Jakarta, Elrolumnews — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Kamis (17/9/2026). Rupiah melemah 43 poin atau 0,24% ke level Rp17.739 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp17.696 .
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September mendatang. Peluang kenaikan suku bunga mencapai 88% .
“Pasar masih mencermati arah kebijakan The Fed. Ekspektasi kenaikan suku bunga yang tinggi mendorong penguatan dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ujar Ibrahim .
Selain faktor The Fed, pelemahan rupiah juga dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia imbas ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak Brent berada di level US$107 per barel .
“Ketegangan di Timur Tengah yang membuat jalur distribusi minyak makin terbatas memicu sentimen negatif pasar. Ini meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk impor, sehingga menambah tekanan pada rupiah,” jelas Ibrahim .
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif pada pembukaan perdagangan. IHSG dibuka menguat tipis sebelum berbalik ke zona merah .
Pelaku pasar masih mencermati perkembangan global, termasuk keputusan The Fed dan data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini .
Ibrahim memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah dalam jangka pendek, tergantung pada keputusan The Fed dan perkembangan konflik di Timur Tengah .
“Jika The Fed tidak menaikkan suku bunga dan ketegangan di Timur Tengah mereda, rupiah berpeluang menguat kembali ke kisaran Rp17.600-Rp17.700 per dolar AS,” pungkasnya .
(fvs)





