Jakarta, ElrolumNews – Kabar duka datang dari dunia konservasi Indonesia. Sebuah studi komprehensif yang dipublikasikan pada Rabu (10/6/2026) mengungkap fakta mengejutkan: bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatra pada November 2025 telah menewaskan 58 ekor orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), spesies kera besar paling langka di dunia .
Angka ini setara dengan sekitar 7 persen dari total populasi orangutan Tapanuli yang diperkirakan hanya tersisa sekitar 800 individu di alam liar. Para peneliti bahkan menyebut angka ini konservatif karena belum memperhitungkan kerusakan kanopi hutan dan berkurangnya ketersediaan makanan akibat bencana .
Topan tropis Siklon Senyar yang melanda Sumatra pada akhir November 2025 merupakan salah satu bencana alam paling mematikan di Asia Tenggara sepanjang tahun 2025. Gabungan faktor cuaca ekstrem dan deforestasi menewaskan lebih dari 1.000 orang .
“Yang mengejutkan saya adalah seluruh daging di wajahnya (orangutan) telah terkoyak. Jika beberapa hektar hutan runtuh dalam longsor besar, bahkan orangutan yang kuat sekalipun tak berdaya dan hancur. Ibarat neraka di dalam hutan saat itu,” ujar Profesor Erik Meijaard, direktur pelaksana Borneo Futures di Brunei sekaligus salah satu penulis studi.
Sejak bencana terjadi, para ahli satwa liar sudah menduga bahwa populasi orangutan Tapanuli terdampak parah. Beberapa pekan setelah siklon, pekerja kemanusiaan di Desa Pulo Pakkat, Kabupaten Tapanuli Tengah, menemukan bangkai yang diyakini sebagai orangutan Tapanuli, setengah terkubur di antara lumpur dan tumpukan kayu .
“Saya sudah melihat beberapa jenazah manusia dalam beberapa hari terakhir, tapi ini pertama kalinya melihat satwa liar mati. Dulu mereka datang ke sini untuk makan buah. Tapi sekarang sepertinya tempat ini menjadi kuburan mereka,” kata Deckey Chandra, anggota tim kemanusiaan di lokasi .
Kini, studi komprehensif ini mengonfirmasi bahwa wilayah tersebut kehilangan hampir dua kali lipat jumlah dari perkiraan awal.
Para primatolog menyoroti bahwa spesies yang baru ditemukan pada 2017 ini akan punah jika kehilangan lebih dari 1 persen populasinya setiap tahun. Dengan 58 individu mati dari sekitar 580 individu dewasa di wilayah terdampak, angka kematian mencapai 10-11 persen populasi regional .
“Angka kematian itu jauh melampaui kemampuan bertahan mereka. Jadi ini adalah peristiwa besar,” tegas Profesor Sergei Vich, primatolog dari Liverpool John Moore University sekaligus salah satu penulis studi .
Dalam sesi wawancara eksklusif dengan media di Jakarta, Jumat (12/6/2026), Prof. Meijaard menjelaskan ironi yang dihadapi upaya penyelamatan orangutan Tapanuli.
“Kami telah menghabiskan puluhan tahun dan jutaan dolar untuk melindungi spesies ini dari ancaman deforestasi dan perburuan. Namun pada akhirnya, yang memukul mereka paling keras adalah bencana iklim yang tidak bisa kami kendalikan,” ujarnya .
“Tragedi ini mengajarkan kita bahwa konservasi modern tidak bisa hanya fokus pada satu ancaman. Perubahan iklim adalah pengubah permainan yang mengubah segalanya,” imbuhnya.
Para peneliti mencatat bahwa Siklon Senyar merupakan peristiwa anomali, namun perubahan iklim akibat ulah manusia berperan signifikan. Mereka menekankan bahwa frekuensi dan intensitas hujan ekstrem di kawasan tersebut kemungkinan akan terus berlanjut di masa depan .
Para penulis laporan menegaskan bahwa kehancuran akibat Siklon Senyar membuktikan betapa rentannya spesies ini.
“Krisis yang dihadapi orangutan Tapanuli menggambarkan pertemuan antara ketidakstabilan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan kerentanan, sehingga membutuhkan respons terkoordinasi yang sepadan dengan skala ancaman,” tulis laporan itu .
Pemerintah Indonesia telah menghentikan sementara proyek-proyek besar di kawasan hutan lindung Batang Toru, termasuk pertambangan, kelapa sawit, dan ekspansi pembangkit listrik tenaga air. Langkah ini memberi kesempatan langka bagi peneliti untuk menilai lebih jauh risiko ekologis yang dihadapi kera besar tersebut .
Untuk melindungi orangutan yang tersisa, para ilmuwan menambahkan, dukungan internasional berkelanjutan akan sangat diperlukan.
“Melalui perlindungan domestik yang diperkuat, perencanaan yang responsif terhadap iklim, serta bantuan finansial dan teknis global, kita masih bisa mencegah kepunahan pertama spesies kera besar di era modern,” demikian kesimpulan laporan.
(*/dbs)






