Riau, ELrolumNews – Kabar gembira datang dari dunia konservasi Riau. Seekor bayi gajah Sumatera betina lahir di Taman Nasional Tesso Nilo, Kabupaten Pelalawan, pada Kamis (11/6/2026) dini hari sekitar pukul 04.00 WIB .
Kepala Balai Besar Taman Nasional Tesso Nilo, Heru Sutmantoro, mengonfirmasi kelahiran ini. Bayi gajah tersebut merupakan anak kelima dari induk gajah bernama Ria, seekor gajah jinak yang tinggal di kawasan Resort Konservasi Gajah Sumatera (SER).
“Hasil pemeriksaan dokter hewan menunjukkan bayi gajah betina ini dalam kondisi sehat, aktif, tidak memiliki cacat fisik, dan dapat menyusu secara normal dari induknya,” ujar Heru di Pekanbaru, Kamis (11/6/2026) .
Bayi gajah tersebut pertama kali ditemukan oleh para mahout (pawang gajah) sekitar pukul 07.30 WIB di area hutan dekat Resort Konservasi Gajah Sumatera. Dari hasil observasi lapangan, diperkirakan bayi gajah tersebut lahir sekitar pukul 04.00 WIB, sebelum fajar menyingsing .
Baik induk maupun anaknya kini terus dalam pemantauan ketat oleh tim dokter hewan dan mahout untuk memastikan kondisi kesehatan keduanya tetap prima.
Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo menjelaskan bahwa kelahiran ini merupakan bagian dari keberhasilan program konservasi di kawasan tersebut. Selama delapan tahun terakhir, Flying Squad (Pasukan Terbang) Gajah Tesso Nilo telah mencatat empat kelahiran anak gajah dari dua induk gajah jinak, Lisa dan Ria .
“Kelahiran ini semakin menegaskan pentingnya Taman Nasional Tesso Nilo sebagai habitat kunci yang mendukung pemulihan dan kelangsungan hidup jangka panjang populasi gajah Sumatera,” kata Heru .
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, melalui unggahan di media sosial turut menyambut gembira kelahiran bayi gajah ini. Ia menyebutnya sebagai kabar menggembirakan bagi konservasi satwa liar.
“Alhamdulillah, kabar bahagia dari Taman Nasional Tesso Nilo. Kelahiran anak gajah Sumatera ini menjadi bukti bahwa upaya konservasi yang kita lakukan selama ini membuahkan hasil. Mari kita jaga bersama aset berharga ini,” tulis Raja Juli di akun Instagram pribadinya .
Kelahiran bayi betina yang dijuluki sebagai adik dari Domang ini memberikan harapan baru bagi masa depan gajah Sumatera di alam liar .
Gajah Ria merupakan salah satu induk gajah jinak yang dilatih sebagai bagian dari Flying Squad Tesso Nilo. Flying Squad sendiri adalah unit khusus gajah terlatih yang digunakan untuk mengusir gajah liar dari area pemukiman warga guna mencegah konflik manusia dan satwa liar.
Berikut daftar keturunan Gajah Ria:
| Anak ke- | Nama | Tahun Lahir | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 1 | – | – | – |
| 2 | – | – | – |
| 3 | – | – | – |
| 4 | Domang | – | – |
| 5 | Belum Bernama | 2026 | Bayi betina yang baru lahir |
Catatan: Nama untuk bayi gajah betina ini belum diberikan dan akan ditentukan kemudian oleh pihak pengelola taman nasional.
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) saat ini berstatus terancam kritis (critically endangered) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Populasinya diperkirakan hanya tersisa antara 2.400 hingga 2.800 individu di alam liar .
Penurunan populasi gajah Sumatera disebabkan oleh beberapa faktor utama:
Hilangnya habitat akibat konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, perkebunan karet, dan pemukiman
Fragmentasi habitat yang memisahkan populasi gajah menjadi kelompok-kelompok kecil yang terisolasi
Konflik manusia-gajah yang sering berujung pada kematian gajah akibat peracunan atau pemasangan perangkap listrik
Perburuan gading ilegal, meskipun intensitasnya tidak setinggi perburuan gajah Afrika, tetap menjadi ancaman serius
Organisasi Konservasi Dunia (WWF) memperingatkan bahwa perburuan gading ilegal tetap menjadi ancaman global, dengan gading masih muncul di pasar-pasar di Afrika, Asia, Amerika Serikat, dan Eropa .
Flying Squad Tesso Nilo telah memainkan peran penting dalam mengurangi konflik antara manusia dan gajah liar di kawasan Riau. Unit gajah terlatih ini berpatroli di area-area rawan konflik dan mengusir gajah liar yang memasuki perkebunan atau pemukiman warga .
Dengan metode yang humanis, Flying Squad berhasil menyelamatkan banyak gajah liar dari kemungkinan dibunuh oleh warga yang frustrasi akibat kerusakan kebun mereka. Keberhasilan program ini juga turut berkontribusi pada peningkatan angka kelahiran gajah di kawasan konservasi .
Kelahiran bayi gajah ini memberikan secercah harapan di tengah ancaman kepunahan yang membayangi gajah Sumatera. Para pegiat konservasi berharap bahwa keberhasilan program penangkaran dan perlindungan habitat dapat terus ditingkatkan.
“Setiap kelahiran adalah kemenangan kecil dalam perang melawan kepunahan. Kita harus terus berjuang agar anak-anak kita nanti masih bisa melihat gajah Sumatera berkeliaran bebas di habitat aslinya,” ujar Dr. Tatyana F. S. P. , pegiat konservasi dari WWF Indonesia, dalam keterangan terpisah.
(*/dbs)






