Magelang, ElrolumNews – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan terus menggencarkan program deteksi dini terhadap potensi penyakit kronis. Hingga 16 Mei 2026, capaian skrining kesehatan telah mencapai 10,4 juta peserta, melampaui target tahun ini yang sebesar 6,6 juta orang .
Deputi Direksi Wilayah VI BPJS Kesehatan, Rahmad Asri Ritonga, mengatakan langkah akselerasi tersebut selain untuk deteksi dini potensi penyakit kronis, juga untuk menekan pembengkakan biaya pelayanan kesehatan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Jadi hasil dari skrining ada yang memiliki risiko kesehatan dan tidak memiliki risiko kesehatan,” katanya di Magelang, Rabu (10/6/2026) .
Dari total capaian skrining tersebut, tercatat 4.967.525 peserta atau 49,46 persen terdeteksi memiliki risiko kesehatan. Angka ini menunjukkan bahwa hampir separuh dari peserta yang diskrining memiliki potensi mengidap penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, hingga gagal ginjal .
BPJS Kesehatan menjelaskan bahwa skrining ini mencakup deteksi dini terhadap 14 jenis penyakit kronis, antara lain diabetes melitus, hipertensi, stroke, penyakit jantung, tuberkulosis (TBC), anemia pada remaja putri, PPOK, thalasemia, hepatitis B dan C, serta beberapa jenis kanker seperti kanker paru, kanker usus, dan kanker payudara .
Meski capaian skrining melampaui target, tindak lanjut peserta ke fasilitas kesehatan masih menjadi tantangan besar. Rahmad mengungkapkan bahwa baru 2.284.456 peserta berisiko atau 45,99 persen yang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) .
Angka tersebut masih berada jauh di bawah target ideal nasional yang ditetapkan sebesar 75 persen. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak peserta yang terdeteksi berisiko namun tidak melanjutkan dengan pemeriksaan lebih lanjut.
Untuk mengoptimalkan angka kehadiran, BPJS Kesehatan kini menerapkan sistem pengingat digital berkala berupa WhatsApp Blast langsung ke gawai peserta yang terdeteksi berisiko. Pengingat ini akan dikirim secara berkala untuk mendorong peserta segera memeriksakan diri ke FKTP terdekat .
Selain penyakit fisik, Rahmad juga menyoroti tren peningkatan gangguan kesehatan mental di kalangan generasi muda produktif. Berdasarkan hasil pemantauan, sekitar 40 persen peserta terindikasi mengalami tekanan psikologis .
Ia menegaskan bahwa seluruh penanganan kesehatan mental ditanggung penuh oleh program JKN, mulai dari layanan psikolog di FKTP hingga rujukan ke dokter spesialis jiwa di rumah sakit .
BPJS Kesehatan telah mengembangkan skrining kesehatan mental berbasis digital yang dapat diakses melalui website BPJS Kesehatan dengan 20 pertanyaan. Pengembangannya mengacu pada self-reporting questionnaire-20 (SQR-20) yang dikembangkan oleh WHO .
Hasil skrining kesehatan mental menghasilkan skor antara 1 hingga 20. Jika peserta menjawab ‘Ya’ pada 8–20 pertanyaan, maka berpotensi mengalami gangguan mental dan perlu mendapatkan layanan lanjutan .
Rahmad menambahkan bahwa secara nasional, hampir 60 juta penduduk Indonesia telah melakukan skrining riwayat kesehatan sepanjang tahun 2025. Masyarakat diimbau untuk memperbarui data kesehatan satu kali dalam setahun karena skrining ini wajib dilakukan oleh seluruh peserta JKN berusia 15 tahun ke atas .
Peserta dapat melakukan skrining secara mandiri melalui beberapa saluran resmi: aplikasi Mobile JKN, layanan WhatsApp PANDAWA di nomor 0811-8165-165, website resmi BPJS Kesehatan, atau dengan datang langsung ke FKTP tempat peserta terdaftar .
BPJS Kesehatan memberikan pengecualian bahwa seluruh jenis pelayanan medis akibat tindakan upaya bunuh diri tidak masuk dalam daftar kompensasi yang dijamin JKN secara nasional .
Kebijakan ini menjadi catatan penting bagi peserta JKN dan keluarganya untuk lebih memperhatikan kesehatan mental sejak dini sebelum kondisi semakin parah.
(*/dbs)






