Romawi: Ketika Cermin Archimedes...

History, ElrolumNews - Tahun 212 SM. Kota Syracuse di Sisilia dikepung oleh armada Romawi. Kapal-kapal perang yang...
Sandal emas Firaun Tutankhamun—alas kaki sederhana yang mengungkap jaringan perdagangan dan diplomasi Mesir kuno

Sandal yang Mengubah Sejarah Mesir Kuno: Ketika Alas Kaki...

History, ElrolumNews - Tahun 1922, di Lembah Para Raja, Mesir. Arkeolog Howard Carter menatap celah kecil di...

More

Recomended

Read More