Washington, ElrolumNews — Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00% pada Rabu (16/9/2026). Ini merupakan kenaikan pertama sejak 2023.
Keputusan diambil di tengah lonjakan inflasi AS yang mencapai 3,4% pada Agustus, dipicu kenaikan harga minyak dan bahan bakar sejak perang dengan Iran meletus. Ketua Fed Kevin Warsh menyatakan inflasi AS “telah berada di level terlalu tinggi untuk waktu yang terlalu lama” dan menegaskan stabilitas harga adalah “fondasi pertumbuhan ekonomi.”
Kenaikan suku bunga ini dipicu oleh beberapa faktor utama:
Lonjakan harga energi akibat konflik AS-Iran yang membuat harga minyak melonjak di atas US$100 per barel
Tekanan inflasi yang meluas ke sektor lain, termasuk pangan dan jasa
Ketidakpastian geopolitik yang meningkatkan risiko kenaikan harga jangka panjang
Pasar tenaga kerja yang tetap ketat dengan tingkat pengangguran rendah
Pasar keuangan global merespons keputusan The Fed dengan hati-hati. Indeks dolar AS menguat, sementara harga emas dan obligasi pemerintah AS mengalami tekanan. Pasar saham AS bergerak fluktuatif sebelum akhirnya ditutup mixed.
Di Asia, mata uang negara berkembang termasuk rupiah mengalami tekanan akibat penguatan dolar AS. Namun, Bank Indonesia memastikan akan terus menjaga stabilitas rupiah.
The Fed mengisyaratkan akan terus memantau perkembangan inflasi dan kondisi ekonomi sebelum mengambil keputusan lebih lanjut. Pelaku pasar memperkirakan masih ada kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan pada pertemuan berikutnya jika inflasi tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan.
(fvs)





