Washington DC, KomentarNews – Gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran kembali diuji. Sebuah helikopter serang AH-64 Apache milik Angkatan Darat AS ditembak jatuh di dekat Selat Hormuz pada Senin (8/6/2026), memicu kemarahan Presiden Donald Trump .
Menurut laporan CNN, helikopter tersebut ditembak jatuh oleh drone Shahed buatan Iran. Insiden ini terjadi di tengah negosiasi alot mengenai program nuklir Iran yang menurut Wakil Presiden JD Vance berada di tahap akhir .
Presiden Trump langsung merespons dengan nada keras, mengancam akan membalas serangan tersebut. “Mereka sebaiknya berhati-hati,” ujar Trump, dikutip dari RBC-Ukraine .
Ancaman ini kontras dengan nada optimistis yang ditunjukkan Trump sebelumnya, di mana ia menyebut kesepakatan bisa tercapai dalam “dua atau tiga hari.” Namun, setelah insiden Apache, prospek kesepakatan damai jangka pendek menjadi semakin tidak pasti.
Iran mengklaim bahwa mereka hanya membela diri dan bahwa Apache tersebut melanggar wilayah udara mereka. Namun, AS menolak klaim ini, bersikeras bahwa pesawat tersebut berada di wilayah internasional dalam misi rutin untuk mengamankan Selat Hormuz.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa meskipun terdapat kemajuan diplomatik, ketegangan militer di kawasan Timur Tengah masih sangat tinggi dan dapat sewaktu-waktu memicu eskalasi yang lebih besar.
(rbcukraine**)






