Jakarta, Elrolumnews — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menguat pada pembukaan perdagangan Jumat (18/9/2026). Rupiah menguat 10 poin atau 0,06% ke level Rp17.743 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp17.753 .
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sinyal hawkish dari The Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga acuan (FFR) sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00% .
“Pasar merespons sinyal hawkish The Fed dengan cukup baik. Kenaikan suku bunga yang sesuai ekspektasi memberikan kepastian bagi pelaku pasar,” ujar Josua dalam keterangannya, Jumat (18/9/2026) .
Josua menambahkan bahwa modal asing yang masuk ke Indonesia hingga kuartal III 2026 masih tercatat positif. Aliran modal asing ke Indonesia mencapai Rp141,6 triliun, dengan rincian :
| Instrumen | Nilai |
|---|---|
| Surat Berharga Negara (SBN) | Rp40,8 triliun |
| Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) | Rp171,6 triliun |
“Aliran modal asing yang masih deras menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia,” jelas Josua .
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak positif pada pembukaan perdagangan. IHSG dibuka menguat tipis dan terus bergerak di zona hijau .
Pelaku pasar masih mencermati perkembangan global, termasuk dampak kebijakan The Fed terhadap pasar keuangan global dan nilai tukar .
Josua memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat dalam jangka pendek, didukung oleh aliran modal asing yang terus masuk dan ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih terukur .
“Jika kondisi global tetap kondusif, rupiah berpeluang menguat ke kisaran Rp17.650-Rp17.700 per dolar AS,” pungkasnya.
(fvs)





