Harga Minyak Naik Tipis di US$79,48, Pasar Cermati Negosiasi AS-Iran dan Ultimatum Trump! Brent Turun 20% dari Puncak US$100

Jakarta, ElrolumNews — Harga minyak dunia bergerak naik tipis pada perdagangan Rabu (5/8) pagi, setelah mengalami penurunan tajam selama dua hari berturut-turut . Pelaku pasar kini mencermati perkembangan upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik AS-Iran dan memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz yang sempat terblokade.

Mengutip data Refinitiv, harga minyak mentah Brent (LCOc1) berada di **US$79,48 per barel**, naik tipis dibanding penutupan Selasa di US$79,36 per barel . Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) (CLc1) diperdagangkan di **US$75,89 per barel**, menguat 0,16 persen dari posisi penutupan sebelumnya di US$75,77 per barel.

Pergerakan stabil ini terjadi setelah harga minyak mengalami koreksi tajam pada Selasa. Brent ditutup merosot 5,3 persen ke US$79,36 per barel, level terendah sejak 13 Juli, sementara WTI turun 5,7 persen menjadi US$75,77 per barel.

- Advertisement -

Aksi jual dipicu pernyataan pejabat AS dan Qatar yang mengindikasikan adanya kemajuan dalam pembicaraan terkait Iran . Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut AS dan Iran berpotensi mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz pada Selasa atau Rabu (5/8) waktu setempat.

“Kami sedang melakukan pembicaraan dengan pihak Iran. Ada kemungkinan kami dapat mencapai kesepakatan hari ini atau besok (Rabu) untuk membuka Selat Hormuz dan bergerak menuju situasi yang lebih normal dalam konflik ini,” kata Bessent kepada CNBC .

Terkait kemungkinan Iran diizinkan menarik tarif tol di jalur perairan tersebut, Bessent menegaskan perjanjian itu akan menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump juga menyatakan bahwa Iran menghadapi “kesempatan terakhir” untuk mencapai kesepakatan dengan Washington . Trump mengklaim negosiasi telah berlangsung atas permintaan Iran, dengan dukungan dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.

“Ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk menandatangani dokumen yang baik,” kata Trump di Gedung Putih . “Saya ingin memberi mereka setiap kesempatan terakhir sebelum ‘decapitation’,” tambahnya.

Trump menyebut pembukaan Selat Hormuz sebagai “fase pertama” dan diskusi tentang program nuklir Iran sebagai “fase kedua”.

Namun, Iran segera membantah informasi tersebut. Jurubicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan hingga kini belum ada perundingan langsung dengan Washington.

“Untuk menghindari kesalahpahaman, penting untuk memperjelas apa yang sedang dinegosiasikan dan dengan siapa. Kami tidak sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat saat ini,” kata Baghaei.

Ia menjelaskan bahwa negosiasi Iran saat ini dilakukan dengan Oman dan berfokus pada pemahaman tentang jalur yang akan memastikan pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz.

Sebelum koreksi tajam pekan ini, harga minyak sempat melonjak hingga menembus US$100,69 per barel untuk Brent pada 23 Juli . Namun, dalam waktu kurang dari dua pekan, Brent telah terkoreksi lebih dari 20 persen hingga berada di kisaran US$79 per barel, mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap risiko pasokan global.

Goldman Sachs masih memperkirakan Brent akan bergerak dalam kisaran US$80-90 per barel sampai ada kepastian mengenai kesepakatan baru antara AS dan Iran atau terjadi eskalasi konflik yang lebih besar.

(cnbc/fvs)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

More like this

Perry Warjiyo Resmi Mundur dari Gubernur BI karena Alasan...

Jakarta, Elrolumnews — Kabar mengejutkan datang dari Bank Indonesia. Gubernur Perry Warjiyo secara resmi mengundurkan diri dari...

Harga Beras Masih Bertahan di Rp15.499 per Kg, Bapanas:...

Jakarta, elrolumNews – Harga beras di tingkat konsumen masih bertahan di level tinggi pada pekan kedua Juli 2026....

Harga Minyak Kembali Naik di Awal Juli! Iran Tolak...

Singapore, ElrolumNews – Harga minyak dunia kembali bergejolak di awal bulan Juli 2026. Pada perdagangan Rabu (1/7/2026), harga...

More

Recomended

Read More