Mengkhawatirkan! 1,7 Juta Anak Indonesia Alami Alergi per Tahun, Dokter Ray Basrowi: “Ini Beban Kesehatan Masyarakat yang Perlu Diperhatikan Serius!”

Jakarta, ElrolumNews – Angka kejadian alergi pada anak di Indonesia terus meningkat dan kini menjadi salah satu beban kesehatan masyarakat yang serius. Dokter sekaligus peneliti, dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, PhD, mengungkapkan bahwa setiap tahun sekitar 1,7 juta anak Indonesia mengalami alergi. Salah satu yang paling banyak menjadi perhatian adalah alergi susu sapi.

“Angkanya 7,5 persen. Anak Indonesia jumlahnya di atas 50 juta, bayangin berapa banyak itu dan ini bertambah setiap tahun,” kata Ray dalam acara jelang World Allergy Week 2026 bersama Sarihusada, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Jika dihitung dari total populasi anak Indonesia (0-12 tahun) yang diperkirakan mencapai 50 juta jiwa, maka 7,5 persen di antaranya berarti lebih dari 3,7 juta anak yang berpotensi mengalami alergi susu sapi.

Ini yang kita bilang sebagai salah satu yang bikin public health burden di Indonesia. Beban untuk masalah kesehatan kita sebenarnya,” tegas Ray.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, dr. Molly Dumakuri Oktarina, Sp.A(K) , memaparkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat, baik di dunia maupun di Indonesia. Menurut Molly, sekitar 30-50 persen populasi orang dewasa mengalami sensitisasi terhadap alergen. Alergen adalah zat atau bahan yang dapat memicu reaksi alergi pada tubuh.

“Kemudian bisa dilihat, sekitar 8 persen mengalami alergi pada makanan. Khususnya alergi susu sapi, angka kejadiannya sekitar 2-7,5 persen di Indonesia,” kata Molly.

Pada anak usia sekolah, Molly menyebut sekitar 40-50 persen juga mengalami sensitisasi terhadap alergen. Artinya, tubuh anak sudah mengenali zat tertentu sebagai pemicu reaksi alergi, meski gejala yang muncul bisa berbeda pada setiap anak.

Ray menjelaskan bahwa alergi pada anak dapat dipengaruhi beberapa faktor:

FaktorPenjelasan
GenetikAnak dengan riwayat alergi dalam keluarga memiliki risiko lebih besar mengalami alergi
Paparan AlergenPaparan terhadap bahan pemicu alergi sejak dini
LingkunganAsap rokok, polusi udara, cuaca ekstrem, dan infeksi dapat memperparah gejala
Pola MakanPengenalan makanan pendamping ASI (MPASI) yang kurang tepat

 

Di sinilah pentingnya peran orang tua untuk memahami kondisi anak, karena alergi itu bisa dicegah dan dikelola dengan baik jika dikenali sejak dini,” ujar Ray.

Gejala alergi pada anak bisa muncul dalam bentuk yang berbeda-beda, tidak selalu ruam merah atau gatal-gatal. Molly menjelaskan gejala alergi dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori utama:

  1. Kulit: Ruam kemerahan, gatal-gatal (urtikaria), eksim (kulit kering dan bersisik), bengkak pada kelopak mata atau bibir

  2. Saluran Cerna: Muntah, diare, sembelit, sakit perut, refluks, berat badan sulit naik

  3. Saluran Napas: Bersin-bersin, hidung tersumbat, batuk, sesak napas, mengi (wheezing)

Gejala alergi itu sangat bervariasi. Ada yang langsung muncul setelah mengonsumsi pemicu, ada juga yang baru terlihat beberapa jam kemudian. Orang tua harus jeli melihat perubahan pada anaknya,” kata Molly.

Acara jelang World Allergy Week 2026 yang diselenggarakan bersama Sarihusada ini menjadi momentum untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap alergi pada anak. World Allergy Week sendiri diperingati setiap tahun pada minggu kedua bulan Juni.

Dr. Ray Basrowi, peneliti yang juga praktisi kesehatan, menjelaskan puncak peringatan World Allergy Week tahun ini akan diadakan di Bali pada 12-14 Juni 2026, bertepatan dengan Kongres Nasional PERALMUNI (Perhimpunan Ahli Alergi Imunologi Indonesia).

Ini jadi ajang edukasi massal, karena alergi di Indonesia masih dianggap sepele padahal angkanya sangat besar,” ujarnya.

Para orang tua diimbau untuk lebih peka terhadap gejala alergi pada anak. Jika anak menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Penanganan dini dapat mencegah komplikasi lebih lanjut dan meningkatkan kualitas hidup anak.

(*/dbs)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

More like this

FDA AS Setujui 6 Sistem Pencitraan Siemens Bertenaga AI,...

Erlangen, Jerman, ELrolumNews – Raksasa teknologi kesehatan asal Jerman, Siemens Healthineers , mengumumkan bahwa otoritas kesehatan Amerika Serikat, Food and Drug...

HISTORIS! Indonesia Jadi Tuan Rumah Kongres Pengobatan Regeneratif Asia...

Denpasar, Bali, ElrolumNews – Indonesia menorehkan sejarah baru dalam dunia kesehatan global. Indonesia Society for Regenerative Medicine (INASRM) secara resmi...

Oura Ring 5 Resmi Meluncur! Cincin Kesehatan Paling Canggih...

San Francisco, ElrolumNews – Dunia teknologi kesehatan wearable kembali diguncang. Perusahaan teknologi kesehatan asal Finlandia, Oura, secara resmi meluncurkan...

More

Recomended

Read More