History, ElrolumNews – Pada 1941, di tengah Perang Dunia II yang berkecamuk, dunia parfum nyaris runtuh. Perang menghentikan pasokan bunga-bunga langka dari Grasse, Prancis—pusat parfum dunia . Para pembuat parfum berjuang mencari bahan baku. 600 dari 2.400 pembuat parfum Prancis gulung tikar dalam hitungan bulan . Namun di tengah bencana itu, satu parfum bertahan dan bahkan menjadi pusat pertempuran yang melibatkan ikon fashion, mata-mata Nazi, dan keluarga Yahudi yang melarikan diri. Namanya: Chanel No. 5.

Perang Dunia II menghancurkan industri parfum Prancis. Bunga-bunga langka dari Grasse—rumah bagi jasmine dan mawar yang menjadi jantung parfum kelas atas—terhenti . Amerika kehilangan akses ke bahan-bahan alami dari Eropa . Harga melonjak: sebelum perang, satu pon minyak melati seharga $200; pada 1942, harganya mencapai $1.000—dan beberapa saat kemudian tidak tersedia dengan harga berapa pun.
Produksi lumpuh. Seorang ahli kimia menyatakan bahwa Amerika memiliki stok yang cukup untuk bertahan hingga Natal 1939—tapi tidak lebih lama lagi . 600 pabrik parfum Prancis bangkrut pada 1941, dan 600 lagi diperkirakan akan menyusul pada akhir tahun.

Pada 1921, Coco Chanel meluncurkan parfum yang akan menjadi ikon global. Dibantu oleh Pierre dan Paul Wertheimer, bersaudara Yahudi Prancis yang membiayai produksi, Chanel No. 5 menjadi sukses besar . Chanel, yang sejak awal hanya memiliki 10 persen saham karena kesalahan kontrak, selalu merasa dirugikan.
Ketika perang pecah dan Jerman menduduki Prancis, Wertheimer bersaudara melarikan diri ke Amerika Serikat . Chanel melihat peluang. Dengan Prancis di bawah pemerintahan Vichy yang anti-Semit, ia mencoba menggunakan undang-undang “Aryanisasi” untuk mengambil alih kendali perusahaan dari pemiliknya yang Yahudi . Chanel, yang kini tinggal di Hotel Ritz Paris—yang juga menjadi markas besar Nazi—memulai manuver untuk merebut bisnis yang sangat menguntungkan itu.

Di balik layar, pertarungan terjadi. Wertheimer bersaudara, yang berada di Amerika, tetap memproduksi Chanel No. 5 di New Jersey . Mereka mengirim seorang agen—Gregory Thomas, presiden American Chanel—kembali ke Prancis dalam misi rahasia . Tujuannya: mencuri formula asli Chanel No. 5 dan sebanyak mungkin minyak esensial langka dari Grasse sebelum Nazi menyita semuanya.
Thomas harus mencapai Paris, meyakinkan Coco Chanel untuk menyerahkan formula, lalu melanjutkan ke Grasse untuk membeli seluruh stok bunga yang tersisa . Sejarawan mencatat bahwa misi ini adalah tindakan putus asa: “Jika Thomas gagal, parfum paling terkenal di dunia mungkin akan mati bersamanya”.

Anehnya, misi Thomas berhasil. Ia memperoleh formula dan cukup bahan baku untuk menjaga Chanel No. 5 tetap hidup . Ia bahkan membantu putra Pierre Wertheimer, Jacques, melarikan diri dari Prancis yang diduduki Nazi . Chanel No. 5 terus diproduksi di Amerika—dan bahkan menjadi oleh-oleh favorit tentara Amerika yang kembali dari Eropa . Sementara itu, Chanel sendiri gagal mengambil alih bisnis.
Pada Agustus 1944, ketika Tentara Amerika memasuki Paris, banyak tentara langsung menuju butik Chanel, putus asa membeli botol Chanel No. 5 untuk istri dan pacar mereka di rumah. Parfum yang nyaris mati justru menjadi simbol bagi para prajurit yang kembali ke kehidupan normal.

Setelah perang, Wertheimer bersaudara kembali ke Prancis dan mendapatkan kembali kendali penuh atas Chanel No. 5. Coco Chanel, yang terlibat dengan Nazi—ia bahkan tercatat sebagai agen Abwehr dengan nomor kode F-7124 dan nama sandi “Westminster” —nyaris dituntut . Namun ia diselamatkan oleh intervensi Winston Churchill, tetangganya di Prancis Selatan, dan melarikan diri ke Swiss .
Chanel kembali ke mode pada 1950-an dan meninggal pada 1971. Namun ia tidak pernah lagi memiliki kendali atas Chanel No. 5—parfum yang ia ciptakan, yang hampir diambil alih oleh Nazi, yang diselamatkan oleh operasi rahasia di tengah perang.

Chanel No. 5 adalah lebih dari sekadar parfum. Ia adalah simbol dari bagaimana industri, seni, dan politik saling terkait selama Perang Dunia II. Sebuah parfum nyaris menghilang karena perang, diambil alih oleh Nazi, diselamatkan oleh operasi intelijen, dan akhirnya menjadi ikon global.
Perang menghentikan 600 pabrik parfum. Tapi Chanel No. 5—melalui kombinasi kecerdikan, keberuntungan, dan ketahanan manusia—bertahan. Dan hari ini, setiap kali seseorang menyemprotkan Chanel No. 5, mereka mencium wangi dari sebuah pertempuran yang hampir tidak pernah tercatat dalam sejarah.
Dan pertanyaan kecil tetap bergema: Bagaimana jika Thomas gagal? Bagaimana jika Nazi menemukan formulanya?
Hubungan Coco Chanel dengan Nazi masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Beberapa sumber menyebut ia adalah agen Nazi yang oportunis, sementara yang lain menyatakan bahwa ia mungkin juga bekerja sebagai agen ganda untuk Inggris . Yang pasti: ia memanfaatkan hubungannya dengan perwira Nazi untuk mencoba mengambil alih kendali Chanel No. 5—dan gagal. Parfum yang ia ciptakan bertahan, sementara ia kehilangan kendali atasnya selamanya.
Artikel ini adalah bagian dari seri “Momen Sepele yang Mengubah Dunia”. Pantau terus rubrik sejarah kami untuk edisi-edisi berikutnya.
(el)
SUMBER DAN RUJUKAN
BBC – Dokumentasi tentang Coco Chanel yang bekerja sebagai agen Nazi selama Perang Dunia II dan hubungannya dengan perwira Jerman Baron Hans Gunther von Dincklage .
Kompas.com – Penemuan kartu keanggotaan Chanel di bawah organisasi Abwehr, agensi intelijen militer Nazi, dengan nomor F-1724 dan nama sandi “Westminster” .
The World from PRX – Kisah Chanel No. 5 dan upaya Coco Chanel menggunakan undang-undang Vichy untuk mengambil alih perusahaan dari pemilik Yahudinya .
BBC, “The No 5 War” – Dokumenter tentang perang antara Coco Chanel dan Wertheimer bersaudara dari 1920-an hingga 1940-an .
The New York Times (1941 & 1942) – Artikel kontemporer tentang dampak perang terhadap industri parfum dan kelangkaan bunga dari Grasse .
Time Magazine (1946) – Laporan tentang industri parfum Prancis pasca-perang dan kelangsungan hidup Chanel No. 5 .
TAAZE (Chapter 13, “The Secret of Chanel No. 5”) – Kisah misi Gregory Thomas untuk menyelamatkan formula dan bahan baku Chanel No. 5 dari Prancis yang diduduki Nazi .





