Tidur Bukan Sekadar Istirahat! Gen Z Kini Berlomba “Sleepmaxxing” Demi Tidur Terbaik, Mulai dari Sleepy Girl Mocktail hingga Mouth Taping!

Jakarta, ElrolumNews – Jika dulu generasi muda bangga dengan slogan “work hard, sleep less”, kini paradigma itu berbalik 180 derajat. Di tahun 2026, tidur bukan lagi sekadar aktivitas pasif, melainkan sebuah “proyek” yang dioptimalkan secara serius melalui tren gaya hidup baru bernama Sleepmaxxing.

Tagar #Sleepmaxxing telah merajai platform media sosial seperti TikTok dan Instagram. Komunitas wellness global hingga generasi Z kini berlomba-lomba memamerkan rutinitas malam yang kompleks demi mendapatkan tidur dengan kualitas setinggi mungkin .

Istilah sleepmaxxing berasal dari budaya internet suffix “-maxxing” yang berarti memaksimalkan suatu aspek kehidupan . Sleepmaxxing adalah praktik mengoptimalkan kualitas dan durasi tidur melalui kombinasi rutinitas malam yang ketat, manipulasi lingkungan kamar, konsumsi suplemen, hingga penggunaan teknologi pendukung .

Berbeda dengan sleep biohacking lama yang cenderung menggunakan teknologi rumit dan mahal, sleepmaxxing modern lebih fokus pada pembentukan kebiasaan natural yang konsisten agar tubuh masuk ke fase istirahat terdalam secara optimal .

Meningkatnya tren ini dipicu oleh kesadaran kolektif bahwa kualitas tidur berdampak langsung pada performa siang hari. Kurang tidur terbukti menurunkan fokus, merusak kestabilan emosi, hingga mengganggu metabolisme tubuh .

“Tidur yang berkualitas berdampak signifikan terhadap fungsi otak, sistem kekebalan tubuh, dan keseimbangan hormon,” ujar Dr. Andrew Huberman, Ahli Saraf dari Stanford University .

Tren ini juga didukung oleh meningkatnya kesadaran Gen Z terhadap dampak kurang tidur bagi kesehatan mental dan produktivitas . Penelitian berjudul Modern-Day Contributors to Sleep Disturbances in Generation Z mengungkapkan Gen Z termasuk kelompok yang paling rentan mengalami gangguan tidur akibat penggunaan gawai dan media sosial yang tinggi—bahkan survei menyebut sekitar 93 persen Gen Z sering tidur larut karena penggunaan ponsel .

Para pelaku sleepmaxxing biasanya membangun “stack” atau tumpukan kebiasaan malam hari. Beberapa metode yang paling populer di antaranya :

  • Kontrol Suhu dan Cahaya Kamar: Menjaga kamar tetap sejuk di suhu ideal 16–18°C, memasang tirai blackout, dan menggunakan lampu tidur bernuansa hangat (warm tone).

  • Sleepy Girl Mocktail: Ramuan viral kombinasi jus ceri asam (tart cherry juice) yang kaya melatonin alami, magnesium bubuk untuk relaksasi saraf, dan soda prebiotik .

  • Sanitasi Digital: Mematikan atau menjauhkan ponsel pintar setidaknya satu jam sebelum tidur, atau menggunakan kacamata antiradiasi (blue light glasses) .

  • Mouth Taping & Weighted Blanket: Menempelkan plester khusus medis di mulut untuk membiasakan bernapas lewat hidung (mencegah dengkur), serta menggunakan selimut berpemberat untuk meredakan kecemasan .

Meski berniat baik, para pakar kesehatan mengingatkan agar masyarakat tidak terobsesi secara berlebihan pada metrik tidur yang sempurna .

Terlalu sering memeriksa data dari sleep tracker (smartwatch/smart ring) justru bisa memicu kondisi psikologis baru yang disebut orthosomnia, yaitu kecemasan atau insomnia yang disebabkan oleh obsesi berlebihan untuk mendapatkan tidur yang “sempurna” .

“We should be careful not to shift the focus from wellness to purchasing more and more products,” ujar Carleara Weiss, sleep science advisor .

Penelitian menemukan bahwa hingga 14 persen pengguna sleep tracker menunjukkan tanda-tanda orthosomnia, yang memiliki kemiripan dengan orthorexia (obsesi makan sehat) dan kecanduan olahraga .

Para ahli juga memperingatkan bahwa metode ekstrem seperti mouth taping tanpa pengawasan dokter bisa berbahaya bagi penderita sleep apnea (gangguan napas saat tidur) . Seorang dokter TikTok, Doctor Rizwan, menyebut mouth taping berpotensi membahayakan bagi penderita sleep apnea obstruktif, central sleep apnea, atau deviasi nasal .

Sleepmaxxing adalah langkah awal yang sangat baik untuk mengembalikan fokus masyarakat pada pentingnya istirahat. Namun, kuncinya tetap berada pada konsistensi kebiasaan dasar (seperti jadwal tidur-bangun yang sama setiap hari), bukan pada tumpukan produk atau gadget mahal yang digunakan .

Penelitian terbaru di PLOS Biology menemukan bahwa bermimpi sendiri mungkin lebih menentukan perasaan “nyenyak” daripada tahap tidur yang ditetapkan oleh pelacak . Yang benar-benar membantu justru kebiasaan yang sudah diajarkan nenek moyang kita: tidur dan bangun di waktu yang sama, hindari layar, serta tidur di ruangan yang gelap dan sejuk.

(*/fvs)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Dijual Rumah - Nego langsung dengan pemilik-Tanpa Perantara

Rumah di Mountain view residen blok c1 no 9 paniki bawah kota manado - Asri, lokasi strategis dekat bandara, dekat pusat bisnis -Nego langsung dengan pemilik - tanpa perantara - SHM - Luas bangunan 125m2, luas tanah 330 m2, 4 kamar, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga, air perumahan, listrik 5500 watt, carport, security 24/7 - yang berminat bisa menghubungi:
Pemilik: wa: 0811439028

More like this

Bosan Olahraga Lama? Tren “Movement Snacks” Jadi Solusi Anak...

Jakarta, ELrolumNews – Generasi kini sedang ramai membicarakan cara baru untuk tetap aktif yang tidak memerlukan waktu berjam-jam...

Bukan Lari Kencang! Tren “Zone 2 Cardio” Digandrungi Gen...

Jakarta, Elrolumnews – Di tengah gempuran tren olahraga ekstrem seperti HIIT (High Intensity Interval Training) dan CrossFit, sebuah...

Bukan Tas Mewah atau Mobil Sport! Tren Kebugaran “Muscle...

Jakarta, ElrolumNews – Di tahun 2026, definisi “kemewahan” dan “status sosial” mengalami pergeseran yang cukup menarik. Jika dulu...

More

Recomended

Read More