Jakarta, ELrolumNews – Pasar keuangan Indonesia menunjukkan performa positif pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup di zona hijau, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga ikut menguat. Para analis menilai bahwa salah satu faktor pendorongnya adalah meredanya spekulasi mengenai reshuffle kabinet, khususnya isu pergantian Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG berhasil ditutup naik 2,10 persen atau 112 poin ke level 5.454,58. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan sore hari juga tercatat menguat ke kisaran Rp18.100 per dolar AS, pulih setelah sempat menyentuh titik terendah intraday di Rp18.234 .
Meredanya isu reshuffle menjadi angin segar bagi investor yang sebelumnya diliputi kekhawatiran akan adanya perubahan mendadak pada arah kebijakan fiskal pemerintah. “Rumor pergantian menteri keuangan sempat memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah. Ketika isu itu dibantah, sebagian investor kembali percaya bahwa tidak akan ada perubahan mendadak pada kebijakan ekonomi,” ujar Ekonom STIE YKPN Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (9/6/2026) .
Ia menjelaskan bahwa investor cenderung tidak menyukai ketidakpastian yang berkaitan dengan kebijakan ekonomi. Dengan tidak adanya pergantian mendadak di posisi strategis Menteri Keuangan, pasar menilai kebijakan ekonomi dapat berjalan lebih konsisten. Koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia yang dinilai penting dalam menjaga stabilitas rupiah serta pasar obligasi pun dipercaya akan tetap solid .
Selain faktor politik, penguatan pasar juga dipengaruhi oleh aksi beli setelah tekanan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya. “Ketika sentimen negatif mulai mereda, sebagian investor memanfaatkan kondisi harga saham yang telah turun untuk melakukan aksi beli atau buy on weakness. Langkah tersebut kemudian membantu mendorong rebound IHSG,” tambah Aditya .
Meski mengakui bahwa meredanya rumor reshuffle menjadi katalis positif, Aditya mengingatkan bahwa pergerakan pasar keuangan dipengaruhi oleh banyak faktor. Beberapa di antaranya adalah arus modal asing, kebijakan suku bunga, kondisi ekonomi global, sentimen terhadap dolar AS, serta ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia .
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menekankan bahwa penguatan IHSG tidak lepas dari persepsi investor terhadap prospek ekonomi dan stabilitas kebijakan fiskal nasional. “Yang utama, jika aliran modal besar masuk ke Indonesia dan devisa negara banyak, maka nilai rupiah tidak terdepresiasi,” jelas Esther .
Ia memaparkan ada sejumlah syarat mendasar yang menjadi pertimbangan investor global, seperti kepastian hukum, prospek ekonomi pasar yang baik, ketersediaan bahan baku, ekosistem pendukung, integrasi rantai pasok global, infrastruktur energi yang memadai, hingga harmonisasi peraturan antar instansi. Stabilitas di level kementerian memberi sinyal positif karena mengurangi ketidakpastian kebijakan jangka pendek .
IHSG sebelumnya sempat mengalami penurunan cukup tajam dan nilai tukar rupiah juga melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Pergerakan indeks saham dan rupiah diharapkan dapat terus membaik seiring dengan penguatan fundamental ekonomi dan koordinasi kebijakan yang solid antara pemerintah dan bank sentral.
(*/dbs)






